Penulis: Khairil Anas
![]() |
| Guruku Sayang Guruku Malang |
Dahulu, di masa kita masih duduk di bangku sekolah dan berjalan menuju surau di kampung halaman, ada satu kebenaran yang tertanam begitu kokoh di dalam dada: Guru adalah pengganti orang tua.
Orang tua kita mengajarkan dengan tegas namun penuh kasih: "Hormatilah gurumu sebagaimana engkau menghormati ayah dan ibumu. Di sekolah maupun di surau, merekalah yang memegang tanggung jawab atas pertumbuhan akhlak dan ilmumu."
Ketika tangan guru atau ustadz memberikan teguran atau hukuman karena kita lalai tugas atau lambat mengamalkan ajaran, kita tidak berani mengadu dengan nada membela diri. Dan jika sesekali ada yang melaporkan ke rumah, apa yang didapat bukanlah pembelaan, melainkan teguran tambahan dari orang tua sendiri: "Pasti ada alasannya. Gurumu tidak akan menyentuh jika tidak ada yang salah. Perbaikilah dirimu."
Hubungan itu dibangun di atas fondasi kepercayaan mutlak. Guru memegang otoritas mendidik, murid menundukkan kepala dalam takzim, dan masyarakat menempatkan profesi ini di tempat yang paling terhormat.
Berbalik 180 Derajat, Guru Pahlawan Tanpa Wibawah
Sungguh menyakitkan memandang kondisi moral anak-anak dan penghormatan terhadap pendidik saat ini. Segalanya berbalik arah.
Kini, sedikit saja guru menegur, ia berisiko dilaporkan ke orang tua, bahkan ke kepolisian. Lebih mengerikan lagi: kita menyaksikan berita di mana murid berani mengancam, memukul, hingga mengeroyok gurunya sendiri seolah-olah pendidik itu tidak memiliki harga diri sama sekali.
Di sini letak kesedihan yang mendalam: sistem perlindungan dan hukum kita seolah-olah tidak berpihak pada mereka yang berjuang mendidik. Peraturan sering kali membungkam kewibawaan pendidik tanpa melihat konteks tanggung jawab besar yang mereka pikul di dalam kelas.
Dan yang lebih menyayat hati adalah pandangan para pemimpin negeri kita sendiri.
- Ada menteri keuangan yang berani menyebut guru sebagai "beban negara".
- Ada menteri agama yang menyarankan: "Jika ingin sejahtera, jangan jadi guru, jadilah pedagang saja."
- Ironi yang mencengangkan: negara mampu menyiapkan anggaran besar untuk gaji penyaji makanan program gratis atau pengantar layanan, namun gaji guru yang mendidik masa depan bangsa sering kali belum cukup untuk membeli seragam yang layak maupun pasangan kaos kaki yang baru.
Bandingkan Perlakuan Negara Lain: Guru Sebagai Warga Utama
Sungguh mata kita terasa perih jika membandingkan perlakuan ini dengan bangsa-bangsa lain yang memuliakan pendidiknya:
✅ Brasil: Guru digaji setara dengan anggota dewan dan pejabat tinggi daerah; kehormatan mereka dilindungi undang-undang dengan tegas.
✅ Jepang: Guru menerima tunjangan rumah dan kendaraan, serta status sosial yang sangat tinggi di mata masyarakat.
✅ Finlandia: Diakui dunia sebagai pendidikan terbaik; guru harus lulus magister dengan seleksi ketat, dihormati setara dokter atau insinyur, dan memiliki otonomi penuh.
✅ Singapura: Gaji dan tunjangan sangat kompetitif, karier jelas, fasilitas lengkap, dan penghargaan sosial yang tak tergoyahkan.
✅ Korea Selatan: Guru disebut "Guru Bangsa", hidup sejahtera dan dijunjung tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa : Peribahasa yang Salah Kaprah
Kita sering mengulang ungkapan indah: "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa."
Sebuah rangkaian kalimat yang terdengar indah, tetapi justru seakan menjadi pembenaran agar kita bebas mengabaikan para guru.
Padahal Uungkapan itu sejatinya adalah penghormatan tertinggi, bukan alasan untuk penelantaran guru. Mereka disebut tanpa tanda jasa karena tidak menuntut balasan pribadi dari murid yang telah sukses berkat tangan mereka. Namun, mereka tetap berhak sepenuhnya atas:
✅ Kesejahteraan yang layak dari negara
✅ Perlindungan hukum yang adil
✅ Kehormatan dan martabat yang terjaga
Bagaimana mungkin kita mengharapkan murid tumbuh bermoral dan menghormati aturan, jika orang yang membimbing mereka saja hidup dalam ketidakpastian, merasa lemah, dan tidak dilindungi oleh hukum maupun pemimpinnya?
Panggilam Kesadaran ; Mari Kembali pada Martabat yang Benar
Kepada para orang tua, masyarakat, dan terlebih lagi kepada para pejabat yang lupa diri:
Jangan biarkan profesi mulia ini terus tergerus harga dirinya. Jika kita ingin membangun bangsa yang bermoral, kita harus mengembalikan posisi guru sebagaimana tempatnya yang sejati: orang tua kedua di sekolah, penjaga gerbang masa depan yang mulia.
Hentikan pandangan merendahkan. Ubah kebijakan yang membiarkan mereka menderita. Berikan perlindungan hukum yang adil. Jangan biarkan ungkapan "pahlawan tanpa tanda jasa" menjadi pemanis bibir saja di tengah kenyataan pahit yang mereka telan setiap hari.
Karena satu hal yang pasti: Kita semua—dari pejabat tertinggi hingga rakyat biasa—tidak akan pernah menjadi seperti saat ini tanpa didikan dan ketulusan seorang guru.
Semoga tulisan ini menyentuh hati yang beku, membuka mata yang tertutup, dan mengembalikan rasa hormat yang hilang.
(To The Point)

Komentar