Penulis: Gempita Prahara
![]() |
| Balla Lompoa Sungguminasa |
To The Point, GOWA – Di kawasan Sungguminasa, Kabupaten Gowa, berdiri kokoh bangunan yang menjadi saksi terakhir kejayaan Kerajaan Gowa. Namanya Balla Lompoa, yang dalam bahasa Bugis berarti “Rumah Besar”. Banyak pendapat menyebutkan istana ini pernah berpindah tempat berkali‑kali, namun penelusuran sejarah menunjukkan kenyataan yang lebih tepat, bahwa bukan Balla Lomponya yang berpindah-pindah, tetapi pusat pemerintahan kerajaan Gowa yang beberapa kali berpindah.
Juru kunci Balla Lompoa, Daeng Tarru menjelaskan, Balla Lompoa yang kita kenal kini di Sungguminasa dibangun sekali dan tetap berdiri di tempat yang sama hingga hari ini.
"Memang pusat pemerintahan kerajaan Gowa dahulu beberapa kali pindah sebelum menetap di Sungguminasa, perpindahan itu dilakukan menyesuaikan kebutuhan pertahanan, perluasan wilayah, maupun perkembangan kekuasaan raja." jelasnya.
Di awal berdirinya Kerajaan Gowa, pusat kekuasaan berada di kawasan bukit‑bukit yang lebih aman dan mudah dijaga. Salah satu tempat kediaman tertua ialah di sekitar Bukit Tamalate. Dari sana, pengaruh kekuasaan perlahan meluas menuju dataran rendah dan pesisir.
Selanjutnya, pusat pemerintahan beralih ke kawasan Somba Opu dan Benteng Jongaya. Di sinilah Kerajaan Gowa mulai tumbuh makin kuat dan menjadi salah satu kekuatan maritim terbesar di wilayah Sulawesi Selatan.
Lokasi ini strategis karena dekat dengan jalur pelayaran dan pelabuhan, memudahkan hubungan dagang serta pertahanan laut.
Namun seiring berjalannya waktu dan perubahan kondisi politik serta pertahanan, kedudukan ibu kota kembali dipindahkan menuju kawasan yang lebih aman dan teratur tata letaknya, yaitu Sungguminasa.
Barulah pada tahun 1935 hingga 1936, di bawah pemerintahan Raja Gowa ke‑36, dibangunlah Balla Lompoa Sungguminasa sebagai istana induk dan pusat pemerintahan yang tetap.
"Sejak saat itulah mulai dibangun istana Balla Lompoa seperti yang kita saksikan hingga kini, bangunan ini tidak pernah dipindahkan lagi." lanjut Daeng Tarru.
![]() |
| Bersama Daeng Tarru, Juru Kunci Balla Lompoa |
Informasi mengenai “berpindah‑pindah” itu lebih tepat ditujukan pada rangkaian kedudukan pusat kerajaan secara keseluruhan, bukan pada bangunan istana yang ada di Sungguminasa ini.
Bangunan Balla Lompoa merupakan perpaduan indah antara arsitektur asli warisan leluhur dan sentuhan gaya yang berkembang pada masa itu. Seluruh rangka utamanya disusun dari kayu pilihan yang kokoh dan tahan lama. Atapnya berbentuk khas rumah adat Bugis‑Makassar, melambangkan kemegahan serta perlindungan bagi seluruh rakyat di bawah naungan kerajaan.
Ruang‑ruang di dalamnya diatur sesuai fungsi dan tingkatan kedudukan. Ada ruang pertemuan para pembesar, ruang menerima tamu, tempat sidang adat, hingga ruang kediaman keluarga raja.
Di dalam kompleks istana juga tersimpan berbagai benda warisan yang bernilai sejarah tinggi. Mulai dari alat kebesaran kerajaan, senjata pusaka, kitab‑kitab kuno catatan sejarah, hingga barang‑barang perhubungan dagang yang membuktikan hubungan luas Kerajaan Gowa dengan bangsa‑bangsa luar. Semua ini menjadikan Balla Lompoa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga gudang ingatan sejarah masyarakat Sulawesi Selatan.
Seringkali terjadi kekeliruan karena nama “Balla Lompoa” juga digunakan bagi bangunan istana besar di daerah‑daerah lain seperti Bajeng dan Barombong.
Namun ada perbedaan antara Balla Lompoa lainnya itu dengan Balla Lompoa yang di Sungguminasa.
Catatan sejarah menyebutkan bahwa istana di kawasan Bajeng itu memang pernah beberapa kali dipindahkan tempatnya. Perbedaan ini perlu dipahami agar penulisan sejarah menjadi tepat dan tidak tertukar antara satu tempat dengan tempat lainnya.
Balla Lompoa Sungguminasa, tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kediaman raja, tetapi juga menjadi pusat penyelenggaraan adat dan musyawarah. Di sinilah dilaksanakan sidang‑sidang untuk menyelesaikan perselisihan sesuai aturan leluhur, menyepakati kebijakan, serta mengukuhkan hubungan persaudaraan antar‑wilayah.
Semangat musyawarah seperti Tudang Sipulung dan nilai‑nilai persaudaraan Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong, Sipakatau, Sipakalebbi tetap hidup dan dilestarikan di dalam lingkungan istana ini.
Kini, Balla Lompoa Sungguminasa tidak lagi menjadi kediaman raja dan keluarganya, tetapi telah difungsikan sebagai museum sekaligus monumen sejarah yang terbuka bagi siapa saja yang ingin menelusuri jejak masa lalu.
Keberadaan Balla Lompoa menjadi bukti nyata bahwa perpindahan kedudukan pusat kekuasaan adalah langkah perkembangan zaman, namun istana yang dibangun di Sungguminasa tetap berdiri teguh tanpa berpindah tempat sejak pertama kali didirikan.
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan maupun generasi muda, Balla Lompoa bukan sekadar bangunan kayu besar. Ia adalah cerminan kebijaksanaan para leluhur, bukti ketahanan budaya, dan tempat di mana kisah panjang Kerajaan Gowa tersimpan rapi untuk diteruskan ke masa depan.(ttp)
Baca ki Juga,


Komentar