DARI TELLU CAPPA' MENJADI EPPA CAPPA'

Ini Bukan Sekedar Bekal Merantau, Tetapi Bekal Hidup yang Tak Akan Basi Sampai Kapanpun

Penulis: Khairil Anas 


Asbabun Nuzul: Mengapa Telu Cappa' Dilahirkan

Dahulu, ketika seorang anak Bugis hendak melangkah meninggalkan kampung halaman, menyeberangi lautan menuju negeri orang — jauh dari pengawasan orang tua, jauh dari perlindungan keluarga — maka sebelum kapal berlayar, orang tua akan memanggil anaknya dan membekali dengan pesan yang turun-temurun disebut Telu Cappa' atau Tiga Ujung.
 
Orang tua sadar: di tanah rantau, mata mereka tidak akan selalu melihat anaknya. Tangan mereka tidak akan selalu menopang. Maka yang dititipkan bukanlah harta yang bisa habis — melainkan penjagaan yang dibawa di dalam diri sendiri..
"Jagalah baik-baik ketiga ujung ini, anakku. Jika engkau mampu menjaganya, engkau akan berjaya di negeri orang. Jika engkau menyalahgunakannya, engkau akan celaka — bahkan malu untuk pulang ke tanah kelahiranmu." 

 Tiga Ujung, Telu Cappa'

1. Ujung Lidah

Lidah bukan sekadar alat bicara — ia adalah pintu dan pagar.
 
- Digunakan dengan baik: ucapan santun, jujur, menyejukkan hati → membuka pintu rezeki, menjalin persaudaraan
​
- Disalahgunakan: berbohong, memfitnah, berkata kasar → menutup jalan, menimbulkan permusuhan, membawa celaka

2. Ujung Badi

Badi adalah senjata khas orang Bugis — melambangkan kekuatan fisik dan semangat kerja.
 
- Digunakan dengan baik: kekuatan itu diubah menjadi etos kerja yang kuat — bekerja keras, jujur, tidak malas, menolong sesama → menghasilkan kehidupan yang berkah
​
- Disalahgunakan: kekuatan dipakai untuk menindas, menyakiti, atau mengambil hak orang lain → harta tak berkah, dibenci masyarakat
 
Orang tua berpesan: "Jangan gunakan kekuatanmu untuk mencelakai orang — gunakanlah kekuatan itu untuk bekerja dengan sungguh-sungguh."

3. Ujung Kelaki-lakian

Bukan sekadar fisik — melainkan kehormatan, tanggung jawab, dan harga diri.
 
- Digunakan dengan baik: menjaga kesucian diri, bertanggung jawab atas keluarga → dihormati di mana pun berada
​
- Disalahgunakan: menyakiti, tidak bertanggung jawab → aib menutupi nama baik, tak layak pulang.

Di era modern yang kian terbuka sekarang ini, nilai-nilai pertahanan hidup klasik ini kian tergerus oleh zaman. Maka tugas kita semua untuk kembali mempelajari akarnya. 

Demi membentengi mentalitas anak cucu kita agar tetap memegang teguh kompas moral leluhur, sangat penting untuk kembali membuka lembaran literatur yang tepercaya. Bagi silessurekku yang ingin mendalami catatan hukum adat dan tuntunan hidup otentik, membaca BUKU ESAI-ESAI TENTANG FILOLOGI BUGIS - CAMPBELL MACKNIGHT DAN IAN CALDWELL ini, sangat disarankan untuk memperkuat identitas diri kita di mana pun kita berada.
Menjadi Eppa Cappa' — Tambahan dari Bapak H.M. Alwi Hamu
Bapak H.M. Alwi Hamu — pemimpin Fajar Group, tempat saya dulu mengabdikan diri sebagai wartawan — dengan bijaksana menyempurnakan pesan leluhur ini. Beliau berkata:
"Tellu Cappa' sudah tidak cukup lagi di zaman ini. Kita harus tambah satu lagi — menjadi EPPA CAPPA'." 
Ujung keempat adalah Ujung Pena — lambang pengetahuan, kecerdasan, dan kemampuan berpikir.
 
Kita tidak cukup menjaga lidah, tangan, dan kehormatan saja — karena tanpa wawasan dan ilmu — seseorang akan terbatas kemampuannya membantu sesama. 
Dan kecerdasan tanpa dibarengi kemampuan menjaga tiga ujung, juga berbahaya, karena banyak orang yang cerdas, berilmu, berpendidikan tinggi — tetapi justru menggunakan kepandaiannya untuk membodohi, menipu, dan merugikan orang lain. 
Inilah penyalahgunaan Ujung Pena yang paling berbahaya:
 
Kecerdasan tanpa kebijaksanaan adalah kekuatan yang mematikan — bukan untuk orang lain, tapi pada akhirnya juga bagi dirinya sendiri.
 
Maka Eppa Cappa' kini menjadi kompas hidup lengkap:
    
1. Ujung Lidah, gunakan dengan baik untuk berbicara benar, santun, tidak menyakiti 
2. Ujung Badi',  gunakan kekuatan untuk bekerja dengan jujur, semangat etos kerja, tidak mengambil hak orang lain. 
3. Ujung kelaki-lakian, Jaga kehormatan, dan junjung tinggi harkat, martabat dan bertanggung jawab. 
4. Ujung Pena, gunakan ilmu dan wawasan untuk membaikkan sesama. 

Sebuah Catatan Pribadi — Ketika Saya Sendiri Merantau

Pesan Tellu Cappa'+1, ini bukan sekadar cerita masa lalu atau nasihat untuk orang lain — saya sendiri telah membawanya berkali-kali melintasi perbatasan Tanah Bugis dan Tanah Air.
 
Ketika saya berangkat merantau ke Kalimantan, lalu kembali lagi melangkah lebih jauh hingga ke Arab Saudi — orang tua saya selalu mengulang pesan yang sama, persis seperti yang diwariskan leluhur kita:
"Jagalah dirimu baik-baik di sana. Jagalah lisanmu. Jagalah kehormatanmu. Dan kerjakanlah pekerjaanmu dengan sepenuh semangat — itulah badi yang sesungguhnya."
Saya membawa ketiga ujung plus satu itu — yakni, lisan, semangat kerja, kehormatan serta kemampuan berpikir dan wawasan yang saya pelajari — ke tanah rantau yang asing.
 
Ketika saya berada di Arab Saudi — di antara penduduk setempat maupun sesama ekspatriat dari berbagai bangsa — tubuh saya adalah yang paling kecil dibandingkan mereka. Namun alhamdulillah, saya disegani bukan karena tubuh yang besar, bukan karena wajah yang menyeramkan — melainkan semata-mata karena saya berusaha menjaga keempat ujung ini:
 
- 🗣️ Lidah yang senantiasa berbicara dengan santun dan jujur
​
- 🤝 Tangan yang bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal malas
​
- ⚖️ Kehormatan diri yang dijaga agar tidak ternoda sedikit pun
​
- ✍️ Pikiran yang digunakan untuk memahami, menghormati perbedaan, dan bermanfaat bagi sesama, yang dilukiskan sebagai ujung pena. 

Karena di era modern ini, ujung pena—adalah senjata mutakhir untuk merebut kembali kejayaan dan kehormatan bangsa kita. 

Untuk menemani aktivitas harian, belajar, maupun kerja para silessurekku yang profesional, maka Pulpen Metal Premium yang elegan ini menjadi teman setia yang wajib dimiliki, dalam menggoreskan visi-visi besar di atas kertas, sekaligus menjadi simbol nyata bahwa kekuatan literasi wajib berada di genggaman kita.
 
Dan ini yang menjadi catatan penting, bahwa di negeri orang, kita tidak dihargai dari penampilan — kita dihargai dari cara kita membawa diri. Ketika kita berperilaku baik, bertutur kata lembut, dan menjaga kehormatan — di situlah orang melihat bahwa ada sesuatu yang lebih besar di dalam dada kita daripada sekadar raga yang terlihat mata.

Bukti Sejarah: Mereka yang Menjaga Capak dan Berjaya di Rantau

1. Dato' Sri Mohd Najib Tun Abdul Razak — Perdana Menteri Malaysia

Beliau adalah keturunan langsung Karaeng Aji, putra Kerajaan Gowa yang merantau ke Pahang, Malaysia pada tahun 1722. Di sana leluhurnya menjadi Syahbandar, menikah dengan putri setempat, dan melahirkan keturunan yang kelak menghasilkan dua Perdana Menteri Malaysia — termasuk Tun Abdul Razak dan putranya Najib.
 
Beliau sering berkunjung ke Balla Lompoa, istana Kerajaan Gowa di Sungguminasa — bersilaturahmi dengan kerabat dan berziarah ke makam leluhurnya, Sultan Hasanuddin. Diberi gelar adat: I Mappadulung Daeng Mattimung Karaeng Sanrobone.
 
"Saya merasa seolah-olah pinang pulang kampung, sirih pulang kandang — karena garis keturunan saya adalah Makassar. Saya putra Gowa." — ujarnya di Balla Lompoa. 
 

2. La Maddukelleng — Prajurit Gowa yang Dihormati di Buleleng, Bali

Setelah Perjanjian Bongaya (1667) yang sangat membelenggu Kerajaan Gowa, banyak pengikut Sultan Hasanuddin yang memilih tidak tunduk pada tekanan Belanda. Salah satunya adalah La Maddukelleng bersama para pengikutnya — mereka memilih mengungsi ke Bali daripada hidup di bawah perjanjian yang merugikan.
 
Di Kerajaan Buleleng, keperibadian, keteguhan prinsip, dan kemampuan mereka diakui oleh Raja Buleleng. Raja Buleleng memberikan tanah dan wilayah tempat menetap — hingga kini keturunannya masih berdiri di sana. Mereka datang bukan membawa senjata untuk menguasai — mereka datang membawa kehormatan, ketulusan, dan kerja keras — sehingga kedatangan mereka dihormati dan diterima sebagai saudara.

3. Putra-Putra Bugis yang Terus Membawa Nama Baik di Rantau

- Tun Abdul Razak — Perdana Menteri Malaysia ke-2, juga keturunan Gowa
​
- H.M. Jusuf Kalla — Wakil Presiden RI, senantiasa menjaga kehormatan dalam setiap perannya
​
- Jenderal M. Yusuf — Putra Bone yang menjadi Menteri Pertahanan RI, dikenal hidup bersih dan jujur
​
- Andi Amran Sulaiman — Menteri Pertanian RI, pengusaha yang tetap memegang prinsip meski memegang kekuasaan. 

Empat Capak Bukan Hanya untuk Perantau

Empat Capak bukan bekal untuk dibawa pergi merantau — ia adalah bekal untuk dibawa hidup.
 
Di mana pun kita berada — di kampung halaman atau di negeri orang, di rumah atau di kantor, di media sosial maupun di dunia nyata — hukumnya tetap sama:
 
- 🗣️ Lidah harus dijaga, bertutur katalah yang sopan, maka orang akan merasa aman di dekatmu
​
- 🤝 Kekuatan yang dimanfaatkan untuk bekerja jujur disertai etos kerja yang tinggi, akan menjadi pembuka rezeki, yang akan mengalir dengan keberkahan. 
​
- ⚖️ Jaga Kehormatan di mana pun engkau berdiri, maka engkau akan dihargai, dihormati dan disegani sekecil apa pun fisik dan tubuhmu. 
​
- ✍️ Ilmu yang dimanfaatkan untuk kebaikan, maka bukan hanya engkau sendiri yang maju, tapi semua orang yang bersamamu ikut terangkat. 
 
Banyak yang merantau dan gagal — bukan karena tanah rantau yang kejam, tapi karena mereka membawa ketiga ujung itu lalu menyalahgunakannya. Banyak pula yang tidak pernah meninggalkan kampung halaman — tapi tetap gagal dalam hidupnya, karena di mana pun berada, ia tidak pernah menjaga keempat ujung ini.
 
Sukses sejati bukanlah soal seberapa jauh kita melangkah — tapi seberapa utuh kita tetap membawa diri yang baik, sampai ke mana pun kita pergi.

Baca ki Juga, 



📝 Catatan Kejujuran

 
Dalam artikel ini terdapat empat tautan afiliasi: dua tautan untuk buku-buku literasi Bugis, satu tautan untuk pulpen beserta kotaknya, dan satu tautan untuk set pulpen bersama buku agenda. Apabila Anda mengklik dan membeli melalui tautan-tautan tersebut, saya akan mendapatkan komisi kecil — tanpa menambah biaya yang Anda bayarkan. Setiap rupiah yang diterima akan saya gunakan untuk terus menyajikan tulisan-tulisan yang bermanfaat bagi sesama dan melestarikan nilai-nilai budaya kita. Terima kasih telah mendukung keberlangsungan blog ini. 🙏



Komentar