Penulis: Khairil Anas
Pesan leluhur ini bukan untuk menakuti, tetapi untuk membangunkan. Agar kita tidak ikut menjadi bagian dari kerusakan yang diperingatkan, sebuah kerusakan sistem, ketika Sianre Bale ni Tauwwe.
NURBUAT YANG DITURUNKAN DARI MULUT KE MULUT
Dahulu, ketika dunia belum tertata, belum ada raja, belum ada hukum, belum ada adat yang mengatur — manusia hidup bagaikan ikan di tengah samudra luas: saling memakan, saling menelan, yang kuat menindas yang lemah, dan tidak ada yang merasa bersalah.
Dalam bahasa Bugis, keadaan itu disebut:
📌 SIANRE BALE TAUWE
Manusia saling memakan sesamanya, bukan memakan daging secara kanibal, tetapi yang dimaksud adalah sesuatu yang jauh lebih nyata, jauh lebih menyakitkan, dan justru semakin terlihat jelas di zaman kita saat sekarang ini.
Manusia memakan sesamanya dengan cara mengorbankan orang lain demi keuntungan dirinya sendiri. Menelan hak orang lain, menindas yang lemah demi kekuasaan, menjatuhkan kehormatan sesama demi kedudukan — dan melakukannya tanpa rasa malu, tanpa rasa bersalah, tanpa belas kasih.
🔄 SIKLUS YANG BERPUTAR KEMBALI
Leluhur kita di Bugis dalam kitab Pappaseng memperingatkan bahwa keadaan ini bukanlah sesuatu yang terjadi sekali lalu hilang selamanya. Ia adalah sebuah siklus:
Berawal, ketika dulu manusia hidup seperti ikan saling memangsa.
Kemudian manusia bersatu, memilih pemimpin, menata hukum, menjunjung adat — agar tidak ada lagi yang ditelan oleh yang lain. Tatanan berdiri agar yang lemah terlindungi.
Namun tatanan itu bisa runtuh kembali — bukan karena rajanya turun takhta, bukan karena undang-undangnya dihapus, melainkan karena yang memegang kekuasaan itulah yang pertama kali melanggarnya.
Ketika penguasa yang seharusnya menjadi perisai rakyat justru menjadi pemangsa rakyat — ketika aturan hanya dipakai untuk mengatur yang lemah, tetapi tidak berlaku bagi yang membuat aturan, atau bagi yang berkuasa. Ada sekelompok orang yang kebal hukum, dan mereka inilah yang seenaknya memangsa dengan bebas orang-orang yang lemah, yang menjadi sasaran hukum. Maka:
Kita telah kembali ke zaman sianre bale tauwe. Meski masih ada istana, masih ada jabatan, masih ada upacara — namun jiwanya sudah kembali ke zaman ikan saling memakan.
Untuk Silessurekku, yang ingin mendalami bait-bait warisan luhur, petuah bijak kuno, serta kompas moral manusia Sulawesi Selatan agar tetap kokoh di tengah badai zaman, maka anda dapat membaca Buku Pappaseng ri Elongpugi. Buku ini sangat berharga dan bisa dijadikan sebagai rujukan dan penuntun hati nurani kita agar tidak ikut terseret dalam arus kerusakan yang terjadi saat ini.
⚠️ BUKAN HILANGNYA ATURAN — TAPI RUSAKNYA HATI
Penyebabnya bukan karena tidak ada hukum — lembaran undang-undang masih tebal. Bukan karena tidak ada pemimpin — bahkan kursi kepemimpinan masih terisi.
Tatanan runtuh dari atas — ketika pemimpin sendiri yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk memangsa rakyatnya.
Ketika yang seharusnya memberi makan justru memakan — ketika yang seharusnya melindungi justru menindas — maka manusia kembali hidup seperti di lautan tanpa tepian: siapa yang paling kuat, dia yang bertahan. Siapa yang paling lemah, dia yang ditelan.
Untuk merefleksikan runtuhnya moralitas kekuasaan ini, Anda dapat merujuk pada Buku Sosiologi Hukum sebagai cermin tatanan sosial.
💡 TAPI PESAN INI BUKANLAH UNTUK MENYERAH
Pappaseng to matowa, tidak menyampaikan ini agar kita takut — ia menyampaikan agar kita tidak ikut berubah menjadi ikan.
Di tengah lautan yang saling memakan, semoga masih ada di antara kita yang memilih untuk tetap menjadi manusia.
Yang tidak menjatuhkan orang lain demi menaikkan dirinya sendiri.
Yang tidak memakan hak orang lain demi kenyang sendiri.Yang tetap berkata:
Saya tidak akan mengambil keuntungan di atas penderitaan sesama.
Satu orang yang tetap berdiri pada kebenaran — itu sudah menjadi pengecualian. Satu kelompok yang tetap menjaga kehormatan — itu sudah menjadi benteng yang menahan dan mencegah keruntuhan.
🤲 PENUTUP
Sianre bale tauwe bukanlah ramalan yang pasti terjadi — ia adalah peringatan agar kita mencegahnya terjadi. Ia bukan takdir — ia adalah PILIHAN.
Apakah kita mau ikut menjadi pemangsa, ataukah ikut dalam kelompok pencegah.
Lalu, apakah nurbuat leluhur kita itu sudah terjadi saat ini?
Kita Lihat saja sekeliling — dan tanya pada hati nurani sendiri, kita akan melihat dengan jelas apakah sudah ada kelompok yang tega memangsa saudaranya sendiri? Apakah sudah ada pemimpin yang menindas rakyatnya? Apakah sudah ada kelompok yang kebal hukum, dan seenaknya menekan kelompok lain, tanpa rasa takut?
Bila sudah ada semua itu, maka sesungguhnya kita sudah kembali pada siklus zaman purba, ketika belum ada hukum dan peraturan.
Dan pertanyaan yang lebih penting lagi adalah, bertanya pada diri sendiri. Di tengah situasi itu semua, kita memilih menjadi siapa?
Karena pesan sesungguhnya dari nenek moyang kita bukanlah untuk mengutuk zaman — tetapi untuk menyelamatkan manusia, menghindarkan kita dari situasi Sianre Bale itu—dimulai dari diri kita sendiri.
📝 Semoga pesan leluhur yang tertulis dalam pappaseng, tersimpan abadi dalam hati kita semua, sebagai orang Bugis — agar kita selalu ingat, bahwa menjadi manusia sejati berarti tidak saling memakan sesama.
Baca ki Juga,
Catatan Kejujuran:
Beberapa tautan yang ada dalam artikel ini adalah tautan afiliasi. Artinya, jika Anda melakukan pembelian melalui tautan tersebut, kami akan mendapatkan komisi kecil tanpa menambah biaya sama sekali pada harga yang Anda bayarkan. Dukungan seperti inilah yang menjadi sumber penghidupan sederhana bagi blog ini untuk terus berjalan, menyajikan tulisan-tulisan yang bermakna, dan menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan serta kearifan leluhur tanpa biaya bagi pembaca. Terima kasih telah mendukung perjuangan kata-kata yang kami tawarkan. 🤍



Komentar