Penulis: Khairil Anas
![]() |
| Mahkota Kekecewaan untuk Rocky |
"Kalau tidak mampu memukul, lebih baik merangkul.", ungkapan itulah yang berlaku di lingkungan istana, tatkala kita menyaksikan peristiwa penting di hari Jumat, tanggal 2 Oktober 2026.
Publik Kecewa dengan Bung Rocky
Sebuah kekecewaan yang dipicu oleh keputusan Rocky Gerung menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Sosok yang selama ini dijadikan rujukan akal sehat itu, resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Pria lajang yang lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959 itu, yang sebelumnya dengan bangga melabeli dirinya sebagai OPOSISI, kini berganti narasi menjadi, "Oh, akhirnya dapat posisi."
Hilang sudah osok yang selama ini dikenal lantang mengkritik kebijakan penguasa dengan argumen yang tajam dan pedas. Kini dia berdiri sumringah di barisan para pejabat yang dilantik. Wajah yang biasa kita saksikan penuh ketegasan, kini tampak tenang dan penuh takzim menerima penunjukan tersebut. Banyak yang bertanya-tanya:
Apakah suara kritis itu kini telah menemukan tempat yang nyaman? Atau justru telah kehilangan alasan untuk bersuara?
Rocky Menanggapi Kekecewaan Publik
Saat ditanya oleh wartawan mengenai alasannya bergabung, ia justru balik bertanya: "Alasan gua menolak apa?"
Sebuah jawaban yang singkat, namun memancing banyak pertanyaan. Di satu sisi, terlihat logis, bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk menolak sebuah kepercayaan. Namun di sisi lain, pertanyaan itu seakan melupakan kritikan yang selama bertahun-tahun telah dia sampaikannya terhadap kebijakan-kebijakan yang kini justru ia masuki lingkarannya.
Apakah selama ini kritikannya memang bertujuan, hanya untuk meminta jatah jabatan? Ataukah ketidakmampuannya menolak karena tawaran yang diterimanya begitu menggiurkan?
Hati nurani rakyatlah dan juga langkah nyata Rocky Gerung nanti, yang akan menilai jawaban mana yang lebih mendekati kebenaran.
Ada Teladan dari Para Ulama dalam Menjaga Jarak dengan Kekuasaan
Sejak lama, para ulama dan para cendekiawan memberikan tuntunan yang sangat dalam dan bijaksana. Orang-orang yang memegang amanah kebenaran itu berusaha menjaga jarak yang cukup dengan lingkaran kekuasaan. Bukan karena membenci penguasa, melainkan karena memahami sifat kekuasaan yang memikat dan membutakan.
Tradisi keilmuan Islam mengenal istilah "Ulama Suu'" atau ulama yang buruk, dan salah satu ciri utamanya adalah mendekati penguasa demi kepentingan duniawi.
Memang peringatan ini, tidak termasuk dalam aturan hukum yang tertulis, tetapi dipatuhi oleh jajaran cendekiawan, mengacu pada pengalaman sejarah yang panjang, serta diperkuat oleh kebijaksanaan para leluhur kita. Bahwa cerdik cendekia, alim ulama harus menjaga jarak yang cukup dari lingkaran kekuasaan.
Ada lima alasan utama mengapa hal ini menjadi perhatian serius.
1. Menjaga Independensi dan Kebenaran
Sebagaimana diketahui, alim ulama dan kalangan cerdik cendekiawan, adalah pembawa dan penegak kebenaran. Mereka bukan penegak kebijakan.
Sehingga, ketika mereka masuk ke dalam lingkaran kekuasaan, dikhawatirkan nasihat dan peringatannya perlahan berubah menjadi persetujuan, dan hukum kebenaran yang dibawanya disesuaikan dengan keinginan penguasa. Padahal seharunya keinginan penguasalah yang harus mengikuti hukum kebenatan yang dibawa oleh Alim Ulama.
2. Menjaga Diri dari Godaan Duniawi
Sudah menjadi hukum tetap, bahwa kekuasaan membawa pada kemewahan, kenyamanan, dan penghormatan yang bisa memikat siapa saja.
Seseorang yang awalnya berniat baik, ingin memperbaiki dalam dalam, perlahan bisa tergerus oleh fasilitas dan kenyamanan yang diberikan. Jiwa yang awalnya Zuhud (menjauhi kelebihan duniawi) perlahan berubah dan menjadi semakin silau di tengah kemewahan istana.
3. Menjaga Kepercayaan Umat
Kepercayaan hanya akan muncul apabila pembela berdiri bersama umat, akan tetapi ketika orang yang dipercaya sebagai pembela rakyat terlihat berdiri berdampingan dengan penguasa yang sering dikritik, maka umat akan bingung. Apakah ia masih di pihak kita? Atau sudah di pihak mereka?
Kepercayaan yang susah payah dibangun sekian lama, bisa runtuh dalam sekejap.
4. Mencegah Perpecahan Umat
Lingkaran kekuasaan penuh dengan persaingan dan kubu-kubu politik. Jika pembimbing umat masuk ke dalam pusarannya, umat pun akan terbelah, sebagian akan berusaha mencari sosok pengganti, sebagian lagi mengikuti ke mana pembelanya pergi. Padahal, kebenaran akan melemah ketika pembawanya telah terkotak-kotak oleh kepentingan politik.
5. Menjaga Fokus pada Tugas Asli
Tugas utama para pewaris nabi adalah mendidik, membimbing, dan memperbaiki akhlak masyarakat, membina mental dan moral umat, oleh karenanya mereka harus istiqomah berada di tengah-tengah Umat.
Sedangkan menangani urusan pemerintahan memakan waktu, tenaga, dan pikiran yang sangat besar, sehingga ketika ulama masuk ke dalam lingkungan kekuasaan, dikhawatirkan tugas yang paling utama akan terbengkalai.
Meskipun Rocky Gerung bukan muslim, sehingga sebagian orang akan berkata, dia bukan ulama, oleh karena itu tidak perlu tunduk pada aturan alim ulama itu.
Pendapat seperti ini perlu diluruskan. Bahwa Alim Ulama adalah bahasa Arab yang bermakna orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan yang luas, sehingga setiap orang yang memiliki wawasan keilmuan, maka dia disebut Ulama, meski dia non Muslim.
Meski Dirangkul Jangan Melupakan
Kembali pada peristiwa yang kita saksikan. Meskipun kita kaget dan tercengang, tapi mari kita tetap berusaha, untuk tidak menghakimi niat seseorang. Karena hanya Allah yang mengetahui isi hati yang paling dalam dari setiap hamba-Nya.
Namun peringatan para ulama di atas menjadi cermin yang jernih untuk kita semua renungkan.
Sikap penguasa dalam merangkul para oposisi memang lebih mulia daripada memukul. Tinggal kita berharap, semoga orang yang dirangkul itu, tidak melupakan kelompok yang selama ini dia perjuangkan.
Memang, setiap orang punya hak untuk menerima atau menolak ajakan untuk masuk ke dalam istana, apalagi untuk maksud yang mulia, menasihati penguasa.
Justru, kita sangat membutuhkan orang yang berani berkata benar di hadapan penguasa. Meskipun sejarah mengingatkan kita, bahwa sangat sedikit orang yang masuk ke dalam istana, lalu keluar dengan kebenaran yang utuh seperti saat ia masuk. Semoga Rocky Gerung termasuk yang sedikit itu.
Maka berangkat dari peristiwa yang mencengangkan itu, maka melalui tulisan ini, kami menyampaikan pesan penting yang ditujukan kepada diri kita semua.
Jika kebenaranmu hanya berani disampaikan saat kamu berada di luar, dan menjadi lemah saat kamu berada di dalam, maka sebenarnya kebenaran itu tidak pernah kamu miliki. Ia hanya alat yang kamu gunakan, untuk mendapatkan kursi kedudukan yang nyaman.
Baca juga: Ketika Pemimpin Lupa Cara Memimpin
(Artikel ini mengulas tentang bagaimana sikap penguasa saat ini dalam menjalankan kekuasaannya).
Akhirnya, kita berharap semoga beliau yang baru saja dilantik dapat membuktikan bahwa nasihat dari dalam bisa sama lantangnya dengan kritik dari luar. Semoga ia tidak menjadi bagian dari sistem yang selama ini ia perbaiki. Dan semoga kita semua belajar satu hal penting:
Integritas itu bukan sikap yang ditunjukkan saat kita tidak memiliki apa-apa. Integritas sejati adalah tetap berdiri tegak, bahkan ketika kita baru saja diberi segalanya.
Renungan lain: LEMPU NA GETTENG: Dua Pilar yang Menopang Kehidupan
(Artikel yang mengulas pentingnya mempertahankan kejujuran dan keteguhan Pendirian di atas kebenaran, dua pilar yang tidak boleh tergoyahkan).
Karena rakyat tidak butuh banyak pejabat yang tersenyum di istana. Rakyat hanya butuh sedikit saja orang yang siap membela kebenaran, baik ketika dia di luar, maupun ketika di dalam istana. Figur yang tetap berkata benar, apa pun harganya.
Wassalam.

Komentar