Penulis : Khairil Anas
![]() |
| Vila Yuliana, Masyarakat Soppeng menyebutnya sebagai Mess Tinggia |
Vila yang dibangun sekitar tahun 1902–1905 atas perintah Gubernur Hindia Belanda, C.A. Kroesen ini, awalnya dirancang sebagai tempat persinggahan istimewa. Juliana sebagai nama Vila diambil dari Putri Ratu Wilhelmina, yang direncanakan berkunjung ke wilayah ini. Namun rencana tersebut batal total akibat ketidakstabilan situasi politik dan keamanan di Nusantara, sehingga sang putri tak pernah sempat menginjakkan kaki di Soppeng.
![]() |
| Penulis di Villa Yuliana |
Setelah gagal menjadi tempat persinggahan keluarga kerajaan Belanda, bangunan ini kemudian beralih fungsi menjadi kediaman resmi pejabat tinggi kolonial, lalu kemudian berubah menjadi kantor pemerintahan, hingga menjadi asrama tentara Belanda.
Bangunan ini sempat terbengkalai, hingga pada tahun 2021 dilakukan pemugaran dan diresmikan sebagai Museum Vila Yuliana. Di dalamnya kini tersimpan koleksi foto, dokumen, dan benda bersejarah yang menceritakan kehidupan masyarakat Soppeng di masa lalu.
Masyarakat Soppeng sering menyebut bangunan vila ini sebagai Mess Tinggia, artinya asrama tinggi yang berada di atas bukit. Keberadaannya kini menjadi tujuan wisata edukasi, tempat belajar sejarah, serta objek foto favorit para pengunjung.Bagi warga Soppeng, Vila Yuliana mengandung makna lebih dari sekadar bangunan tua. Ia menjadi pengingat bagaimana dua budaya dapat saling memengaruhi, sekaligus bukti bahwa meski dirancang untuk tujuan tertentu, akhirnya justru menjadi milik dan kebanggaan masyarakat lokal hingga hari ini.(ttp)


Komentar