Penulis: Gempita Prahara
![]() |
| Kaleppi Ajemu Mutajeng Totomu |
To The Point, SENGKANG - Istilah ini dahulu sering diudarakan melalui Radio Suara As'Adiyah, station Radio yang mengudara di kota Sengkang, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan sejak 1968. Sebuah station Radio yang didirikan Anre Gurutta K.H.Yunus Maratang (Alm).
Melalui station Radio itulah ungkapan "Kaleppi I Ajemu, Mutajeng I Toto Mu" Disiarkan dalam bentuk nasihat kepada pendengar setianya yang tersebar dari kabupaten Wajo, Soppeng dan Bone.
Ungkapan itu kemudian menjadi falsafah hidup masyarakat Bugis, khususnya di tiga kabupaten yang dahulu kala pernah menjadi persekutuan tiga kerajaan "Telluppoccoe" itu.
Baca ki Juga,
Secara harfiah kalimat KALEPPI AJEMU MUTAJENG TOTO MU ini berarti: "Lipat kakimu dan tunggulah takdirmu atau nasibmu."
Di balik kalimat perintah yang sederhana itu, tersimpan petunjuk luhur tentang pembentukan karakter, adab, serta keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri.
Asal Usul dan Arti Kata
Frasa ini terbentuk dari kata dasar yang sederhana namun bermakna luas:
- Kaleppi: Berasal dari kata leppi yang berarti melipat. Imbuhan ka- menjadikannya perintah halus, artinya lipatlah atau tekuklah.
- Ajemu: Berasal dari kata aje (kaki) ditambah akhiran -mu, artinya kakimu.
- Mutajeng: Artinya menunggulah dengan sabar.
- Toto Mu: Artinya takdirmu, nasibmu, atau bagian rezekimu yang telah ditetapkan Tuhan.
Secara keseluruhan, pesan ini mengajak kita menata sikap diri terlebih dahulu, sebelum menanti apa yang akan ditetapkan untuk kita.
Tiga Inti Ajaran Luhur
1. Duduk Tenang: Adab dan Pengendalian Diri
Perintah "lipat kakimu" merujuk pada posisi duduk yang benar: bersila bagi laki-laki, dan bersimpuh bagi perempuan saat berada di lantai. Posisi ini bukan sekadar aturan duduk, melainkan cerminan sikap batin:
- Melambangkan kerendahan hati dan kesopanan.
- Mengajarkan pengendalian diri serta ketenangan jiwa.
- Mengingatkan bahwa sebelum menerima apa pun dari Tuhan, seseorang harus tahu cara menempatkan diri dengan benar dan menjaga adab.
2. Ikhtiar dan Tawakal yang Aktif
Pesan "tunggulah takdirmu" bukan ajaran untuk diam dan malas. Bagi orang Bugis, menunggu takdir berarti tawakal yang aktif:
- Lakukanlah usaha dan kerja keras semampu kamu.
- Setelah berusaha maksimal, tenangkan hati dan bersabarlah menerima hasil keputusan Tuhan.
- Jangan gelisah jika hasil belum terlihat, karena waktu dan cara Tuhan adalah yang paling tepat.
3. Percaya pada Porsi Masing-masing
Masyarakat Bugis meyakini prinsip mupatoto’: setiap orang sudah memiliki porsi rezeki dan garis hidupnya sendiri yang tidak akan tertukar. Oleh karena itu:
- Jangan serakah dan jangan memburu sesuatu secara berlebihan hingga melanggar batas norma atau menyakiti orang lain (mengkaledda).
- Apa yang memang menjadi hakmu akan datang pada waktunya, asalkan kamu melangkah di jalan yang benar.
Penggunaan Sehari-hari
Selain menjadi pedoman hidup, ungkapan ini sering diucapkan dalam situasi nyata:
- Orang tua menasihati anak agar duduk sopan saat makan atau menerima tamu.
- Mengingatkan seseorang untuk merapikan posisi jika kakinya menjulur dan menghalangi orang lain.
- Menjadi bekal doa saat anak hendak merantau atau memulai tugas baru: jagalah sikapmu, dan percayalah nasib baik akan menyertaimu.
Secara keseluruhan, nasihat ini mengajarkan kita untuk menjalani hidup dengan tenang, menjaga sopan santun, dan ikhlas menerima ketetapan Tuhan setelah semua usaha terbaik dilakukan. Ini adalah pengingat agar manusia tidak bersikap terburu-buru (maceccé) dalam mengejar duniawi, yang sering kali membuat kita lupa diri, melanggar batas, dan menyakiti sesama.
"Kaleppi I Ajemu, Mutajeng I Toto Mu": Jagalah sikapmu, tekunlah berusaha, dan tunggulah dengan hati tenang. Itulah jalan menuju ketenangan jiwa dan kehormatan sejati.(ttp)

Komentar