Penulis: Khairil Anas
![]() |
| Ibu Guru yang ingin tampil rapi, silakan melihat koleksi batik yang modis dan cantik dengan mengklik tautan ini |
Antara Peringkat dan Moral Siswa, Hilangnya Semangat dan Rasa Hormat di Sekolah
Saat berbincang dengan isteri yang berprofesi sebagai guru, tiba-tiba terungkap bahwa ternyata saat ini, ada sejumlah perubahan besar di dunia pendidikan kita.
Saya masih teringat dulu ketika sekolah, di penghujung setiap catur wulan atau semester, sebuah papan pengumuman di muka kelas akan menjadi tempat berkumpulnya para siswa, mencermati posisi mereka berada di peringkat berapa? Apakah mereka naik kelas atau tinggal kelas, lulus atau tidak lulus.
Yang mendapat nilai bagus akan bersorak-sorai kegirangan, yang memperoleh nilai kurang bagus akan tertunduk lesu. Kitapun juga akan tahu siapa yang menduduki peringkat pertama, rangking kedua, ketiga, dan seterusnya.
Yang kami fahami bersama ketika itu adalah, bahwa peringkat itu bukan sekadar angka di papan pengumuman, bukan sekedar nilai di buku Raport. Guru-guru dan orang tua kami mengajarkan bahwa nilai bagus yang kami peroleh, peringkat juara yang kami raih adalah bukti kerja keras dan ketekunan, sekaligus sebagai bentuk penghargaan yang diberikan oleh guru kami, atas ketekunan dan kerajinan kami dalam menjalankan semua tugas kewajiban yang diberikan. Sedangkan yang belum meraih, juga diberi pemahaman bahwa itu adalah penanda, ada yang perlu ditingkatkan, ada yang perlu diperbaiki.
"Sekarang tidak ada lagi istilah peringkat, juga tidak ada istilah tinggal kelas." jelas isteri saya.
Saya tercengang mendegar penjelasannya, terutama ketika dia mengatakan adanya kebijakan yang mengharuskan semua siswa naik ke kelas berikutnya, apa pun hasil belajarnya. Subhanallah.
Memang, niat di balik perubahan ini sebenarnya baik, agar tidak ada anak yang merasa rendah diri, tidak ada yang malu di depan teman-temannya, tidak ada yang merasa dirinya "kurang" atau "tidak pandai".
Niat Baik yang Berdampak Buruk
Namun niat baik itu melahirkan dampak yang justru merusak, karena ketika usaha jerih payah dihargai sama dengan kemalasan, ketika belajar atau tidak belajar tetap naik kelas, maka perlahan-lahan hilanglah dorongan semangat untuk berjuang. Anak-anak mulai berpikir, untuk apa bersusah payah, toh hasilnya sama saja.
Semua orang di negeri ini seakan lupa hal yang paling mendasar, bahwa sejak kita masih berada di dalam rahim ibu, kehidupan sudah mengajarkan kita makna berjuang.
Kita semua yang lahir di dunia ini, adalah pemenang, adalah pemegang juara, setelah mengalahkan jutaan sel yang saling berlomba untuk menerobos menuju kehidupan, dan hanya satu yang berhasil, bukan karena ia paling istimewa sejak semula, tetapi karena ia yang paling gigih berusaha.
Nah, Begitulah hakikat kehidupan ini, Terima atau tidak, persaingan itu tetap ada, usaha itu harus ada, dan hasilnya pun ada. Menghilangkan tanda atas hasil yang diraih sama saja dengan menghilangkan alasan untuk berjuang.
Sering dikatakan bahwa peringkat membuat anak merasa sombong dan yang tidak juara merasa rendah diri. Padahal sesungguhnya sikap itu muncul bukan karena salah peringkatnya. itu karena kita yang salah dalam menjelaskan maknanya, atau boleh jadi karena tidak ada satupun orang yang mau dan mampu menjelaskannya.
Di sinilah peran guru sesungguhnya berada. Bahwa bukan peringkat yang dihapuskan, tetapi maknanya yang wajib disampaikan dengan benar.
Perlu Pemahaman yang Benar
Kepada anak yang meraih peringkat pertama, guru sebaiknya berpesan,bahwa peringkat itu bukan sesuatu untuk disombongkan. Itu adalah hasil dari kerja kerasmu, ketekunanmu, dan disiplinmu yang membuahkan hasil. Syukuri dan jadilah penopang bagi teman-temanmu.
Dan kepada anak yang belum meraih peringkat, guru juga berpesan agar tidak patah semangat, karena itu bukan berarti mereka tidak berharga. Hanya pertanda ada yang perlu diperbaiki dalam cara belajar. Lalu sampaikan kepada mereka, bahwa prestasi yang diraih oleh temannya adalah hasil dari usahanya. Jadikan itu cermin, bukan alasan untuk menyerah. Esok hari siapa yang berjuang lebih giat maka dialah yang akan mendapat peringkat.
Rasa sombong atau merasa rendah diri itu tidak lahir dari angka peringkat, ia lahir dari ketiadaan pemahaman tentang makna usaha. Jika kita menghapus peringkat karena takut menyakiti hati anak-anak, yang terjadi justru sebaliknya. Kita melindungi mereka dari rasa sakit sementara, tetapi kita merampas kesempatan mereka untuk belajar berjuang demi masa depan yang jauh lebih penting.
Dan di tengah segala perubahan sistem itu, ada kemunduran yang jauh lebih mengkhawatirkan, yakni kemerosotan moral dan etika.
Belum lama ini kita menyaksikan sebuah kejadian yang memilukan. Seorang murid memukul kepala gurunya hanya karena ditegur tidak mengerjakan tugas. Di Sinjai Sulawesi Selatan,seorang murid bahkan memukul gurunya di depan orang tuanya, yang seorang Polisi. Di mana rasa hormat kita kepada orang yang membimbing kita?
Dulu kita diajarkan bahwa ilmu itu turun dari keridhaan Allah, melewati keridhaan guru. Menghormati guru adalah bagian dari menghormati ilmu itu sendiri. Sekarang pandangan itu seolah memudar. Guru bukan lagi pemberi ilmu yang dihormati, melainkan sekadar penjaga anak-anak selama jam sekolah. Teguran yang dulu diterima dengan rendah hati kini disambut dengan kemarahan.
Ini bukan sekadar masalah satu kejadian kekerasan. Ini pertanda bahwa kita sedang membentuk generasi yang menuntut hak tanpa mau memenuhi kewajiban. Kita sedang membentuk manusia-manusia yang ingin dihargai tanpa mau menghargai orang lain, yang ingin menerima ilmu tanpa mau berusaha belajar dan menolak diarahkan.
Di satu sisi, kita takut anak-anak merasa tersaingi, sehingga kita hilangkan perbedaan prestasi. Tetapi di sisi lain, kita lupa menanamkan perbedaan antara benar dan salah, kita lupa mengajarkan anak-anak kita itu untuk menghormati orang tua, kita lupa mengingatkan mereka untuk menerima bimbingan dan mendengarkan nasihat.
![]() |
| 👉Menghargai prestasi anak tidak harus mahal. Anda bisa memberikan kejutan kecil berupa pilihan tas sekolah anak berkualitas yang ramah di kantong lewat tautan ini. |
Memberikan pujian dan penghargaan kepada murid-murid yang berprestasi, bukan berarti kita harus mempermalukan anak-anak di depan kelas dengan peringkat yang dipajang di papan tulis. Bukan pula berarti kita menolak kemajuan di dunia pendidikan. Tetapi kita memang harus menemukan jalan tengah yang bijaksana. Bahwa tetap harus ada penilaian yang jujur, tetap wajib ada standar yang harus dipenuhi, tetap ada penghargaan atas usaha, namun semuanya disampaikan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Peringkat boleh tidak dipajang di dinding, tetapi setiap anak berhak mengetahui posisinya, kemajuannya, dan apa yang perlu diperbaiki agar ia tahu ke mana ia harus melangkah.
Perlu Perhatian Serius Kita Semua
Kepada para pengambil kebijakan, mari kita perbaiki arah ini. Jangan sampai demi menyelamatkan perasaan anak-anak, kita justru mematikan semangat mereka. Jangan sampai kita menciptakan lingkungan yang nyaman untuk masa kini, tetapi rapuh untuk masa depan mereka. Generasi yang kita didik hari ini bukanlah generasi untuk hidup di dunia tanpa persaingan dan tanpa usaha. Mereka akan hidup di dunia nyata di mana hasil memang berbeda-beda sesuai dengan usaha yang ditanamkan. Jika kita tidak membiasakan mereka berjuang sejak dini, lalu kapan lagi?
Kalau bukan kita, kalau bukan guru-gurunya yang mengajarkan pentingnya berusaha, lalu siapa lagi?
Kalau tidak dengan prestasi dan peringkat untuk memberi nilai dan harga atas sebuah usaha, lalu dengan apa lagi?
Kepada para guru, tetaplah semangat. Kalian adalah sosok yang penuh kemuliaan dan marwah yang perlu didudukkan pada kedudukan yang tinggi, pada kedudukanmu yang terhormat. Kalian bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi kalian adalah pembentuk jiwa. Di tangan para guru terletak bukan sekadar nilai di atas kertas, melainkan karakter generasi penerus bangsa di masa datang. Teguranmu bukan hukuman, itu kasih sayang dalam bentuk bimbingan.
Dan ketika muridmu kelak dewasa, mereka mungkin lupa pelajaran apa yang kau ajarkan, tetapi mereka takkan pernah lupa bagaimana caramu membimbing dan menghormati mereka.
Kepada murid-muridku yang terkasih, belajarlah bukan untuk mengejar peringkat semata, tetapi untuk membangun dirimu agar kelak mampu berdiri tegak dan bermanfaat bagi sesama. Ketahuilah bahwa teguran guru bukanlah kebencian, itu adalah tanda perhatiannya agar kamu tidak tersesat. Hormatilah gurumu, karena tanpa rasa hormat, ilmu apapun yang kau dapatkan takkan pernah menetap di hati.
Kecemasan dalam Dunia Pendidikan
Para pembaca yang budiman. Saat ini, kita sedang berdiri di persimpangan jalan, satu arah menuju kenyamanan sesaat, dengan hilangnya istilah peringkat, rangking atau juara dengan alasan menghilangkan kecemburuan, rasa rendah diri pada anak+anak di sekolah. Namun di sisi lain, tanpa sadar kita sedang menumbuhkan kelemahan pada diri anak-anak kita menghadapi masa depan yang semakin berat.
Jangan biarkan generasi kita tumbuh tanpa semangat berjuang, tanpa rasa hormat, dan tanpa kesadaran bahwa setiap hasil diperoleh dari usaha yang sungguh-sungguh.
Di sinilah peran penting kita sebagai orang tua dan pendidik di luar jam sekolah. Ketika sekolah membatasi ruang kompetisi demi regulasi, maka di rumahlah benteng pertama pembentukan karakter itu harus diperkuat. Anak-anak harus tetap diajarkan esensi dari sebuah perjuangan, rasa hormat kepada sesama, dan bagaimana menyikapi sebuah kegagalan dengan bijak.
![]() |
👉 Klik di sini untuk melihat koleksi Buku Parenting & Pembentuk Karakter Anak Terbaik di Shopee |
Kita ingin menyongsong Indonesia Emas, bukan Indonesia Cemas. Dan Indonesia Emas takkan pernah lahir dari generasi yang tidak diajarkan berjuang, tidak diajarkan menghormati, dan tidak diajarkan bahwa kemenangan adalah milik mereka yang tak pernah berhenti berusaha.
Kepada segenap guru di negeri ini, semoga tulisan ini menjadi pengingat betapa mulianya tugas yang kalian emban. Kepada murid-murid yang tengah bersiap kembali ke sekolah, bangunlah dengan semangat, karena masa depanmu, bukan ditentukan oleh guru-gurumu, tetapi ditentukan oleh rasa hormatmu kepadanya, dan kepada ilmu yang diberikannya, dan seberapa tulus dan gigih kau berjuang meraihnya ilmu itu.
Tantangan mendidik anak di era sekarang memang tidak bisa lagi diserahkan sepenuhnya kepada lembaga sekolah. Ketika sistem pendukung di sekitar kita terasa kian rapuh dalam menjaga moral generasi muda, tanggung jawab terbesar kembali ke meja makan rumah kita sendiri.
Salah satu literatur yang membuka mata saya secara ekstrem tentang realitas ini adalah buku 'Parenting di Negara Gagal'. Buku ini menjabarkan dengan gamblang bagaimana orang tua harus mengambil alih kendali penuh demi menyelamatkan mental anak dari lingkungan yang salah arah.
Sebagai panduan bersama, berikut telah saya kurasi beberapa daftar buku wajib baca yang sangat saya rekomendasikan untuk para guru dan orang tua hari ini.
Daftar Buku-buku Wajib Baca untuk Guru dan Orang Tua
- Buku Anakologi "Panduan Dan Latihan Untuk Kenali Dan Pahami Anak" (Buku Parenting Islami) sebuah karya yang cocok dijadikan sebagai rujukan dalam memahami tanggungjawab kita sebagai orang tua dalam mendidik anak sesuai dengan tuntunan syariat.
- Parenting di Negara Gagal, buku ini menyoroti masalah beban pengasuhan anak di tengah persoalan sosial dan politik sebuah negara.
- Ayah yang Dirindukan, cocok untuk menjadi panduan bagi para ayah yang sibuk, agar tetap menjadi sosok yang bermakna dan andalan keluarga.
- Parenting ala Rasulullah, Buku yang bersumber dari Al-Qur'an dan hadits shahih untuk mendampingi tumbuh kembang anak secara Islami.
- Ayah, Luka Pertamaku adalah kumpulan tulisan tentang harapan yang tak terpenuhi, kasih sayang yang terasa jauh, dan perjuangan menerima bahwa luka terdalam kadang datang dari orang yang paling kita cintai.
Baca Juga,




Komentar