Penulis: Khairil Anas
To The Point, MAKASSAR - Di wilayah Kecamatan Biringkanaya yang kita kenal sebagai "Tepian Kata", tersimpan dua nama tempat yang menyimpan kisah manis sekaligus penuh makna budaya. Itulah Kelurahan Katimbang dan kawasan Sipala yang ada di dalamnya. Kedua nama ini bukan sekadar penanda lokasi, melainkan jejak langkah permaisuri Kerajaan Gowa serta cerminan sikap rendah hati seorang pengawal setia yang diwariskan hingga kini.
Mula Munculnya Nama Katimbang
Dahulu kala, wilayah yang kini menjadi Kelurahan Katimbang belum memiliki nama khusus. Suatu hari, Karaeng Binea, permaisuri Kerajaan Gowa, melakukan kunjungan ke wilayah kerajaan kecil di Biringkanaya. Beliau berjalan didampingi oleh sejumlah prajurit pengawal yang setia, yang dikenal dengan sebutan Tubarania atau Tau Barania.
Saat rombongan berhenti beristirahat di sebuah hamparan tanah yang masih alami, mata mereka melihat pemandangan yang unik: di sana-sini banyak sekali serangga yang terbang berkelompok. Dalam bahasa Makassar, serangga itu disebut Katimbang atau belalang. Karena keunikan pemandangan itu, Karaeng Binea pun menamai tempat tersebut Katimbang. Sejak saat itu, nama itu melekat dan berkembang menjadi nama kampung, hingga kini resmi menjadi salah satu kelurahan di Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.
Kisah Sipala: Setelapak Tanah untuk Masa Tua
Dari perjalanan itulah lahir pula nama kawasan Sipala. Di antara para pengawal yang mendampingi Karaeng Binea, ada seorang prajurit yang hatinya penuh perenungan. Melihat betapa luas dan suburnya tanah di tempat itu, ia pun menyampaikan permohonan dengan sangat sopan dan merendah:
"Oh Karaeng, appala ka butta Sipala lima nakupammantangi sallang punna towa ma"
Artinya: "Tuanku, aku memohon tanah setelapak tangan di tempat ini, guna tempat istirahat di masa tua nanti."
Ungkapan "Sipala Lima" atau setelapak tangan bukan berarti ia meminta tanah yang sangat kecil semata. Itu adalah cara yang sangat halus dan penuh tata krama, mencerminkan sikap seorang bawahan yang tidak ingin terlihat serakah atau menuntut banyak, sekalipun telah mengabdi lama. Ia hanya meminta cukup untuk tempat tinggal yang tenang saat usia tak lagi kuat mengabdi.
Permaisuri pun mengabulkan permohonan itu dengan senang hati. Tanah yang diberikan itulah yang kemudian dihuni oleh pengawal tersebut, lalu diikuti oleh penduduk lain. Seiring berjalannya waktu, kawasan itu pun dikenal dengan nama Sipala, sebagai pengingat akan permohonan yang rendah hati itu.
Filosofi di Balik Dua Nama
Kisah Katimbang dan Sipala mengajarkan kita dua hal penting:
1. Mengambil hikmah dari alam: Nama Katimbang mengingatkan bahwa nama tempat sering kali lahir dari apa yang ada di sekitar kita, menjadi tanda hubungan erat manusia dengan alam.
2. Kerendahan hati yang dihargai: Kata Sipala mengajarkan bahwa permintaan yang disampaikan dengan sopan, sederhana, dan tidak berlebihan justru lebih mudah diterima dan meninggalkan jejak yang abadi. Ini sejalan dengan budaya Pangadakkang dan Siri' na Pacce yang menjunjung tinggi batas tutur kata serta harga diri yang tidak perlu dipertunjukkan dengan kesombongan.
Kini, Katimbang dan Sipala telah tumbuh menjadi kawasan yang ramai dan dinamis. Namun nama-nama itu tetap berdiri tegak, menyimpan pesan masa lalu: bahwa kemajuan tidak harus melupakan sejarah, dan kebesaran jiwa sering kali terlihat dari seberapa sederhana kita meminta dan seberapa baik kita menghargai pemberian.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar