Vila Yuliana: Sejarah Kota Kalong Watansoppeng dan Saksi Bisu Belanda

Penulis : Khairil Anas



Vila Yuliana, Masyarakat Soppeng menyebutnya sebagai Mess Tinggia
Soppeng Dimana dan Mengapa Dijuluki Kota Kalong?
Bagi yang belum tahu soppeng dimana, daerah ini merupakan sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang berpusat di Watansoppeng. Salah satu keunikan yang paling terkenal dari daerah ini adalah julukannya sebagai Kota Kalong. Disebut demikian karena di pusat kota Watansoppeng, terdapat ribuan kelelawar (kalong) yang bergelantungan di pohon-pohon kota. 

Koloni Kalong yang hidup berdampingan dengan manusia di kota Soppeng ini, telah berlangsung selama ratusan tahun lalu, dan menjadi mitos serta ikon tak terpisahkan dari sejarah.  Soppeng adalah kawasan yang sarat akan kearifan lokal. Di jantung kota inilah berdiri kokoh Vila Yuliana.

Walau usianya telah mencapai 120 tahun, namun gedung itu masih berdiri kokoh di kawasan jantung kota di kelurahan Botto, Kecamatan Lalabata, Kota Watansoppeng. Gedung itu adalah Vila Yuliana, sebuah ikon unik di kota Kalong, Watansoppeng, yang merupakan salah satu peninggalan bersejarah paling berharga dari masa pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Selatan. 
Bangunan tua berusia seabad lebih ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan saksi bisu perjalanan sejarah, akulturasi budaya, dan kisah unik yang melekat hingga kini. 

Vila yang dibangun sekitar tahun 1902–1905 atas perintah Gubernur Hindia Belanda, C.A. Kroesen ini, awalnya dirancang sebagai tempat persinggahan istimewa. Juliana sebagai nama Vila diambil dari Putri Ratu Wilhelmina, yang direncanakan berkunjung ke wilayah ini. Namun rencana tersebut batal total akibat ketidakstabilan situasi politik dan keamanan di Nusantara, sehingga sang putri tak pernah sempat menginjakkan kaki di Soppeng.

Penulis di Villa Yuliana 
Saat penulis berkunjung ke Villa ini, terlihat jelas arsitektur bangunan merupakan perpaduan antara gaya khas Eropa dengan penyesuaian iklim tropis di Indonesia.

Bangunan dibuat berlantai dua, jarak langit-langit dari lantai dibuat setinggi empat meter, jendela lebar, dan dinding tebal, selain untuk alasan keamanan, juga bertujuan agar suhu dalam ruangan tetap sejuk. 
Keunikan lain terlihat dari keramik lantai buatan tangan yang masih asli, serta sentuhan ornamen lokal yang menjadi bukti percampuran budaya Bugis dan Belanda .
Ada perpaduan antara gaya arsitektur Eropa dengan sentuhan lokal yang membuatnya tampak begitu megah di zamannya. Bagi yang tertarik menelusuri lebih dalam mengenai gaya arsitektur kuno ini, dokumentasi lengkapnya dapat dipelajari melalui [Buku Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia melalui Shopee]

Selanjutnya, mengenai Villa Yuliana, setelah gagal menjadi tempat persinggahan keluarga kerajaan Belanda, bangunan ini kemudian beralih fungsi menjadi kediaman resmi pejabat tinggi kolonial, lalu kemudian berubah menjadi kantor pemerintahan, hingga menjadi asrama tentara Belanda. 

Bangunan ini sempat terbengkalai, hingga pada tahun 2021 dilakukan pemugaran dan diresmikan sebagai Museum Vila Yuliana. Di dalamnya kini tersimpan koleksi foto, dokumen, dan benda bersejarah yang menceritakan kehidupan masyarakat Soppeng di masa lalu.


Masyarakat Soppeng sering menyebut bangunan vila ini sebagai Mess Tinggia, artinya asrama tinggi yang berada di atas bukit. Keberadaannya kini menjadi tujuan wisata edukasi, tempat belajar sejarah, serta objek foto favorit para pengunjung. 

Pemerintah daerah kabupaten Soppeng terus berupaya merawatnya agar nilai sejarah dan keindahannya tetap terjaga, dan menjadi warisan budaya yang bisa dinikmati generasi mendatang.

Bagi warga Soppeng, Vila Yuliana mengandung makna lebih dari sekadar bangunan tua. Ia menjadi pengingat bagaimana dua budaya dapat saling memengaruhi, sekaligus bukti bahwa meski dirancang untuk tujuan tertentu, akhirnya justru menjadi milik dan kebanggaan masyarakat lokal hingga hari ini.

Hingga hari ini, Vila Yuliana tetap berdiri kokoh sebagai saksi bisu sejarah Soppeng yang sangat fotogenik untuk dikunjungi. Jika Anda berencana berwisata ke sana dan ingin mengabadikan momen dengan nuansa vintage, perangkat dokumentasi yang pas adalah [Kamera Instan Fujifilm Instax Mini Resmi di Shopee]


📌 Catatan Kejujuran:

Artikel ini disajikan tanpa iklan Google AdSense — blog ini belum dimonetisasi, sehingga sepenuhnya didukung oleh semangat berbagi. Jika Anda membeli buku atau kamera melalui tautan afiliasi yang kami sediakan, sebagian kecil keuntungannya akan menjadi dukungan langsung bagi kami untuk terus menyusun, meneliti, dan menghadirkan artikel-artikel bermanfaat seperti ini. Setiap pembelian Anda adalah bentuk dukungan yang sangat berharga agar tulisan-tulisan bernilai tetap hadir dan dapat dinikmati semua orang secara bebas. Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan ini. 🤲✨

Baca ki juga, 


Komentar

Anonim mengatakan…
Alhamdulillah, saya sudah pernah berkunjung ke sana
Khairil Anas mengatakan…
Alhamdulillah, dan Terima kasih atas kunjungan anda, baik ke vila itu maupun ke blog kami.
Anonim mengatakan…
Saya juga sudah pernah ke villa itu. Posisinya di jantung kota Soppeng tapi suasananya sangat sejuk
Anonim mengatakan…
saya pernah lewat di situ,tapi belum sempat mampir
Anonim mengatakan…
saya pernah ketempat ini.... di dalamnya banyak terpajang batu batu purba