Bedug Legendaris Tiga Masjid Tua: Perjalanan Estafet Dari Tanah Bone

Penulis: Gempita Prahara
Ilustrasi; Warga Desa Menggotong Bedug
To The Point, GOWA - Di tanah Sulawesi Selatan, warisan peradaban Islam tidak hanya terukir pada dinding batu dan kayu tua masjid, melainkan juga pada alat-alat ibadah yang menyimpan kisah luar biasa. Salah satu yang paling unik dan penuh keajaiban adalah kisah tiga buah bedug besar yang kini menghiasi Masjid Katangka di Gowa, Masjid Jami Tua Palopo, dan Masjid Tua Al-Mujahidin di Bone. Ketiga bedug ini bukan sekadar alat penanda waktu shalat, melainkan saksi persaudaraan, kekuatan fisik, dan kebersamaan yang luar biasa dari leluhur kita.

Menurut cerita sejarah yang beredar, Kerajaan Bone di masa lalu membuat tiga buah bedug berukuran besar. Ketiga bedug tersebut kemudian dihadiahkan kepada tiga mesjid yang ada di Sulawesi Selatan ketika itu, sebagai simbol persaudaraan sesama pemeluk Islam. Satu bedug ditempatkan di Masjid Tua Al-Mujahiddin Bukaka, Kerajaan Bone. Satu bedug dihadiahkan ke Kerajaan Gowa, untuk Masjid Al Hilal Katangka, dan satu bedug untuk Kedatuan Luwu, dan ditempatkan di Masjid Jami Tua Palopo.
Bedug di Mesjid Al Hilal Katangka

Yang membuat ketiga bedug ini istimewa bukan karena ukurannya yang besar dan suaranya yang menggetarkan hati, melainkan asal usul dan cara pengangkutannya. Seluruh bahan dan proses pembuatannya berlangsung di Kerajaan Bone, sebelum kemudian diantar secara estafet menuju pada kedua wilayah kerajaan lainnya. Tidak menggunakan kendaraan tradisional, tidak pula menggunakan bantuan hewan beban, melainkan diangkut secara bergotong royong oleh puluhan bahkan ratusan warga yang melakukannya secara estafet dari satu wilayah ke wilayah lain.
Konon, cara itu dilakukan karena keterbatasan sarana transportasi dan bobot bedug yang sangat berat. 
 
Memang tidak ada catatan yang secara tertulis baik dalam literatur tua maupun lontara mengenai berapa banyak orang yang dilibatkan dalam proses pemindahan Bedug dari Bone menuju ke Kerajaan Gowa dan Luwu, keterangan yang kita dapatkan bersumber dari cerita rakyat (folklore) dan tradisi lisan yang hidup di tengah masyarakat maupun pengelola situs sejarah kedua masjid tua tersebut. 
Bahwa, Masyarakat antar-wilayah secara gotong royong mengangkat dan mengoper bedug tersebut dari tangan ke tangan (estafet) melewati perbatasan daerah hingga akhirnya tiba di masjid tujuan masing-masing. 

Asal Usul dan Pembuatan di Tanah Bone
Konon, ketiga bedug ini dibuat dari batang kayu besar pilihan yang diambil dari hutan pedalaman wilayah Kerajaan Bone. Kayu yang dipilih bukan kayu sembarangan, melainkan jenis kayu yang sangat keras, padat, berat, dan tidak mudah lapuk meski dimakan waktu berabad-abad. Proses pembuatannya pun dilakukan dengan penuh penghormatan, diawali dengan doa bersama para ulama dan tetua adat, lalu dikerjakan oleh para pengrajin terbaik yang memiliki keahlian khusus dalam membentuk alat kebesaran tempat ibadah.
 
Setelah selesai dibentuk dan diberi kulit penutup yang berkualitas tinggi, bedug ini ternyata memiliki bobot yang sangat berat. Pada masa itu, belum ada jalan raya yang layak dilalui kereta atau gerobak besar, apalagi kendaraan roda empat. Satu-satunya jalan yang bisa dilalui adalah jalan setapak, lereng bukit, dan jalur lintas antar kerajaan yang kadang terjal dan jauh. Maka para pemimpin Kerajaan Bone pun bersepakat: bedug ini akan diantar langsung oleh tangan-tangan warga sebagai bentuk bakti, tanda persaudaraan, dan persekutuan antar sesama anak negeri.
 
Perjalanan Estafet: Beban Berat Menjadi Ringan
Perjalanan mengangkut bedug ini dimulai dari pusat pembuatan di Bone, menuju lokasi pertama, kemudian disambungkan ke desa berikutnya, di setiap perbatasan desa, dilakukan serah terima antara penduduk desa yang telah selesai menggotong bedug dan warga yang siap melanjutkan, demikian seterusnya, sampai kedua bedug itu tiba di masing-masing tujuan, satu di Mesjid Jami Tua Kerajaan Luwu, dan satu lagi di Mesjid Tua Katangka di Kerajaan Gowa. 

Caranya sungguh menakjubkan: setiap kali rombongan melewati batas wilayah kerajaan atau desa, warga setempat akan segera bergotong royong mengambil alih beban tersebut dari tangan warga sebelumnya.
 
Tidak ada yang meminta bayaran, tidak ada yang mengeluh lelah. Semuanya dijalankan dengan semangat yang selaras dengan falsafah masyarakat Bugis: Mali siparappe, rebba sipatokkong. Jika ada yang terhuyung, disangga bersama; jika ada yang terlelah, digantikan dengan semangat yang baru. Langkah kaki mereka berirama serempak, disertai doa dan zikir yang menyatu dengan suara langkah kaki.
 
Jarak tempuh yang seharusnya terasa jauh dan melelahkan, justru terasa ringan karena dibawa bersama-sama. Konon, di beberapa titik yang curam atau sulit dilalui, bedug itu terasa semakin ringan seolah ada tangan tak terlihat yang membantu mengangkatnya. Ini diyakini sebagai berkah dari keikhlasan mereka yang melaksanakan tugas mulia memuliakan rumah Allah.
 
Keunikan dan Karakteristik Masing-Masing Bedug
Meskipun berasal dari bahan dan tempat pembuatan yang sama di Bone, ketiga bedug itu kini memiliki keunikan tersendiri yang disesuaikan dengan karakter wilayahnya:
 
Bedug Masjid Tua Bone
Sebagai tempat asalnya, bedug ini memiliki nada yang paling dalam dan bergema panjang, seolah memanggil seluruh penduduk tanah arung palakka. Bentuknya sedikit lebih kokoh dan gagah, mencerminkan keteguhan dan keperibadian masyarakat Bone yang dikenal teguh pada pendirian. Suaranya konon bisa terdengar sampai ke pinggiran sungai Walanae jika angin sedang bertiup tenang.
 
Bedug Masjid Jami Tua Palopo
Bedug ini memiliki irama yang lebih tegas dan berdenyut kuat. Letaknya yang berada di jalur persilangan perdagangan antara daratan dan pesisir membuat bedug ini menjadi penanda waktu yang sangat penting bagi warga Luwu Raya dan sekitarnya. Kulit pemukulnya terbuat dari bahan yang sangat istimewa sehingga menghasilkan suara yang jernih namun berwibawa.
 
Bedug Masjid Katangka, Gowa
Bedug di Masjid Katangka memiliki ciri khas pada ukiran di bagian pinggirnya yang sarat dengan makna filosofi persaudaraan Gowa-Bone. Suaranya terdengar lembut namun menyentuh hati, menggambarkan kerukunan yang terjalin antara dua kerajaan besar itu. Hingga kini suaranya masih bergema dengan lantang, memanggil umat dari berbagai penjuru Kecamatan Somba Opu.
 
Makna di Balik Perjalanan Estafet
Bagi generasi sekarang, kisah pengangkutan bedug secara estafet ini bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cerminan nyata dari jiwa persatuan yang kita miliki. Pengangkutan ini mengajarkan bahwa tugas yang terasa mustahil jika dikerjakan sendirian, akan menjadi sangat mudah jika dikerjakan bersama-sama.
 
Selain itu, cara pengangkutan ini juga menjadi bukti persaudaraan yang erat antar kerajaan di Sulawesi Selatan pada masa lalu. Perbedaan wilayah dan kekuasaan tidak menjadikan mereka terpisah, justru keinginan untuk memuliakan tempat ibadah menyatukan langkah mereka. Bedug yang diangkut itu bukan sekadar benda mati, melainkan simbol bahwa cahaya Islam harus terus disebarkan dan dipikul bersama dari satu tempat ke tempat lain.
 
Hingga hari ini, ketiga bedug itu masih berdiri kokoh di tempatnya masing-masing. Kayunya mungkin sudah mulai memudar warnanya, namun suaranya tetap bergema setiap kali waktu shalat tiba. Di setiap dentangannya, masih tersimpan kisah ratusan kaki yang melangkah, ratusan tangan yang mengangkat, dan satu hati yang menyatu dalam kebaikan.
 
Kisah bedug dan perjalanan estafetnya adalah warisan tak ternilai. Ia mengingatkan kita bahwa kemegahan sebuah tempat ibadah tidak hanya terletak pada bangunannya, melainkan pada keikhlasan dan persatuan yang membangunnya. Semoga semangat persaudaraan yang diajarkan leluhur ini tidak pernah padam di hati kita, sebagaimana suara bedug itu tak pernah berhenti memanggil kita untuk kembali kepada kebaikan.(ttp) 

Baca ki Juga, 




Komentar