Rappocini : Hutan Rimba Penuh Buah-Buahan, Menjadi Jantung Kota yang Terus Berdenyut dan Pusat Ilmu Pengetahuan

Penulis: Gempita Prahara
To The Point, MAKASSAR - Di jantung Kota Makassar, berdiri sebuah kecamatan yang namanya begitu akrab di telinga namun menyimpan kisah yang belum banyak tertulis dalam naskah-naskah kuno. Namanya tetap berdiri tegak sejak ratusan tahun silam, mengalir bersama perubahan zaman, dan kini berdenyut menjadi pusat kehidupan kota. Itulah Rappocini.
  
Asal Usul Berdasarkan Cerita Tutur
Perlu dipahami dengan jujur sejak awal: kisah asal-usul nama Rappocini belum ditemukan tercatat secara rinci dalam naskah-naskah kuno yang ada hingga hari ini. Namun bukan berarti kisah itu tidak benar. Sebelum ada pena dan kertas, sebelum ada buku dan arsip — sejarah sudah hidup di lidah dan di hati leluhur kita. Sebagian besar catatan tertulis yang kita miliki hari ini pun pada hakikatnya hanyalah rekaman dari cerita tutur yang diwariskan turun-temurun. Cerita yang dijaga oleh lisan-lisan tulus bukan berarti kosong kebenarannya — ia adalah sejarah yang hidup, yang mengalir dari hati ke hati, dari mulut ke mulut, sebagai sanad dan sandaran kebenaran yang dijaga oleh masyarakat itu sendiri.
 
Menurut penuturan lokal yang dihimpun dari generasi ke generasi, nama Rappocini bermula dari seorang tokoh terkemuka, keturunan bangsawan Kerajaan Gowa, yang bergelar Gallarang Rappocini. Beliau adalah tokoh yang pertama kali membuka hutan belantara di kawasan itu, membabat semak belukar, membentuk perkampungan, dan mendirikan pemukiman yang tertata.
Ilustrasi Gallarang Rappocini bersama Pengawalnya
Sebagai tanda penghormatan dan karena beliau adalah pendiri sekaligus pemimpin wilayah itu, masyarakat setempat kemudian menamai wilayah tersebut sesuai dengan gelar beliau — Rappocini.
 
Makna Nama Rappocini dari Buah Berlimpah 
Ketika Gallarang Rappocini pertama kali melangkahkan kaki ke tanah itu, yang terpandang oleh mata beliau adalah pemandangan yang begitu menyejukkan hati. Kawasan itu saat itu masih berupa hutan rimba yang subur dan rimbun, di mana di mana-mana tumbuh beraneka ragam pohon buah-buahan yang berbuah lebat dan berlimpah ruah. Di mana mata memandang, terlihat buah-buahan bergantungan di dahan-dahan yang melengkung.
 
Dalam bahasa Makassar, pemandangan buah-buahan yang tampak berlimpah itu disebut "accini rappo" — yang berarti "terlihat atau dipandang buah-buahan." Dari kata-kata itulah lahir nama Rappocini. Sebuah nama yang lahir bukan dari sekadar pemberian sembarangan, melainkan dari kesaksian mata sendiri atas kebaikan Tuhan yang tertampak dalam kesuburan tanah yang dijanjikan itu.
 
Terpesona oleh keindahan dan kesuburan tanah itu, sekaligus merasa jatuh hati pada kesejukan dan kelimpahan yang terpandang, Gallarang Rappocini pun memutuskan untuk berdiam di kawasan itu bersama para pengikutnya. Beliau tidak sekadar membangun rumah kediaman, melainkan membangun sebuah aula tempat pertemuan — tempat berkumpul, bermusyawarah, dan menyatukan pikiran. Sejak saat itu, nama Rappocini pun menyempurnakan maknanya: bukan hanya tempat yang dipandang penuh buah-buahan, melainkan juga tempat berkumpulnya orang-orang yang bersatu hati.
 
Dua makna itu menyatu indah dalam satu nama: kemakmuran yang datang dari kesuburan tanah, dan kebersamaan yang lahir dari kebijaksanaan pemimpin. Dua hal yang menjadi dasar tegaknya sebuah peradaban yang baik.
 
 Dari Hutan Rimba Menjadi Hutan Ilmu
Berabad-abad telah berlalu sejak hari pertama Gallarang Rappocini memandang tanah itu. Ratusan tahun yang lalu, kawasan Rappocini adalah hutan rimba yang sejuk, dipenuhi rimbunan pohon yang meneduhkan, di mana udaranya masih bersih dan segar, di mana suara burung dan desis angin di antara dedaunan adalah musik alam yang menemani hari-hari penduduk. Di mana-mana mata memandang, yang terlihat adalah tanaman buah-buahan yang tumbuh subur dan berbuah lebat — menjadi makanan dan berkah bagi siapa saja yang tinggal di sana.
 
Namun zaman terus berjalan. Pohon-pohon yang dahulu meneduhkan kini perlahan berganti wajah. Jalan-jalan tanah kini beraspal rapi. Di atas tanah yang dahulu dipenuhi semak dan buah-buahan, kini berdiri bangunan-bangunan yang menjulang, termasuk bangunan ikonik Menara Phinisi-UNM (Universitas Negeri Makassar),milik salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia Timur dan berada di kecamatan Rappocini. Wilayah yang ratusan tahun silam adalah hutan rimba yang sunyi, kini telah berubah menjadi jantung kota metropolitan Makassar yang tak pernah tidur, sekaligus menjadi pusat ilmu pengetahuan. 
 
Kini, Rappocini telah pusat ekonomi, pusat bisnis, serta pusat kegiatan masyarakat kota yang tak pernah berhenti berdenyut. Di sana berdiri gedung-gedung perkantoran, pusat perdagangan, pasar-pasar yang ramai, kampus, jalan-jalan raya yang dilalui kendaraan siang dan malam. 
Tempat yang ratusan tahun silam, riuh dengan desiran angin dan kicauan burung, kini tergantikan oleh meriahnya suara langkah kaki dan kendaraan yang berdatangan dari segala penjuru. 

Ramai orang datang berdagang, bekerja, berurusan, dan berkumpul — seakan-akan makna nama Rappocini yang berarti "tempat berkumpul" itu kini mewujud dalam skala yang jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan oleh Gallarang Rappocini pada masanya. 
 
Makna yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan 
Di tengah segala perubahan wajah kota yang begitu pesat, ada satu hal yang patut kita renungkan bersama. Tanah yang dahulu berbuah lebat kini berbuah kemakmuran. Yang dahulu dipandang sebagai kelimpahan buah-buahan, kini menjadi kelimpahan rezeki dan kehidupan yang mengalir tanpa henti. Dan makna "tempat berkumpul" yang ditinggalkan oleh Gallarang Rappocini ratusan tahun silam, kini tetap hidup dan mewujud dalam ribuan warga yang datang bersatu membangun kehidupan di tanah itu.
 
Ilustrasi Gallarang Rappocini Membangun Pendopo Pertemuan
Nama Rappocini tetap berdiri. Ia menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini. Mengingatkan kita bahwa di balik gedung-gedung megah dan hiruk-pikuk kota, pernah ada sepotong hutan yang subur, pernah ada seorang pemimpin yang membuka hutan dengan penuh harapan, dan pernah ada sebuah nama yang lahir dari kesaksian mata atas kebesaran Tuhan.
 
Maka biarlah nama Rappocini tetap terjaga kemurniannya. Bukan sekadar nama kecamatan di peta kota, melainkan jejak sejarah yang mengingatkan kita: bahwa tanah yang baik adalah tanah yang berbuah kebaikan, dan pemimpin yang baik adalah yang mampu menyatukan rakyatnya — hingga ratusan tahun pun berlalu, maknanya tetap hidup dan mekar bersama zaman, seiring denyut nadi kota yang tak pernah berhenti berdenyut menuju masa depan yang lebih baik. (ttp) 

Baca ki Juga, 



Komentar

Anonim mengatakan…
tempat penjelajahanku.. waktu masih kuliah di tahun 1999 - 2004.... banyak kenangan tersimpan
Khairil Anas mengatakan…
Masya Allah, Tabarokallah