Balla Lompoa Barombong dan Balla Lompoa Sungguminasa: Jejak Sejarah dan Perbedaannya

Penulis: Khairil Anas 

Perjalanan melintasi kawasan pesisir selatan Kota Makassar suatu sore, tanpa sengaja roda kendaraan membawa saya menyusuri jalan yang bersejarah, Jalan Perjanjian Bongaya, Barombong. 
Balla Lompoa Barombong


Angin laut yang berhembus lembut seolah membawa aroma kenangan masa lampau, terlebih ketika pandangan saya tertahan pada satu bangunan tua yang berdiri kokoh di tepi jalan itu. Berbentuk rumah panggung tradisional dengan tiang kayu yang tampak kokoh meski termakan usia serta atap yang anggun, bangunan itu tampak berbeda dari rumah-rumah penduduk di sekitarnya. Rasa penasaran pun muncul, mendorong saya untuk berhenti sejenak dan melangkah mendekat.
Saat singgah dan menanyakan asal-usul bangunan tersebut kepada seorang juru kunci, Daeng Bau', barulah saya mendengar penjelasan sekaligus membuat rasa kagum semakin tumbuh. Ia menyebutkan bahwa bangunan rumah panggung bergaya Bugis-Makassar itu bukan rumah biasa, juga tidak ditempati sebagaimana rumah penduduk di sekitarnya. 
"Ini Balla Lompoa Barombong, namanya. bukan rumah biasa, tapi rumah yang sama dengan yang di Sungguminasa, istana raja Gowa,"jelas Daeng Bau'. 

Menurutnya, rumah bersejarah itu menyimpan peristiwa penting yang pernah mengubah arah perjalanan sejarah Kerajaan Gowa-Tallo dan wilayah Sulawesi Selatan pada masa silam.

Balla Lompoa Barombong dan Balla Lompoa Sungguminasa

To The Point, GOWA - Dalam khazanah budaya Makassar, istilah Balla Lompoa secara harfiah berarti “rumah besar” atau “rumah kebesaran”, namun maknanya melampaui sekadar bangunan fisik. Ia merujuk pada kediaman resmi raja, pusat pemerintahan, serta simbol kedaulatan dan identitas kekuasaan kerajaan di Sulawesi Selatan. 

Dua Balla Lompoa yang paling sering dibahas dan memiliki peran sejarah berbeda adalah yang berada di Barombong, Kota Makassar, dan Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Meskipun sama-sama menyandang nama yang sama, keduanya memiliki latar belakang, fungsi, dan makna sejarah yang sangat berbeda.


Balla Lompoa di Barombong


Balla Lompoa Barombong terletak di Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, persis di wilayah pesisir selatan Kota Makassar. Bangunan ini erat kaitannya dengan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Nusantara, yakni Perjanjian Bungaya tahun 1667. Pada masa itu, Barombong menjadi medan pertempuran dan lokasi perundingan antara Sultan Hasanuddin, Raja Gowa yang dijuluki “Ayam Jantan dari Timur”, dan Cornelis Speelman mewakili VOC Belanda.

Secara arsitektur, Balla Lompoa Barombong lebih sederhana dibandingkan istana Balla Lompoa. Bangunan ini awalnya didirikan sebagai tempat peristirahatan sekaligus pos pengamatan pertahanan kerajaan Gowa yang menghadap langsung ke Selat Makassar. Berbentuk rumah panggung tradisional dengan tiang kayu ulin dan atap sirap, strukturnya disesuaikan untuk kebutuhan pertahanan dan tempat pertemuan darurat. Tidak memiliki kemegahan istana pusat, namun posisinya sangat strategis mengawasi jalur lalu lintas laut dan pertahanan ibu kota kerajaan.
Fungsi utamanya bukan sebagai tempat tinggal raja tetap, melainkan sebagai pusat komando sementara dan tempat penyelenggaraan perjanjian damai. Setelah Perjanjian Bungaya ditandatangani, Balla Lompoa ini mengalami kemunduran fungsinya.

"Bukan mi bangunan aslinya ini, sudah mi diperbaiki karena kayunya sudah lapuk, sisa satu tiang itu yang asli." jelas Daeng Bau' dengan logat Bugis sambil menunjuk satu tiang asli yang diikat di sisi dinding sebelah kiri dari bangunan. Sebagian besar dari bangunan situs sejarah ini telah rusak, tersisa replika tiruannya yang kini dijaga pemerintah daerah. di bagian dalam bangunan ini terdapat sebuah kamar dengan ranjang kayu, lengkap dengan kelambunya, tidak ada koleksi lain, sebagaimana kelengkapan benda pusaka kerajaan yang biasanya disimpan di Balla Lompoa. 

Bersama Daeng Bau' di Kolong Balla Lompoa Barombong

Balla Lompoa Barombong ini menjadi saksi bisu Perjanjian Bungaya yang dilaksanakan pada 18 November 1667, di tepi sungai Jeneberang yang mengalir tidak jauh dari Balla Lompoa ini berada. Perjanjian yang dilaksanakan antara Kerajaan Gowa yang diwakili Sultan Hasanuddin dengan pihak VOC Belanda yang diwakili Laksamana Cornelis Speelman, sebagai tanda berakhirnya perang.

Berbagai perubahan kemajuan terjadi di sekitar Balla Lompoa Barombong selama ratusan tahun silih berganti sejak berakhirnya kekuasaan dan kejayaan maritim Gowa-Tallo.

Balla Lompoa di Sungguminasa


Berbeda dengan Barombong, Balla Lompoa ri Sungguminasa adalah istana resmi terakhir Kerajaan Gowa yang dibangun pada tahun 1936, masa pemerintahan Raja Gowa ke-35, I Mangngi-mangngi Daeng Matutu bergelar Sultan Muhammad Tahir Muhibuddin. Lokasinya berada di tengah kota Sungguminasa, sekitar 12 km dari pusat Makassar, di atas lahan seluas 3 hektare.
Bangunan ini dibangun dengan penuh makna simbolis sebagai bentuk penegasan identitas, sekaligus penolakan implisit terhadap pasal Perjanjian Bungaya yang melarang pendirian bangunan megah tanpa izin Belanda. Memiliki dimensi panjang 52 meter dan lebar 20 meter, seluruhnya terbuat dari kayu ulin pilihan, berdiri di atas tiang setinggi 3 meter, dengan atap bertingkat lima (timbo silo lanta lima) yang menandakan status raja penuh. Ruangannya terbagi menjadi tiga bagian utama: ruang depan untuk menerima tamu dan sidang, ruang tengah untuk kediaman, serta ruang belakang penyimpanan pusaka.

Setelah berakhirnya sistem swapraja, istana ini diubah menjadi Museum Balla Lompoa pada tahun 1973. Di dalamnya tersimpan ratusan koleksi berharga: mahkota kerajaan, senjata tradisional, naskah lontara, pakaian kebesaran, hingga benda-benda peninggalan Sultan Hasanuddin. Hingga kini, ia menjadi pusat pelestarian budaya, tempat upacara adat, serta tujuan utama wisata sejarah dan pendidikan di Sulawesi Selatan.


Perbedaan Utama Keduanya

Berikut adalah perbedaan mendasar antara Balla Lompoa Barombong dan Sungguminasa:

Latar belakang dan Waktu Berdirinya
Barombong ada sejak abad ke-17, terkait masa peperangan dan perjanjian Bungaya. 

Sungguminasa dibangun tahun 1936 sebagai rekonstruksi simbol kejayaan.

Fungsi Asli
Barombong adalah pos pertahanan dan tempat perundingan sementara. 

Sungguminasa adalah istana resmi, kediaman raja tetap, dan pusat pemerintahan utama.

Skala dan Arsitektur
Barombong sederhana, ukuran kecil, tidak memiliki atap bertingkat lima; 

Sungguminasa megah, proporsi besar, mengikuti standar arsitektur istana penuh simbol kekuasaan.

Kondisi dan Fungsi Sekarang
Barombong hanya menjadi situs sejarah terbatas tanpa koleksi; 

Sungguminasa aktif sebagai museum lengkap, pusat budaya, dan tempat penyimpanan pusaka kerajaan.

Makna Sejarah
Barombong melambangkan titik balik kekuasaan Gowa; 

Sungguminasa melambangkan pelestarian jati diri dan warisan budaya yang masih hidup hingga kini.

Kedua tempat ini, meski berbeda fungsi dan wujudnya, sama-sama menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Makassar. Balla Lompoa Barombong mengingatkan kita pada dinamika politik dan peperangan, sedangkan Balla Lompoa Sungguminasa menjadi bukti bagaimana budaya dan identitas mampu bertahan dan dijaga turun-temurun.(ttp)

Komentar