Penulis: Khairil Anas
![]() |
| Mesjid Babul Firdaus (1893) |
To The Point, MAKASSAR - Setelah keagungan Masjid Al-Hilal Katangka yang berdiri kokoh di Kabupaten Gowa sejak tahun 1603, ada satu lagi rumah ibadah bersejarah yang menyimpan jejak peradaban Islam dan perjuangan raja-raja Gowa: Masjid Babul Firdaus atau yang akrab disebut Masjid Jongaya. Masjid ini diakui sebagai masjid pusat resmi tertua kedua yang dibangun atas perintah Kerajaan Gowa, sekaligus masjid tertua yang kini masuk dalam wilayah administratif Kota Makassar.
📍 Lokasi dan Asal Nama
Masjid ini berdiri di Jalan Kumala, Kelurahan Jongaya, Kecamatan Tamalate, tidak jauh dari Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Dahulu kawasan ini masih bagian dari wilayah Kerajaan Gowa, baru kemudian masuk dalam batas kota setelah perluasan wilayah tahun 1971.
Nama Babul Firdaus bermakna "Pintu Menuju Surga Firdaus". Pada awal pembangunannya, masjid ini sempat bernama Masjid Mohamed, sebelum akhirnya dikenal dengan nama yang dipakai hingga kini.
Pembangunan dimulai pada tahun 1893 Masehi atas perintah Raja Gowa ke-34, I Makkulau Daeng Serang Karaeng Lembang Parang Sultan Husain Tumenanga ri Bundu’na, keturunan langsung pahlawan nasional Sultan Hasanuddin. Peresmiannya dilaksanakan pada 2 September 1895 M, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Terlihat selisih waktu pembangunannya cukup jauh, sekitar 290 tahun setelah Masjid Katangka. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan: apakah berarti pembangunan masjid bukan prioritas kerajaan?
Istilah "Masjid Tertua Kedua" yang kita pakai merujuk khusus pada MASJID PUSAT KERAJAAN yang dibangun secara resmi atas perintah dan biaya penguasa atau raja. Selama rentang waktu itu, syiar Islam tidak pernah berhenti berkembang, terbukti setiap pusat kerajaan berpindah, hal pertama yang dilakukan adalah membangun mesjid berdampingan dengan istana.
Berikut beberapa catatan penting terkait hubungan mesjid dengan kerajaan Gowa.
1. Pusat Kerajaan dan Keberadaan Mesjid:
Keberadaan Mesjid Katangka ketika Kerajaan Gowa berpusat di Tamalate. Masjid Katangka sebagai mesjid kerajaan yang pertama, melayani kebutuhan istana saat masih di kawasan Katangka, Tamalate. Setelah pusat pemerintahan berpindah ke Somba Opu, lalu menetap di Jongaya, maka dibangun masjid pusat baru yang baru, mesjid kerajaan kedua, yang posisinya dekat dengan kediaman raja.
2. Selain kedua mesjid yang dibangun oleh pihak kerajaan itu, banyak Masjid Rakyat yang Berdiri, ada Ribuan masjid, langgar, dan surau yang justru tumbuh subur dibangun secara swadaya oleh masyarakat, ulama, dan tokoh kampung di berbagai pelosok, seperti Masjid Taeng, Masjid Bontoala, Masjid Mangallekana, dan lain-lain.
Hanya saja masjid-masjid tersebut tidak berstatus sebagai masjid istana atau pusat kenegaraan, sehingga tidak tercatat dalam urutan "pertama dan kedua" peninggalan resmi kerajaan.
3. Situasi Politik ketika itu, yakni di Abad ke-17 hingga ke-19 banyak diwarnai perang melawan penjajah dan perpindahan ibu kota, sehingga pembangunan masjid kerajaan baru bisa dilakukan kembali saat kedudukan istana sudah stabil di Jongaya.
⚔️ Peran Penting di Masa Lalu
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Babul Firdaus memegang peran vital:
- Tempat Musyawarah Rahasia: Menjadi lokasi pertemuan para pemimpin kerajaan dan raja-raja se-Sulawesi Selatan untuk menyusun strategi menghadapi penjajah Belanda, karena dianggap aman dari pantauan mata-mata kolonial.
- Pusat Pergerakan: Sering menjadi titik awal perlawanan dan penggalangan persatuan rakyat.
- Penyimpanan Senjata: Bahkan pernah difungsikan sebagai tempat penyimpanan senjata kerajaan demi menjaga kedaulatan daerah.
🕌 Keunikan Arsitektur dan Pelestarian
Bentuk bangunan aslinya sangat mirip dengan Masjid Katangka, mengadopsi gaya Joglo dengan empat sisi simetris, menggabungkan unsur budaya lokal, Jawa, dan pengaruh Timur Tengah. Atap bertumpuk, tiang penyangga kokoh, dan ornamen sederhana namun bermakna menjadi ciri khasnya. Seiring waktu, masjid telah mengalami tiga kali pemugaran.
🕌 Renovasi: Antara Perubahan Wajah dan Jejak yang Tetap Terjaga
Dahulu bangunan masjid ini memiliki bentuk yang sangat mirip dengan Masjid Katangka, mengadopsi gaya Joglo tradisional Bugis-Makassar dengan atap bertumpuk, tiang penyangga kokoh, dan ornamen sederhana yang sarat makna budaya.
Dalam proses renovasi besar yang telah dilaksanakan, sebagian besar bangunan luar telah berubah wajah menjadi gaya yang lebih modern dan megah. Sayang sekali kita harus merelakan hilangnya bentuk asli dan lukisan masa lalu yang melekat pada struktur dinding utama. Namun, ada kabar yang sedikit menenangkan hati: tiga bagian paling bersejarah tetap dipertahankan bentuk aslinya hingga kini, yaitu:
✅ Menara Masjid, saksi bisu yang memanggil azan sejak zaman Sultan Husain.
✅ Kubah Utama, simbol keagungan Islam yang tak berubah wujud.
✅ Mimbar Tempat Berkhotbah, tempat pesan kebaikan dan kebenaran disampaikan dari masa ke masa.
Kini, meski bangunannya telah berubah wajah, semangat dan syiar Islam yang pernah disemai di sini tetaplah abadi. Semoga keindahan baru ini tetap menjaga keagungan makna "Pintu Menuju Surga Firdaus" seperti nama yang diembannya.(ttp)




Komentar