Penulis : Khairil Anas
Dari Tanah Sangalla Menuju Tepi Danau
Tertulis dalam naskah kuno Lontara, Mula Ri Timpakna Tana’e Ri Sidenreng, catatan sejarah yang menjelaskan tentang awal mula nama Sidenreng yang kemudian menjadi kerajaan dan akhirnya kini menjadi salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan ini.
Awal kisah
Bermula dari sebuah daerah pegunungan yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Tana Toraja, tepatnya daerah Kecamatan Sangalla, hiduplah satu keluarga. La Maddaremmeng, adalah saudara tua dalam keluarga itu, yang sekaligus bertindak selaku penguasa wilayah.
Di antara keluarga besar penguasa itu, ada delapan orang bersaudara yang diperlakukan tidak adil oleh La Maddaremmeng. Karena terus ditekan dan haknya diabaikan, mereka akhirnya sepakat meninggalkan Sangalla.
Di hari yang telah disepakati, rombongan kecil berjumlah 8 orang dipimpin oleh La Pasampoi dan La Pababbari itu berangkat mencari tempat baru untuk hidup tenang dan aman.
Tidak ada catatan dalam tulisan kuno yang menjelaskan kapan ke-8 bersaudara itu melakukan perjalanan meninggalkan Sangalla, namun diperkirakan terjadi pada awal abad ke‑14, atau sebelum tahun 1344, berdasarkan tahun yang diakui sebagai permulaan terbentuknya kerajaan, di wilayah tempat menetapnya ke-8 orang bersaudara itu.
Saat itu Kerajaan Sawitto sudah berdiri, sedangkan kawasan tempat mereka tiba masih berupa dataran luas yang belum bersatu dalam satu kekuasaan.
Dalam perjalanan menembus semak belukar dan jalan yang sulit, kedelapan saudara itu berjalan saling bergandengan tangan dan saling menguatkan. Dari perilaku itulah lahir sebutan awal, Sirénréng‑renréng, yang berarti saling berpegangan atau beriringan. Lama‑kelamaan bunyi itu berubah menjadi Sidenreng.
Ketika mencapai tepi danau yang luas dan lembah yang terbentang, mereka mendapati tanah yang sangat subur dengan air yang melimpah, mengalir dari sungai‑sungai kecil di sekitarnya. Kondisi alam yang menguntungkan inilah yang membuat mereka memutuskan menetap dan membuka pemukiman baru di tempat itu, tercatat dalam naskah kuno Lontara, Mula Ri Timpakna Tana’e Ri Sidenreng.
Dari Pemukiman Menjadi Bentuk Kerajaan
Perlu diketahui, kedelapan saudara itu bukan perintis berdirinya Kerajaan di tempat mereka menetap. Mereka hanya berperan sebagai perintis terbukanya wilayah di Sidenreng dan kemudian membentuk kelompok-kelompok kecil.
Mereka mengatur kehidupan menurut kebiasaan dan pengetahuan adat, belum ada satu kekuasaan terpusat yang menyatukan kelompok-kelompok itu. Mereka berdiri sendiri‑sendiri, masing‑masing dipimpin tetua atau pemimpin kecil.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak pendatang yang datang menetap.
Muncullah pemikiran di antara mereka untuk menetapkan pemimpin yang mampu mengatur berbagai hal yang menyangkut kebutuhan mereka, seperti pengaturan sumber air, tata kelola lahan pertanian, serta menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara mereka, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan bersama secara teratur.Sekitar tahun 1344, disepakatilah terbentuknya sebuah tatanan pemerintahan yang utuh dan diakui sebagai Kerajaan Sidenreng. Berikut silsilah penguasa bergelar Addatuang, yang pernah menjadi raja Sidenreng, adalah;
1. Manurungnge ri Bululoa – Raja Pertama, sejak sekitar tahun 1344
2. La Patau
3. La Toseng
4. La Pammase
5. La Sali
6. La Pasere
7. La Patiro
8. La Pabbere
9. La Tenri
10. La Mappajung
11. La Sukku
12. La Pakka
13. La Patiroi – Raja ke‑13, sezaman dengan Nene Mallomo
Perlu dibedakan dengan jelas: Sawitto dan Sidenreng adalah dua kerajaan yang berbeda. Sawitto berdiri lebih awal, berpusat di kawasan yang kini masuk wilayah Pinrang. Sedangkan Sidenreng berpusat di sekitar lembah danau dan sungai, berangsur‑angsur berkembang menjadi kuat dan kemudian masuk ke dalam persekutuan besar bernama Ajatappareng.Tokoh seperti Bongga Minanga dan Sambo Langi yang disebut dalam beberapa tuturan, bukan pendiri kerajaan Sawitto, melainkan tokoh‑tokoh pemuka atau penasihat masa awal saja.
Masa Berkembang dan Tokoh‑Tokoh Penting
Di antara silsilah raja‑raja Sidenreng yang cukup terkenal dan berhasil membawa kejayaan pada kerajaan Sidenreng adalah, La Patiroi, yakni Addatuang ke‑13. Ia berkuasa sekitar awal abad ke‑16, saat sistem hukum dan tata pemerintahan semakin matang. Pada masa inilah muncul tokoh besar bernama La Pagala, yang lebih dikenal rakyat sebagai Nene Mallomo. Ia bukan raja, melainkan penasihat utama sekaligus hakim besar kerajaan.
Ajaran‑ajaran yang disusun Nene Mallomo menjadi landasan kuat. Di saat itu keadilan berlaku sama bagi semua orang, tanpa memandang kedudukan atau hubungan darah. Hal ini terlihat nyata dalam kisah terkenal ketika Nene' Mallomo harus menghukum mati anak kandungnya sendiri yang terbukti melanggar aturan.
Raja La Patiroi mendukung tegaknya kebenaran tersebut, sehingga nama Sidenreng makin dikenal sebagai wilayah yang menjunjung tinggi hukum dan keadilan.
Warisan yang Tetap Terjaga
Bermula dengan datangnya 8 bersaudara yang saling bergandengan tangan dari Sangalla, berkembang menjadi pemukiman subur, hingga tumbuh menjadi kerajaan yang teratur dan berdaulat.
Nama Sidenreng bukan sekadar sebutan tempat, melainkan kenangan perjalanan, semangat bersatu, dan kebijakan menjaga keseimbangan hidup.
Hingga kini jejak sejarah itu masih terbaca dalam naskah‑naskah Lontara, tersimpan di sisa bangunan Saoraja Sawitto, serta terus hidup dalam ingatan masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang dan sekitarnya. (ttp)
Baca ki Juga,
Balla Lompoa Barombong dan Balla Lompoa Sungguminasa: Jejak Sejarah dan Perbedaannya
Lempu’ dan Getteng: Pilar Kejujuran dan Karakter Pejabat Asal Bugis
Persekutuan Kerajaan Kembar Gowa‑Tallo, Dua Raja Satu Rakyat



Komentar