Penulis: Khairil Anas
Rumah Sakit dibangun untuk menyelamatkan nyawa, bukan untuk menilai siapa kaya dan miskin. Di hadapan penyakit dan kematian, manusia setara. Uang tidak boleh menjadi pembeda antara hidup dan mati. Tidak boleh ada pintu yang lebar bagi yang membayar tunai, dan pintu yang sempit bagi yang membayar lewat jaminan sosial. Sumpah kedokteran dan sumpah tenaga kesehatan tidak membedakan pasien berdasarkan isi dompetnya. Sumpah itu berbunyi:
Menolong dan menyelamatkan, tanpa memandang siapa dan apa pun asal pembayarannya.
Nakes adalah Penyelamat Jiwa, bukan Penilai Ekonomi Pasien
Untuk para nakes, kami ingin mengingatkan: Anda adalah penyelamat jiwa, bukan penilai kemampuan ekonomi pasien. Ilmu dan keahlian yang Allah titipkan kepada Anda adalah amanah untuk meringankan beban sesama, bukan untuk merasa lebih tinggi dan merendahkan mereka yang sedang lemah. Saat pasien mengeluh, ia sedang meminta pertolongan, bukan diperdebatkan, bukan dicibir, bukan dijadikan bahan olok-olok di media sosial.
Baca Juga,
Keluhan pasien adalah panggilan untuk berbuat lebih baik, bukan alasan untuk membalas dengan amarah dan penghinaan.
Mungkin anda capek, lelah, melayani banyak orang, tetapi cukuplah dengan diam dan jangan melontarkan ungkapan-ungkapan yang membuat pasien tidak hanya lelah, tetapi justru kehilangan semangat hidupnya.
Media Sosial bukan Benda Mati, Dibaliknya ada Hati yang Punya Rasa
Pelajaran terbesar yang ingin kami sampaikan kepada kita semua, Media sosial bukan benda mati yang boleh diperlakukan sesuka hati. Di balik setiap akun, setiap komentar, setiap layar yang Anda tatap itu, ada manusia yang bernyawa, punya perasaan, punya hati yang bisa terluka, punya harga diri yang bisa direndahkan.
Ketika Anda mengetik kata-kata kasar, menghina, mencibir di kolom komentar itu, sama artinya Anda melukai hati seseorang secara langsung. Layar tidak mematikan rasa sakit, jarak tidak menghapus tanggung jawab atas kata-kata yang diucapkan.
Berpikirlah sebelum mengetik, Apakah kata yang akan terkirimkan ini ssanggup saya ucapkan langsung di hadapannya? Apakah saya sanggup mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan? Jika tidak, maka tahanlah jari Anda. Karena komentar itu bisa dihapus, layar bisa dimatikan, tetapi luka pada hati seseorang dan dosa atas kata-kata yang menyakiti itu tetap tercatat selamanya.
Meminta Maaf setelah Viral
Permintaan maaf karena desakan memang lebih baik daripada tidak sama sekali. Namun permintaan maaf yang sejati, seharusnya lahir dari kesadaran sendiri, dari rasa bersalah kepada Tuhan, dan keinginan tulus untuk memperbaiki sikap. Jangan menunggu viral baru berbuat benar. Jangan menunggu takut kehilangan jabatan baru meminta maaf dan berbuat adil .
Meminta Maaf setelah viralYang paling benar adalah hati-hati dalam berbuat, bersikap dan berkata-kata. Jangan pernah menyakiti hati dan perasaan orang lain, baik secara langsung maupun melalui media sosial. Sebab rasa kecewa dan sakit hati itu ibarat tali yang putus, seperti kaca yang retak. Meski disambung dengan ribuan permintaan maaf, tetap akan berbekas selamanya.
Baca ki Juga,
Semoga peristiwa ini menjadi cermin jernih bagi kita semua:
- Hormati pasien BPJS sebagaimana Anda menghormati pasien lain.
- Rawatlah karena ia manusia yang membutuhkan pertolongan, bukan karena ia mampu membayar berapa.
- Bicaralah di media sosial selembut Anda berbicara secara langsung.
- Dan ingatlah selalu: Di balik setiap akun yang Anda balas, ada hati manusia yang bisa hancur karena kata-kata yang kasar.
Semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari sifat sombong dan kejamnya perkataan, baik saat berhadapan langsung maupun saat mengetik di balik layar.(ttp)
Baca ki juga,


Komentar