Penulis: Gempita Prahara
![]() |
| Srikandi Sayang Srikandi Malang |
To The Point, SULSEL - Beberapa hari ini, masyarakat Sulawesi Selatan diguncang oleh tiga peristiwa yang sama-sama melibatkan perempuan berkedudukan, namun menyisakan pertanyaan besar mengenai etika, martabat, dan nilai-nilai luhur yang selama ini kita junjung tinggi. Tiga kisah ini bukan sekadar berita viral semata, melainkan cermin yang memantulkan celah antara tingginya jabatan dengan lunturnya etika dan budi pekerti.
Pertama, nama Bupati Gowa Sitti Husniah Talenrang terseret ke dalam sorotan publik setelah suaminya mengungkap dugaan perselingkuhan dalam sidang hak angket DPRD Kabupaten Gowa. Seorang pemimpin daerah yang diharapkan menjadi teladan bagi ribuan warganya, justru diduga melanggar janji suci rumah tangga dan mempertaruhkan kepercayaan yang diamanatkan rakyat kepadanya.
Kedua, peristiwa memilukan dari Sinjai: seorang wanita, Nurfadillah Riswan berpamitan berangkat kerja dan meminta suaminya mengantar anak mengikuti MPLS, namun justru dipergoki sedang bermalam di kamar kos seorang lelaki. Kejadian ini terekam kamera dan menyebar luas, mempermalukan keluarga besar serta melukai hati suami yang seharusnya menjadi pelindungnya.
Ketiga, insiden yang mencoreng dunia pemerintahan di Bone: Ketua DPRD Bone Andi Tenri dilaporkan melemparkan kue dan menyiramkan air ke wajah stafnya sendiri, Yuli Nofita Sari, hanya karena masalah penyajian hidangan tamu. Perlakuan kasar itu dilakukan oleh sesama perempuan pengemban amanah, kepada orang yang seharusnya diperlakukan dengan hormat dan kasih sayang .
Fenomena apa ini?
Kita tidak bisa sekadar menyebutnya "kesalahan pribadi" atau "masalah internal". Ini adalah gejala yang mengkhawatirkan: ada fenomena semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin lupa ia pada akar budaya yang mengajarkan kita tentang Siri' na Pacce — kehormatan dan solidaritas yang menjadi nyawa kehidupan masyarakat Bugis–Makassar .
Dalam adat ketimuran kita, perempuan adalah penjaga pintu kehormatan keluarga dan bangsa.
Dulu, sebelum melangkah keluar rumah, gadis kita diajarkan menjaga pandangan, perkataan, dan langkah. Sebab apa yang dilakukan seorang wanita, seorang ibu, seorang istri, apalagi seorang pemimpin perempuan, akan menjadi cermin bagi seluruh keluarga, bahkan bagi daerah yang dipimpinnya.
Siri' bukan sekadar rasa malu, melainkan kesadaran diri untuk tidak melakukan hal yang merendahkan derajat sendiri dan orang lain. Mengkhianati janji pernikahan, membohongi keluarga, atau menindas orang yang lebih lemah dengan kekuasaan — itu semua adalah tindakan yang mematikan siri' itu sendiri.
Dalam budaya kita pun diajarkan: "To sipakatau, to sipakalebbi,"— saling memanusiakan, saling menghargai, dengan tujuan untuk saling memuliakan dan saling memahami.
Bagaimana mungkin kita bisa menuntut hormat dari rakyat, jika kita sendiri tidak mampu menghormati janji suci?
Bagaimana kita akan mengajarkan kebaikan, jika kita sendiri menyakiti hati orang lain dengan seenaknya?
Kita tidak bermaksud menghakimi atau menjatuhkan siapa pun. Namun tiga peristiwa ini adalah teguran keras bagi kita semua: Bahwa kekuasaan dan jabatan tidak boleh membuat kita lupa diri. Kemajuan zaman tidak berarti kita harus membuang budi pekerti luhur.
Menjadi wanita karir yang sukses itu mulia, tetapi menjadi pribadi yang tetap menjaga kehormatan, memelihara kasih sayang, dan bersikap adil itulah kemuliaan sejati. Sebuah nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun, dan akan tetap kita pertahankan sampai kapanpun.
Kepada setiap perempuan yang memegang amanah, ingatlah: Kekuatanmu bukan pada seberapa tinggi jabatanmu, melainkan pada seberapa mulia hatimu dan seberapa kokoh kau menjaga siri' dan nama baikmu. Itulah warisan terindah yang bisa kau berikan kepada anak cucu, dan kepada tanah air yang kau cintai.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar