Di Mana Perikemanusiaan Kita?
Oleh Tim Redaksi To The Point
![]() |
| Apakah Perikemanuisaan Kita Telah Mati? |
Beberapa hari terakhir ini, kembali berita memilukan menghampiri kita. Dua kasus main hakim sendiri terjadi berjarak sangat dekat, di dua ujung berbeda negeri ini — kejadian memilukan menyisakan luka yang sangat perih, terutama bagi keluarga.
Di tengah negeri yang selalu mengagungkan perikemanusiaan, kemanusiaan yang beradab, namun kembali kita menyaksikan nyawa manusia direnggut hanya karena tuduhan, bahkan sebelum ada kesempatan untuk membela diri.
Dua Nyawa yang Hilang, Satu Luka yang Sama
Pada Jumat dini hari, 24 Juli 2026, di Banjar Dinas Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, seorang pria berinisial KD asal Buleleng tewas dikeroyok massa. Ia tertangkap tangan diduga hendak mencuri seekor ayam aduan. Warga yang sudah lama resah maraknya pencurian hewan ternak di wilayah itu meledak emosinya — bukan menahan dan menyerahkan ke pihak berwajib, melainkan menghajar korban hingga meninggal di tempat. Sepeda motor yang dibawanya pun tak luput dibakar. Kini Polres Tabanan telah menetapkan lima warga sebagai tersangka.
Belum sempat luka itu mengering, berita serupa datang dari Sulawesi Tengah. Sabtu malam, 25 Juli 2026 sekitar pukul 23.05 WITA, seorang pria berinisial S (33 tahun) asal Sinjai, Sulawesi Selatan, tewas dihakimi massa di Desa Bahomakmur, Bahodopi, Morowali. Ia diduga hendak mencuri sepeda motor di dekat minimarket setempat. Meski sempat lari dan bersembunyi di dalam toko swalayan, ia ditarik paksa ke luar dan dihajar habis-habisan. Meski sempat dilarikan ke klinik dan dirujuk ke RSUD Bungku, nyawanya tak tertolong akibat luka parah. Penyelidikan masih berjalan.
Ke Mana Perginya Kebijaksanaan?
Dua kejadian ini memaksa kita bertanya: Ke mana hilangnya perikemanusiaan yang selalu kita banggakan? Apakah kita sudah tak lagi percaya pada jalur hukum dan pihak berwajib? Tak adakah lagi sisa kebijaksanaan di hati kita untuk memberi kesempatan untuk berbicara?
Sebelum menghajar, sebelum menghakimi, takkah kita bertanya sebentar: Apakah benar niatnya mencuri? Atau ada kesalahpahaman? Atau mungkin ia hanya berniat mengamankan barang yang dianggap miliknya?
Kesempatan untuk menjelaskan itu direnggut bersamaan dengan nyawanya, Oh Tuhan...!
Kita seharusnya sudah belajar dari tragedi kelam yang pernah terjadi: Seorang lelaki malang yang tewas dikeroyok di halaman masjid, di tempat yang seharusnya terpupuk baik jiwa kemanusiaan, tertanam semangat kasih-sayang.
Namun ironis, Seorang lelaki harus meregang nyawa hanya karena dituduh mencuri peralatan pengeras suara. Setelah tubuh tak lagi bernyawa, setelah bibir tak mampu lagi bersaksi, barulah ketahuan bahwa barang yang ia bawa adalah perlengkapan sound system milik pelanggannya yang baru selesai ia perbaiki. Ia hanya mampir beristirahat sejenak di masjid sebelum melanjutkan perjalanan mengantar barang itu. Namun semuanya sudah terlambat. Fitnah dan amarah massa lebih cepat melesat daripada logika. Kebenaran terungkap belakangan — tapi nyawa tak kan mungkin lagi kembali.
Nyawa Tidak Pernah Bisa Ditukar
Sungguh miris, memilukan, dan sungguh memalukan. Seolah-olah harga seekor ayam aduan, sepeda motor, atau seperangkat alat suara lebih mahal daripada satu nyawa manusia. Seolah-olah kita lupa bahwa di mata Tuhan, jiwa setiap manusia itu setara dan tak ternilai harganya.
Keresahan warga atas maraknya kejahatan memang wajar. Kemarahan atas kerugian yang diderita pun bisa dimengerti. Tapi keresahan tidak boleh dibalas dengan kejahatan lain. Menghukum mati tanpa proses hukum bukanlah keadilan — itu adalah pembalasan dendam yang menjerumuskan kita sama rendahnya dengan kejahatan yang kita tuduhkan.
Kita berharap, tangan kita lebih dulu terulur untuk menahan, bukan untuk memukul. Mulut kita lebih dulu terbuka untuk bertanya, bukan untuk memaki. Dan hati kita lebih dulu terbuka untuk percaya bahwa hukum harus berjalan, dan setiap orang — seburuk apa pun tuduhan terhadapnya — berhak atas pembelaan dan proses yang adil.
Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang cepat marah dan main hakim sendiri. Tapi bangsa yang tetap menjaga marwah kemanusiaan, bahkan di saat sedang dilanda kecemasan.(ttp)
Baca ki Juga,


Komentar