Penulis: Khairil Anas
Sebuah Pelajaran dari Balairung Rapat di Istana
Peristiwa itu baru saja terjadi, masih hangat dan masih ramai dalam perbincangan rakyat kerajaan. Sebagian melihatnya sebagai peristiwa biasa, yang lain hanya menganggapnya sebagai sekilas info, namun bagi mereka yang peka terhadap nilai-nilai kehormatan, ini adalah luka yang dalam.
Seorang Menteri sedang menjalankan tugas di Balairung istana, memimpin rapat, dikelilingi oleh orang-orang yang mempercayainya, yang menghormatinya sebagai pemimpin, sebagai sosok yang bekerja, dan sebagai manusia yang berintegritas. Di tengah rapat itu, telepon berdering. Sebuah panggilan tiba-tiba mengubah segalanya.
Tanpa tedeng aling-aling, saat itu juga. Tanpa jeda. Tanpa kesempatan menyelesaikan kalimat terakhir. Tanpa kesempatan menutup rapat dengan salam perpisahan yang wajar. Tanpa ucapan terima kasih atas waktu yang telah dihabiskan, tanpa penghargaan atas keringat yang telah menetes, tanpa pesan penutup kepada mereka yang sedang mendengarkannya.
Sang menteri diberhentikan, di tempat...! ya, di hadapan semua orang.
Segelintir Orang Berusaha Mengajak Berprasangka Baik
Di tengah keterkejutan itu, dalam diri kita, ada usaha untuk tetap berprasangka baik.
Barangkali saja, ya ini barangkali, sebagai seorang militer yang ahli strategi, Sang Kepala Negara memiliki pertimbangan yang tidak terlihat oleh mata awam kita. Mungkin beliau sengaja menarik mundur menterinya yang terlalu berani itu, bukan karena tidak menghargai kerja dan semangatnya, tetapi justru ingin menyelamatkannya.
Karena memang seperti itulah dalam taktik pertempuran di medan perang. Bila ada prajurit yang terlalu berani menerjang ke depan, dan dipandang telah menjadi sasaran utama amunisi musuh, maka Sang prajurit itu akan ditarik mundur ke belakang. Bukan untuk mempermalukannya, melainkan untuk melindunginya, agar di saat yang tepat, ia bisa kembali ke garis depan dengan kekuatan yang baru.
Boleh jadi, itulah yang sedang terjadi. Memang kita menyaksikan Sang Menteri yang berani bertaruh nyawa itu sedang dihantam kebencian para penjahat, perampok kekayaan negeri, sehingga Sang Kepala Negara menariknya mundur, agar tidak hancur lebih dulu dalam pertempuran yang masih panjang.
Haruskah Dengan Cara Begitu?
Tetapi, pertanyaan demi pertanyaan di hati rakyat tetap kembali muncul.
Tidak bisakah sebuah kebijakan yang benar itu dilakukan dengan cara yang tetap terhormat?
Tidak bisakah Sang Menteri dibiarkan menutup rapatnya dengan tenang, dan membiarkan kepalanya tetap tegak di hadapan bawahannya, membiarkan penghormatan yang melekat padanya tidak runtuh seketika?
Tidak bisakah Sang Menteri dipanggil baik-baik, setelah rapat selesai, untuk datang menghadap ke istana. Lalu Sang Kepala Negara itu menyampaikan pesan dengan lembut dan bijaksana:
"Kau telah terlalu jauh ke garis depan, dan musuh-musuh kebatilan sudah mengarahkan senjatanya kepadamu. Sekarang, mundurlah sebentar. Istirahatlah. Kami tidak ingin kau gugur sebelum kemenangan datang. Perjuangan ini masih panjang, dan kami membutuhkanmu untuk pertempuran yang lebih besar nanti."
Bila itu dilakukan, bukankah strategi itu tetap berjalan efektif?
Bukankah tujuan yang sama tetap tercapai , beliau mundur, selamat dari sasaran musuh, namun tanpa kehilangan satu hal pun, baik martabatnya, penghormatnnya, serta penghargaan yang layak kepada seorang manusia yang telah berjuang.
Haruskah sebuah kebijakan yang tepat selalu diiringi dengan cara yang kasar?
Haruskah sebuah keputusan strategis selalu meruntuhkan harga diri seseorang di hadapan orang banyak?
Sebaiknya Kita Kembali pada Falsafah Leluhur
Di tengah segala kegelisahan ini, mari kita kembali pada kearifan leluhur yang telah diwariskan turun-temurun kepada kita, di semua suku di Nusantara ini tentu memiliki konsep penghormatan serta adab yang dijunjung tinggi sejak dahulu.
Di tanah Bugis, ada konsep Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.
Sipakatau berarti saling memanusiakan.
Sipakalebbi berarti saling memuliakan.
Sipakainge bermakna, saling mengingatkan
Di semua suku di Negeri ini, tentu memiliki konsep yang sama, dan telah menjadi watak bangsa kita sejak dahulu. Inilah yang menjadi pedoman hidup orang Bugis, baik saat memimpin rakyat maupun saat hidup di tengah masyarakat. Bahwa setiap manusia, apa pun kedudukannya, adalah makhluk yang terhormat. Bahwa kita hidup bukan untuk saling merendahkan, melainkan untuk saling meninggikan.
Memang dalam kita hidup ini, sesekali kita mengalami yang namanya alpa,khilaf dan lupa, maka itulah sebabnya mengapa ada konsep sipakainge (saling mengingatkan).
Kita saling mengingatkan, bahwa kekuasaan boleh berpindah, tetapi martabat manusia tidak boleh diruntuhkan.
Konsep Sipakatau, Sipakalebbi, dan sipakainge, mengajarkan kepada kita, bahwa tegas boleh, tetapi jangan kasar. Berbeda pendapat boleh, tetapi jangan sampai menghilangkan rasa hormat. Memimpin dengan tegas, silakan...!
tetapi wajib untuk memuliakan orang yang dipimpin.
Nilai inilah yang sedang kita rindukan. Nilai inilah yang harus tetap kita jaga agar tidak pudar ditelan zaman. Agar Sipakainge, Sipakatau dan Sipakalebbi tidak sekadar menjadi kata-kata indah di atas kertas, tetapi menjadi watak yang hidup, di dalam hati kita, di antara kita, dan di dalam cara kita memperlakukan satu sama lain.
Sipakatau dan Sipakalebbi tidak berdiri sendiri. Ia berakar pada dua pilar utama masyarakat Bugis, yakni Lempu na Getteng, bermakna kejujuran dan keteguhan pendirian.
Baca di sini, LEMPU NA GETTENG: Dua Pilar yang Menopang Kehidupan
Pesan untuk kita semua, dan khususnya kepada para pemimpin
Suatu saat nanti, yang berkuasa itu akan mendapat giliran untuk selesai. Semua akan turun dari panggung kehidupan, turun dari tahta kepemimpinan. Tidak ada jabatan yang abadi. Tidak ada kekuasaan yang menetap.
Tentu pada saat tiba giliran untuk turun itu, semua berharap mendapat penghormatan. Semua menginginkan turun dengan iringan doa dan penghargaan.
Sebelum waktu itu tiba pada dirimu, maka turunkanlah orang-orangmu dengan perlakuan yang penuh rasa hormat. Ucapkan terima kasih kepadanya, dan lepaskan kepergiannya dengan harkat dan martabat tetap melekat padanya.
Pesan Penting dan Peringatan untuk kita semua
Fenomena ini adalah bagian dari tanda, bahwa kita sedang berada di zaman terbaliknya nilai-nilai dan norma kehidupan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk kembali menengok jauh ke belakang, mencermati dan mempelajari kembali nubuat dan Pappaseng To Riolo ta (Pesan-pesan Leluhur), sebagai bekal untuk menjaga diri dan keluarga.
Baca di sini, Ironi Akhir Zaman: Saat Orang Baik Disingkirkan dan Orang Jahat Dimuliakan
Agar kita tetap istiqomah di atas kebenaran, dan tidak ikut larut dalam rusaknya nilai-nilai dan hilangnya penghormatan pada kemanusiaan. Karena pada akhirnya, ukuran kemuliaan sebuah bangsa bukanlah seberapa keras pemimpinnya, melainkan seberapa dalam rasa hormat yang dimilikinya, untuk warganya dan untuk sesama. Hormat kepada jasa pendahulunya, dan kepada manusia, apa pun kedudukannya.
Sehingga pada saatnya tiba, dia juga akan mundur dengan terhormat, istirahat dengan Damai, dan tetap melangkah dengan tegak.
Karena cara kita berpisah, sama pentingnya dengan cara kita memulai.
Oleh karena itulah penting bagi kita untuk menjunjung tinggi konsep Sipakatau dan Sipakalebbi, Sipakainge, saling memanusiakan, saling memuliakan dan saling mengingatkan.
Wassalam.

Komentar