Ketika Rakyat Tidak Lagi Berduka: Sebuah Teguran yang Harus Didengar

Penulis: Khairil Anas 

Lengkapi seragam kamtibmas Anda dengan Rompi Tactical Premium pilihan kami.🔎 [Cek Harga dan Spesifikasi Rompi Tactical Premium dengan mengklik tulisan ini, atau gambar di atas]

Seringkali kita menyaksikan sesuatu yang menyayat hati sekaligus menjadi cermin pahit bagi kita bersama, ketika seseorang yang berseragam negara mengalami musibah atau kecelakaan, sakit berat, hingga meninggal dunia. Alih-alih ungkapan belasungkawa yang mengalir, justru luapan rasa lega, kepuasan, bahkan kebahagiaan yang tumpah ruah di ruang-ruang maya maupun perbincangan sehari-hari.
 
Tentu saja, kita tidak boleh serta-merta menyalahkan rakyat karena tidak berbelas kasih. Karena jauh di dalam lubuk hati mereka sesungguhnya tidak benci kepada sosok pribadi yang tertimpa kemalangan itu, bahkan sangat boleh jadi rakyat tidak mengenal siapa dia, anaknya siapa, atau suaminya siapa. Tetapi, luapan kekecewaan muncul dari amarah yang sudah lama mengendap, menumpuk, dan tidak pernah diselesaikan dengan jujur. 

Rakyat tidak lagi melihat sosok manusianya yang bernama, yang punya keluarga, yang pernah disayang. Rakyat melihat seragamnya, atributnya, lambang kekuasaan yang selama ini terasa semakin menindas, merasa di atas hukum, lupa bahwa mereka ada untuk melayani, bukan untuk dilayani. Maka ketika musibah datang, yang terkena adalah citra seluruh institusi, bukan pribadinya.
 

Yang paling menyedihkan, bahkan lembaga-lembaga yang sejauh ini tidak banyak bermasalah pun ikut terkena dampaknya. Sebutlah polisi hutan, yang selama ini jarang terdengar terlibat konflik tajam dengan masyarakat. Tugas mereka menjaga hutan, menjaga kelestarian alam, sebuah tugas yang mulia dan dekat dengan kesejahteraan rakyat. Namun ketika salah satu anggotanya mengalami musibah, rakyat pun ikut bereaksi sama. Mengapa? 

Karena bagi rakyat, seragam itu satu warna, satu kesan. Mereka tidak memilah-milah mana yang baik dan mana yang buruk. Karena yang buruk sudah merusak kepercayaan secara menyeluruh. Inilah yang disinggung dalam pepatah "Karena Nila Setitik, Merusak Susu Sebelanga."

Satu perbuatan tidak adil yang terlihat melekat pada seluruh institusi, akan merusak seluruhnya, bahkan pada mereka yang sebenarnya jujur dan tulus bekerja.
 
Inilah teguran paling keras yang bisa disampaikan rakyat kepada setiap lembaga negara, setiap pemakai seragam, setiap pelayan publik. 
Ingatlah dari mana gaji kalian berasal. 
Ingatlah siapa yang memberi makan keluarga kalian. 
Setiap rupiah yang masuk ke rekening gaji kalian, setiap fasilitas yang kalian nikmati, semuanya berasal dari keringat rakyat, dari pajak yang mereka bayar dengan susah payah. 

Rakyat, sesungguhnya tidak menuntut lebih, mereka hanya ingin diperlakukan sebagai manusia, dilayani dengan adil, tidak ditindas dengan menyalahgunakan kekuasaan. 
Rakyat tidak minta dimuliakan secara berlebihan, tapi juga tidak ingin dihinakan. Karena Rakyat bukan alat kekuasaan, tapi karena alasan adanya rakyatlah sehingga kekuasaan itu harus ada.
 
Ketika rakyat kehilangan rasa hormat kepada pejabat berseragam, itu bukan kemenangan bagi siapa pun. Itu kerugian bagi kita semua. Karena ketika kepercayaan hilang, tatanan masyarakat menjadi rapuh, dan menyebabkan setiap kebijakan dicurigai, setiap peraturan dipersoalkan, setiap niat baik diragukan. Rakyat menjadi tidak mau lagi bekerja sama, dan institusi menjadi semakin terasing dari rakyatnya. Dua pihak sama-sama kehilangan, rakyat kehilangan perlindungan dan pelayanan, institusi kehilangan kepercayaan dan dukungan.

Maka di sinilah, pentingnya kita kembali pada ajaran leluhur kita, untuk mempererat silaturahmi antar sesama, menjaga komunikasi tetap terjalin kuat. 
Mengingat pentingnya menjaga keamanan warga dan kelancaran komunikasi dan interaksi yang cepat, maka alat komunikasi adalah kuncinya. Mari tingkatkan kesiapsiagaan dengan selalu terhubung melalui jaringan HT yang andal. Klik gambar di atas atau tulisan ini, untuk melihat koleksi HT pilihan terbaik

Untuk mengembalikan kepercayaan yang hilang, maka penting untuk kita kembali memegang teguh nilai-nilai luhur yang sudah menjadi mahkota dan pondasi hidup masyarakat kita sejak zaman dahulu. Nilai-nilai Agung yang kini semakin tergerus, padahal justru di masa sulit seperti inilah ia paling dibutuhkan.
 
Di Tanah Bugis, Sulawesi Selatan, ada rangkaian warisan leluhur yang sengaja diwariskan kepada kita, agar kehidupan kita tetap luhur dan mulia. Pertama adalah Siri’ na Pacce: 

Siri’ berarti kehormatan diri. Sebuah sikap menjaga diri agar tidak melakukan hal-hal yang memalukan, tidak menyalahgunakan kekuasaan, tidak merampas hak orang lain, tidak menjadi sumber ketakutan sesama. 

Pacce berarti kepekaan hati, kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain seolah itu penderitaan sendiri, berpihak pada yang lemah, tidak membiarkan diri sendiri nyaman sementara orang lain menderita akibat perbuatan kita.


Kedua adalah Lempu na Getteng. 
Lempu berarti kejujuran yang lurus, berkata apa adanya, tidak memutarbalikkan fakta, tidak mengambil yang bukan haknya, tidak berjanji lalu mengingkari. 

Getteng berarti keteguhan pendirian, teguh pada kebenaran meski sepi pendukung, teguh pada keadilan meski merugikan diri sendiri, teguh pada tanggung jawab sampai selesai.
 

Bayangkan jika setiap pelayan rakyat memegang teguh Siri’ na Pacce dan Lempu na Getteng, maka sudah tentu:
 
- Tidak akan ada lagi yang merasa berkuasa lalu menindas yang lemah, karena Siri’ melarangnya. Karena kehormatan diri sendiri akan tercemar jika menyakiti orang lain.
​
- Tidak akan ada lagi pelayanan yang berbelit-belit dan memakan biaya di luar ketentuan, karena Lempu menuntut kejujuran yang tulus.
​
- Tidak akan ada lagi jarak yang menganga antara rakyat dan pejabat yang melayani, karena Pacce menuntut kepekaan hati dan merasakan apa yang dirasakan rakyat.
 
Dan di sisi rakyat pun, nilai-nilai ini wajib untuk tetap diberlakukan. Rakyat harus menjaga hati agar tidak meluap-luap tanpa alasan, tidak menghakimi semua hanya karena perbuatan sebagian orang. Kita semua harus mampu membedakan antara sistem yang salah dan individu yang jujur, antara oknum yang menyalahgunakan jabatan dan mereka yang bekerja tulus di tengah keterbatasan. 

Karena Siri’ juga berarti menjaga kehormatan diri sendiri, kita tidak menjadi rendah hanya karena kita marah pada ketidakadilan, tetapi kita juga tidak menjadi lebih baik dengan menimpakan kemarahan pada orang yang tidak bersalah.
 
Kita tidak memperbaiki keadaan dengan terus saling menjauh, saling mencurigai, saling menegasikan. Kita memperbaikinya dengan kembali kepada prinsip yang sama-sama kita miliki. 
Bahwa kita semua adalah sama-sama manusia yang beradab. Manusia yang berseragam adalah pelayan rakyat, bukan tuan rakyat. dan manusia yang duduk sebagai rakyat sengaja menyisihkan hasil jerih payahnya untuk memberi upah kepada sebagian yang lain, bukan untuk menjadi tuan, bukan juga untuk dihormati berlebihan, tetapi sekedar untuk dibantu meringankan masalahnya, dibantu dalam memudahkan segala urusannya, dan itu adalah tugas para pengguna seragam.
 
Jika Siri’ na Pacce serta Lempu na Getteng ini, telah kita jadikan kembali pedoman hidup bersama, maka baik yang memakai seragam maupun yang tidak berseragam, akan sama-sama mendapatkan kebaikan. Perlahan-lahan kepercayaan akan tumbuh kembali. Rakyat akan kembali menghormati karena melihat pelayanan yang tulus, dan yang melayani akan semakin tulus karena dihormati bukan karena seragamnya, melainkan karena akhlaknya. 

Hidup akan kembali berjalan seimbang, saling menghargai, saling mempedulikan, saling mengingatkan dalam kebaikan, sebagaimana yang dikehendaki oleh nilai-nilai luhur leluhur kita, dan sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Yang Maha Menjaga.
 
Karena pada akhirnya, tidak ada seragam yang lebih mulia daripada akhlak yang baik. Dan tidak ada kekuasaan yang lebih kokoh daripada kepercayaan yang dipelihara dengan kejujuran.
Salam.

Baca Juga, 




Komentar