Penulis: Khairil Anas
Hari ini kita menyaksikan langsung, dengan mata kepala sendiri, sebuah kehidupan yang tidak memiliki batas jelas, antara moralitas dan ambisi kekuasaan.
Sungguh itu, sebuah kenyataan pahit yang menegaskan bahwa kita sedang menyaksikan ironi akhir zaman.
Mari kita tengok layar ponsel yang asyik kita pelototi setiap hari itu. Orang-orang dengan santai membuat kebohongan demi untuk membuat konten yang viral, dan parahnya orang-orang lebih menyenangi sajian konten yang penuh kebohongan,rekayasa dan kosong dari hikmah.
Sementara di sisi lain, konten-konten yang bermuatan kejujuran dan kebenaran, diabaikan, dipojokkan dan dianggap sebagai ancaman.
Kita melangkah ke lingkungan sekitar kita, terlihat orang jahat dimuliakan karena popularitasnya, sementara orang baik justru disingkirkan karena menolak berkompromi.
Di saat inilah, kita menyadari, ramalan kuno para leluhur bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah realitas yang sedang kita jalani, sedang kita alami secara langsung saat ini.
Harga Mahal Sebuah Kelurusan Sikap
Dalam kacamata budaya, menjaga kelurusan sikap di tengah badai kepentingan, seperti saat ini adalah ujian kemanusiaan yang sesungguhnya. Tengok saja bagaimana ruang publik kita baru-baru ini diramaikan oleh akhir masa jabatan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan.
Ketika beliau memilih bertindak lempu (lurus) dengan merapikan tatanan birokrasi dan memegang prinsip getteng (teguh) dalam mengamankan keuangan negara, perjalanannya justru harus terhenti di tengah jalan. Peristiwa ini bukan sekadar pergantian jabatan biasa, melainkan sebuah refleksi kultural yang nyata bagi kita semua.
Ketika keteguhan kita untuk bertindak lurus justru berujung pada penyingkiran, kita diajak melihat kembali petuah kuno, bahwa di suatu masa, ongkos untuk tetap menjadi orang baik memang teramat mahal, dan boleh jadi masa yang diramalkan leluhur kita itu telah tiba di hadapan kita. Terbukti dari berbagai fakta yang nyata terjadi di depan mata kita.
Kita sedang menyaksikan kenyataan yang memilukan, orang jujur tersisih, penipu diagungkan, kebenaran dibungkam, kebohongan bersorak. Saya, Anda dan Kita semua serempak bertanya, ke mana arah dunia ini menuju?
Ironisnya, semakin riuh kita menjerit bertanya, semakin menuli dan membuta para pemangku kekuasaan di atas sana.
Zaman Edan dari Berbagai Perspektif
Perspektif Serat Kalatidha dan Jayabaya
Dari tanah Jawa, pujangga Ranggawarsita menuliskan dalam Serat Kalatidha gambaran yang persis seperti yang kita rasakan hari ini:
"Amenangi zaman edan, ewuh aya ing pambudi. Milu edan nora tahan, yen tan milu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasannipun. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali, isih begja kang eling lan waspada."
Artinya:
"Datanglah zaman yang gila, sulit menentukan jalan yang benar. Jika ikut gila, hatimu tidak akan kuat. Namun jika tidak ikut, takkan mendapat bagian, akhirnya bisa mati kelaparan. Semua ini kehendak Allah. Berbahagialah mereka yang tampak beruntung karena melupakan kebaikan, tetapi jauh lebih beruntung mereka yang tetap ingat dan waspada."
Dalam ungkapan lain, Jayabaya juga memperingatkan datangnya masa ketika orang-orang berkuasa laksana penjahat:
"Raja bagaikan pencuri, penasihat bagaikan pembunuh, hukum dijual belikan, dan orang suci dijadikan bahan tertawaan."
Yang perlu kita ketahui, bahwa inti dari pesan ini, bukan mengajak kita untuk menyerah pada keadaan, melainkan ajakan untuk waspada. Ranggawarsita berkata dengan bijaksana, ikut terbawa arus memang terlihat menguntungkan sementara, tetapi mereka yang tetap ingat dan waspada, itulah mereka yang sesungguhnya beruntung.
Kompas Moral Pappaseng To Riolo
Dari Tanah Bugis, juga terukir indah pesan leluhur dalam naskah Lontara', yang dikenal sebagai Pappaseng To Riolo, yang isinya juga menyampaikan hal serupa.
Leluhur kita dari Tanah Bugis tidak menakut-nakuti, tetapi memberikan kompas agar kita tidak tersesat, saat arah kehidupan dunia terasa semakin membingungkan.
Pappaseng itu mengingatkan bahwa saat krisis moral melanda, satu-satunya benteng yang tidak bisa diruntuhkan adalah mempertahankan pilar-pilar luhur yang kokoh, yakni:
- Lempu, tetap jujur, meski kejujuran tidak lagi dihargai
- Getteng, tetap teguh pada prinsip, meski prinsip terasa berat dijunjung
- Siri', tetap menjaga kehormatan diri, meski orang lain tidak lagi malu berbuat nista
- Pesse, tetap berbelas kasih, meski dunia terasa semakin dingin, cuek dan tak mau peduli.
Dalam Lontara' tertulis:
"Dunia ini akan rusak bukan karena kejahatan orang jahat, tetapi karena keheningan orang-orang baik yang memilih diam."
Pappaseng juga tidak menyuruh kita melawan api dengan api. Ia menyuruh kita tetap menjadi terang, di tengah kegelapan yang semakin pekat.
Nubuat Sabda Nabi ﷺ tentang Ruwaibidhah
Kita bercermin ke dalam ajaran Islam, Rasulullah ﷺ telah memberi peringatkan kepada kita, sejak berabad-abad yang lalu tentang fenomena terbaliknya nilai ini:
"Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya. Pendusta dipercaya, orang jujur didustakan; pengkhianat diberi amanat, orang yang terpercaya berkhianat, dan orang bodoh berbicara mengenai urusan orang banyak."
(HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Beliau ﷺ juga bersabda:
"Islam datang dalam keadaan asing, dan akan kembali menjadi asing sebagaimana awalnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing."
(HR. Muslim)
Dan sebuah peringatan yang membuat hati tergetar namun sekaligus menenangkan:
"Akan datang zaman di mana memegang agama bagaikan memegang bara api."
(HR. Thabrani)
Saat kita merasa berat untuk tetap jujur, saat kita merasa sendirian di jalan yang benar, itulah saat sabda Nabi ﷺ benar-benar telah terwujud, di saat kita memegang kebenaran terasa seperti memegang bara api, tetapi itulah tanda bahwa engkau sedang memegang sesuatu yang sangat berharga. Itulah Lempu na Getteng yang diajarkan leluhur Bugis. Teguh memegang prinsip-prinsip kebenaran dan kejujuran, ketika semua orang menganggapnya sebagai sesuatu yang aneh.
Penutup: Tetaplah Menjadi Lilin
Dari tiga sumber yang berbeda itu, dari Jawa, dari tanah Bugis, dan dari sabda Nabi ﷺ, terangkum satu pesan yang sama:
Kegigihan dari orang yang memegang kebenaran bukan dinilai dari seberapa banyak orang yang mengikutinya, tetapi dari seberapa teguh ia berdiri saat semua orang telah berpaling darinya.
Dunia boleh membalikkan ukurannya hari ini, memuja dan memuji para penipu, menyingkirkan orang jujur. Tetapi ingatlah, penilaian manusia itu sementara, penilaian Allah itu abadi.
"Begja-begjane kang lali, isih begja kang eling lan waspada."
Artinya:"seberapapun beruntungnya orang lupa, masih jauh lebih beruntung orang yang ingat dan waspada."
Maka dalam kehidupan kita saat ini, mungkin kita menyaksikan, betapa beruntung mereka yang melupakan kebaikan dan membungkam kebenaran, tetapi yang harus kita yakini adalah jauh lebih beruntung mereka yang tetap ingat dan waspada.
Silesssurekku maneng, sahabatku semua! Tetaplah menjadi lilin! Mungkin secara lahir kita terlihat hancur, tersisih dan terabaikan. Tetapi sesungguhnya kita sedang memegang teguh prinsip kebenaran, menolak untuk ikut larut dalam kegilaan yang sedang berlangsung.
Tidak perlu berteriak untuk terlihat. Cukup tetap menyala dalam gelap. Karena pada akhirnya, sekecil apapun cahaya itu, tidak akan pernah kalah oleh kegelapan. Cahaya tak perlu berkobar, cukup hanya perlu tetap ada, sabar, sampai tiba saat datangnya haqqulyakin, kebenaran yang hakiki.
Wassalam

Komentar