Cerita Puang Amir dari Bontoramba
Penulis: Khairil Anas
![]() |
| Memberi Wejangan |
To The Point, MAKASSAR - Di tengah hiruk-pikuk kawasan Bontoramba, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, berdiri rumah sederhana yang telah menjadi saksi perjalanan puluhan tahun kehidupan Puang Amir, lelaki berusia 70 tahun yang datang berkunjung ke rumahku dengan wajah yang tampak lesu dan penuh kegundahan. Matanya yang biasanya bersinar kini tampak sayu, seolah memikul beban yang tak sanggup lagi ia pikir sendirian.
"Saya ingin pulang kampung, Pak Haji," ucapnya pelan, memulai pembicaraan dengan suara yang terdengar bergetar.
Aku menatapnya dengan penuh perhatian, mencoba membaca apa yang tersembunyi di balik tatapannya. "Iya, kenapa? Ada apa di kampung? Apakah ada acara keluarga yang penting?" tanyaku lembut.
Puang Amir menggeleng pelan. "Tidak ada," jawabnya singkat, namun nadanya terdengar begitu berat. "Hanya mau pulang saja. Orang-orang di rumah sudah tidak peduli dengan saya."
Kalimat itu membuatku sedikit terkejut. "Orang-orang di rumah? Maksudnya siapa, Pung?" tanyaku lagi, ingin memastikan apa yang sesungguhnya ia maksud.
Ia terdiam sejenak, lalu menunduk perlahan. "Pung Perempuan," ucapnya akhirnya, dengan nada yang terdengar sedih. "Dia sudah berapa hari tidak buatkan saya kopi."
Seketika aku tersenyum lebar, tak kuasa menahan tawa yang justru muncul untuk mencairkan suasana yang tadinya begitu tegang. Orang-orang yang ia sebut "orang-orang di rumah" ternyata hanya istrinya sendiri, perempuan yang telah menemaninya mengarungi bahtera rumah tangga selama puluhan tahun, sejak mereka muda hingga kini rambut mereka mulai memutih.
Di balik keluh kesahnya yang tampak sepele itu, tersimpan sebuah makna yang begitu dalam. Puang Amir sebenarnya tidak sekadar menginginkan secangkir kopi hangat. Ia merindukan perhatian kecil, sapaan lembut, dan tanda kasih sayang yang dulu selalu ia terima setiap hari. Bagi seorang lelaki yang telah berumur, hal-hal sederhana seperti secangkir kopi buatan tangan istri tercinta adalah bukti nyata bahwa ia masih dibutuhkan, masih dihargai, dan masih menjadi bagian yang tak tergantikan dari rumah tangga yang mereka bangun bersama.
Rasa bosan yang ia rasakan bukan karena tempat tinggalnya yang membosankan, melainkan karena ia merasa ada jarak yang perlahan tercipta di antara mereka berdua. Kesibukan sehari-hari, kelelahan, atau mungkin sekadar kebiasaan yang mulai menumpulkan rasa perhatian, membuatnya merasa kesepian meskipun berada di dalam rumah yang sama.
Maka aku pun menyampaikan nasihatku dengan tenang namun tegas:
"Pung, kalaupun saat ini Puang jadi kembali ke Bulukumba, belum tentu Puang akan mendapatkan perhatian di sana. Boleh jadi justru Puang akan menjadi beban bagi keluarga di kampung. Kepulangan yang hanya didasari atas emosi sesaat, tidak akan menyelesaikan masalah, justru akan menambah masalah baru. Belum lagi soal pekerjaan yang Puang tinggalkan di Makassar ini, rumah tangga yang harus hancur justru di hari-hari tua, saat-saat di mana seharusnya pasangan suami istri saling bersama."
Aku melanjutkan penjelasanku agar ia semakin paham:
"Puang, ketika nanti emosi Puang sudah reda dan berniat pulang kembali ke Puang Perempuan, mungkin situasinya sudah berbeda. Pekerjaan Puang sebagai petugas keamanan perumahan sudah hilang dan diambil orang, Puang harus mulai lagi dari awal, mencari lagi pekerjaan ke sana kemari, untung kalau dapat."
Puang Amir menyimak dengan seksama, tampak sekali kata-kataku masuk ke dalam akal dan hatinya. Ia mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju dan mulai menyadari ke mana arah permasalahannya yang sebenarnya.
Setelah hatinya terasa lebih tenang dan pikirannya sudah jernih kembali, Puang Amir pun berpamitan pulang. Sebelum pergi, ia berkali-kali mengucapkan terima kasih dengan penuh takzim, seolah beban berat yang tadi ia pikul kini telah terangkat perlahan.
Kisah Puang Amir mengajarkan kita satu hal penting: rumah tangga tidak akan pernah berjalan dengan sendirinya tanpa sentuhan kasih sayang yang terus dipupuk. Seiring bertambahnya usia, kita sering lupa bahwa hal-hal kecil—seperti menanyakan kabar, menyiapkan makanan kesukaan, atau sekadar berbicara dari hati ke hati—adalah perekat yang paling kokoh. Dan keputusan besar sebaiknya tidak pernah diambil saat hati sedang diliputi emosi semata.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar