Bate Salapang dan Tumanurung Bainea: Awal Mula Terbentuknya Kerajaan Gowa

Penulis: Gempita Prahara

GOWA – Berabad-abad silam, di hamparan tanah yang kelak disebut Gowa, belum ada satu nama besar maupun satu kekuasaan yang menyatukan semuanya. Wilayah ini terbagi menjadi sembilan negeri kecil yang berdaulat, yang dikenal sebagai Kasuwiang Salapang: Tombolo, Lakiung, Parang-parang, Data, Agangjene, Saumata, Bissei, Sero, dan Kalili.
 
Setiap wilayah memiliki pemimpin sendiri, adat sendiri, dan keinginan sendiri. Namun kebebasan itu perlahan berubah menjadi perselisihan. Sering terjadi pertengkaran batas tanah, perbedaan pandangan, hingga bentrokan yang merugikan rakyat. Semakin lama, semakin terasa bahwa berdiri sendiri-sendiri justru membuat mereka lemah dan mudah terpecah belah.
 
Paccalla dan Doa untuk Pemimpin yang Netral
Melihat keretakan yang semakin lebar, muncullah sosok bijaksana yang dipercaya oleh semua pihak: Paccalla. Ia bukan raja, melainkan penengah, penasihat, dan ketua musyawarah dari kesembilan pemimpin negeri. Ia berani menegur kesalahan tanpa memihak, serta mengutamakan keadilan di atas kepentingan kelompoknya sendiri.
 
Paccalla pun mengumpulkan seluruh pemimpin Kasuwiang Salapang. Ia berkata:
"Kita saling bersaudara di tanah ini, namun perselisihan membuat kita seperti orang asing. Kita tidak mampu memimpin diri sendiri dengan adil. Mari kita berdoa dan berikhtiar memohon kepada Yang Maha Kuasa, agar diutus kepada kita sosok pemimpin yang suci, netral, dan tidak memiliki ikatan darah dengan salah satu dari kita—sehingga keadilan bisa tegak sepenuhnya."
 
Mereka pun berkumpul di tempat yang sakral, berpuasa, dan berdoa bersama dengan tulus, memohon datangnya sosok yang layak disebut Ratu Adil bagi tanah Gowa.
 
Cahaya dari Bukit Taka’bassia
Permohonan itu pun didengar. Beberapa warga di sekitar Bonto Biraeng melaporkan sesuatu yang luar biasa: di atas bukit Taka’bassia, turun seberkas cahaya terang benderang dari langit, lalu diam di atas batu besar.
 
Mendengar kabar itu, Paccalla memimpin seluruh rombongan pemimpin sembilan negeri secara bersama-sama. Tidak ada yang mendahului, tidak ada yang tertinggal—mereka berjalan sebagai satu kesatuan hati menuju lokasi itu. Sesampainya di sana, cahaya itu perlahan memudar dan menjelma menjadi sosok wanita cantik, berwibawa, dan bersinar keagungan.
 
Mereka pun menyadari bahwa inilah sosok yang dijanjikan. Ia kemudian diberi nama Tumanurung Bainea, yang berarti "Wanita yang turun dari tempat tinggi". Tanpa ragu, dengan satu suara, kesembilan pemimpin negeri itu mengangkatnya menjadi Raja Gowa Pertama. Sejak saat itu, sembilan negeri itu bersatu dalam satu ikrar bernama Bate Salapang: Sembilan Bendera Persatuan.
 
25 Tahun Kepemimpinan dan Persatuan Langit-Bumi 
Selama 25 tahun masa pemerintahan (1320–1345 M), Tumanurung Bainea memimpin dengan sangat bijaksana. Ia tidak menghapus hak asal-usul masing-masing negeri, melainkan menyatukan kekuatan mereka. Musyawarah dengan Bate Salapang selalu dijunjung tinggi, dan keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
 
Di tengah masa tugasnya, beliau bersanding dengan seorang lelaki bangsawan terhormat bernama Karaeng Bayo. Pernikahan ini bukan sekadar penyatuan dua hati, melainkan simbol agung: menyatukan kesucian dan kebijaksanaan dari alam langit dengan kekuatan, kearifan, dan akar yang tumbuh di bumi.
 
Karaeng Bayo kemudian menjadi pendamping setia, penasihat utama, dan pelindung kerajaan, namun tidak pernah berniat mengambil alih hak kekuasaan yang bersumber dari Tumanurung Bainea.
 
Penerus Takhta dan Kembalinya ke Asal
Dari pernikahan itu lahirlah putra tunggal mereka, Tumassalangga Baraya. Ketika tugas menyatukan dan membangun fondasi kerajaan dianggap selesai, Tumanurung Bainea menyerahkan takhta langsung kepada putranya, bukan kepada suaminya.
 
Hal ini dilakukan karena hak kekuasaan tertinggi berakar dari kesucian garis keturunannya yang diutus dari langit—hak itu diwariskan kepada buah persatuan Langit dan Bumi, agar kesakralan dan keabsahan kepemimpinan tetap terjaga.
 
Setelah menyerahkan kepemimpinan sepenuhnya kepada Tumassalangga Baraya sebagai Raja Gowa kedua, diceritakan bahwa Tumanurung Bainea menghilang secara tiba-tiba dan tenang, seolah kembali ke tempat asalnya—mengembalikan tugas dunia kepada penerus yang telah disiapkan.
   
Kisah ini mengajarkan kita bahwa persatuan lahir dari kerendahan hati, keikhlasan memohon petunjuk, dan keberanian melepas kepentingan pribadi demi kebaikan bersama. Inilah fondasi yang membuat Kerajaan Gowa tumbuh menjadi besar dan dihormati sepanjang masa.(ttp) 

Baca ki Juga


Komentar