Di Balik Pidato Indah Presiden, Rakyat Mantab Menuju Matang

Penulis: Gempita Prahara
dari mantab ke matang
Ada jurang yang sangat lebar antara deretan angka pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan oleh pejabat di atas panggung, dengan napas kehidupan nyata yang terasa sesak di bangku-bangku kayu rakyat kecil. Kita mendengar klaim manis, ekonomi tumbuh di angka 5 persen, rakyat dikatakan paling bahagia di dunia. Namun, ketika kita turun berkeliling menyapa warga dan duduk bersama mereka di tempat sederhana, kenyataannya sungguh jauh berbeda. 
 
Dulu, rakyat kita masih bertahan dengan mantab, memakan sisa tabungan hasil keringat masa lalu. Kini, masa itu telah berlalu. Kita sampai pada satu titik getir, menyaksikan rakyat tidak lagi memakan tabungan, melainkan matang (memakan utang). Mereka berutang sekadar untuk kebutuhan paling dasar, memberi makan anak istri, membeli obat, atau sekadar menyambung hidup hari ini tanpa tahu bagaimana membayarnya esok hari.

Baca ki Juga, 

Kondisi ini terlihat begitu nyata saat berkeliling di beberapa tempat. Di Daeng Ramang, Sudiang, Makassar, saya menyambangi sebuah warung kopi yang dulunya hidup, ramai pengunjung dari pagi hingga sore. Kini, suasananya hening seharian. Pemiliknya, seorang ibu tua yang berjuang sendirian menghidupi anak dan cucu setelah suami telah tiada, hanya bisa menatap sepi. 

Ketika saya dan teman-teman mampir duduk untuk berdiskusi, mata ibu itu  berbinar haru. "Alhamdulillah, ada ki lagi datang, Haji. Ada-ada lagi sedikit pemasukan," ucapnya dengan penuh rasa syukur yang menyayat hati. 

Bahkan dia berharap kami datang setiap hari, karena kehadiran kami berarti nyawa bagi keluarganya.
 
Yang lebih menyakitkan, sosok ibu rajin ini sama sekali tidak tersentuh oleh bantuan sosial pemerintah. Data di meja RT/RW dan petugas mungkin sensus, rapi tersusun, namun birokrasi yang berbelit membuatnya hilang dari peta. Bantuan mengalir ke tempat yang tidak tepat, sementara yang benar-benar berjuang diabaikan. 
 
Di bangku yang sama, duduk seorang bapak dengan wajah penuh beban. Ceritanya menggambarkan jeratan yang tak berujung: "Saya hidup dari utang ke utang,Haji. Adami koperasi, adami pinjaman mawar, pinjol, dan lain-lain. Tidak ada pekerjaan tetapku, hari-hari saya hanya dipenuhi kecemasan bagaimana melunasi utang yang menumpuk."keluhnya.
 
Kisah ibu pemilik warkop dan bapak berutang ini bukanlah kasus tunggal. Mereka hanyalah puncak dari gunung es raksasa yang tak terhitung jumlahnya. Ada jutaan, bahkan ratusan juta saudara kita yang tentu kondisinya jauh lebih pahit namun tak memiliki suara untuk berteriak. Mereka tidak masuk dalam pidato kenegaraan, tidak tercatat dalam statistik yang membual, namun nyatanya mereka adalah tulang punggung negeri ini yang sedang merosot perlahan karena beban yang tak adil.

Baca ki Juga, 
 
Sesungguhnya kenyataan yang terlihat itu adalah teguran dan harapan tulus dari tengah masyarakat kepada pemerintah. 

"Hentikanlah sejenak segala laporan yang merias, angka yang membuai, dan janji yang manis di udara. Untukmu, para pemimpin bangsa, turunlah ke lapangan dan lihat dengan mata kepala sendiri, duduklah di warung kopi sederhana, dengarkan keluh kesah rakyat tanpa perantara birokrasi yang menyaring kebenaran. Lihatlah bagaimana harga kebutuhan sehari-hari mencekik daya beli, bagaimana usaha kecil mati perlahan karena sepi pembeli, bagaimana bantuan yang disiapkan untuk rakyat justru salah sasaran, dan bagaimana jeratan utang menjadi penjara bagi mereka yang tak punya pekerjaan layak."
 
Pertumbuhan ekonomi tidak berarti apa-apa jika hanya dinikmati segelintir orang. Kebahagiaan tidak bisa dipaksakan dengan kata-kata manis ketika perut rakyat masih lapar dan masa depan mereka terancam tagihan yang menumpuk. Negara hadir untuk melindungi dan mengangkat yang lemah, bukan membiarkan mereka tenggelam dalam laporan palsu. 
 
Semoga catatan ini menjadi cermin yang jernih agar kita semua, terutama yang memegang kendali, terbangun dan benar-benar bekerja mengembalikan harapan, keadilan, dan kesejahteraan yang sejati bagi seluruh rakyat Indonesia.(ttp) 
 
Baca ki Juga, 

 


Komentar