Penulis: Khairil Anas
To The Point, MAKASSAR – Di sisi timur Kota Makassar, tepat di perbatasan yang menyatukan tiga wilayah (Makassar, Maros dan Gowa), terdapat sebuah kecamatan yang namanya menyimpan kelembutan dan kearifan lokal tinggi.
![]() |
| Biringkanaya, tepian kerajaan, tepian kata, tepian kota |
Itulah Biringkanaya, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Maros di sebelah timur dan Kabupaten Gowa di sebelah selatan. Sebagai pintu gerbang alami yang menghubungkan pusat kota dengan dua kabupaten tetangga, nama Biringkanaya bukan sekadar penanda lokasi masa kini, melainkan menyimpan filosofi luhur serta jejak sejarah panjang peradaban masyarakat Makassar.
Jejak Sejarah Wilayah
Secara historis, wilayah yang kini menjadi Kecamatan Biringkanaya ini, dahulunya merupakan bagian dari jaringan kerajaan lokal serumpun yang berada di bawah pengaruh dan naungan kekuasaan Kerajaan Gowa-Tallo. Sejarah mencatat dinamika wilayah ini dan sekitarnya—seperti Sudiang dan Bira—melalui beberapa fase penting:
Wilayah ini pernah masuk ke dalam jaringan Kerajaan Lokal Serumpun (Abad ke-13). Ketika itu kawasan utara Makassar—termasuk Biringkanaya, Sudiang, Bira, hingga Moncongloe—merupakan wilayah komunitas atau kerajaan lokal kecil yang berdaulat secara mandiri. Mereka hidup sebagai masyarakat agraris dan pesisir yang serumpun, belum bersatu di bawah satu imperium besar.
Lalu pada abad ke-15, wilayah ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Kembar Gowa-Tallo hingga abad ke-16.
Ketika Kerajaan Tallo dan Gowa bersekutu menjadi Aliansi Kerajaan, maka wilayah-wilayah di utara Makassar ini mulai terintegrasi ke dalam pusat kekuasaan kembar Gowa-Tallo.
Sudiang, yang kini menjadi bagian utama dari kecamatan Biringkanaya, sempat tercatat sebagai wilayah enclave (daerah kantong) yang sangat strategis bagi Kerajaan Gowa.
Sekitar tahun 1565, integrasi wilayah ini semakin kuat. Sudiang dan kawasan Biringkanaya bergabung ke dalam struktur Bate Salapang (Dewan Adat/Dewan Bendera) Gowa, sementara wilayah tetangganya seperti Bira berada di bawah naungan Kerajaan Tallo.
Perjalanan sejarah ini menjadikan Biringkanaya sebagai saksi penyatuan berbagai komunitas menjadi satu identitas budaya yang utuh.
Masa Kolonial dan Penyesuaian Wilayah
Seiring berjalannya waktu dan masuknya pengaruh kolonial Hindia Belanda, wilayah-wilayah kecil ini disatukan dalam sistem pemerintahan lokal yang disebut Gallarang Appaka (Federasi Empat Gallarang).
Sebelum resmi digabungkan ke dalam administrasi Kota Makassar pada tahun 1971, Biringkanaya berstatus sebagai bagian dari Underafdeling Maros. Wilayah cakupannya saat itu jauh lebih luas, meliputi kawasan inti yang kini berkembang pesat seperti Daya, Bira, Bulurokeng, hingga Tamalanrea.
Asal-Usul dan Pemaknaan yang Tepat
Secara bahasa dan sastra Makassar, pemaknaan nama ini jauh lebih mendalam dan tepat secara filosofis serta budaya. Biringkanaya bermakna "Tepian Kata-Kata", yang secara mendalam melambangkan ungkapan tutur kata yang lembut, halus, santun, dan penuh makna.
Nama ini terbentuk dari gabungan dua kata dasar yang masing-masing memiliki pesan tersendiri:
- Biring: Artinya tepian atau batas. Ini melambangkan kehati-hatian, menjaga ucapan agar tidak melampaui batas kesopanan dan kebenaran.
- Kanaya: Merujuk pada kata, ucapan, atau komunikasi. Ini menunjuk pada prinsip berbicara, beretika, serta adat kesopanan yang menjadi pegangan masyarakat Makassar.
Jika digabungkan, Biringkanaya mengajarkan kita bahwa setiap kata yang keluar dari mulut harus memiliki "batas" yang terjaga: tidak kasar, tidak melukai, dan tetap berada di jalur kebaikan serta kelembutan.
Makna Kultural dan Hubungan dengan Nilai Luhur
Konsep tutur kata yang lembut dan penuh makna ini sangat erat kaitannya dengan prinsip hidup masyarakat Sulawesi Selatan, dan menjadi cerminan nyata dari budaya yang dijunjung tinggi:
Konsep Budaya Terkait
Dalam tradisi kebudayaan orang Makassar dikenal sistem Pangadakkang, yakni sistem adat yang mengatur tata krama, kesopanan, dan etika berbicara.
Biringkanaya adalah perwujudan nyata dari sistem dan ajaran Pangadakkang ini—bahwa berkomunikasi adalah seni yang harus dijalankan dengan penuh penghormatan.
Ada pula yang disebut Tupa'biasang, yakni kebiasaan bertutur kata ramah, halus, dan berhati-hati untuk menghormati tamu maupun lawan bicara, agar tidak menyinggung perasaan pihak lain.
Selanjutnya Siri' na Pacce, yakni prinsip menjaga harga diri dan solidaritas sesama. Salah satu wujud menjaga Siri' yang paling utama adalah dengan menjaga lidah dan ucapan, serta tidak menyebarkan perkataan yang memecah belah atau merendahkan orang lain.
Sistem ajaran, kebiasaan dan prinsip hidup itulah yang tercermin dalam penamaan Biringkanaya itu. Sebuah cerminan karakter masyarakat, yang senantiasa mengedepankan etika, kelembutan, dan keramahtamahan dalam berhubungan dengan sesama.
Sebagai wilayah perbatasan dan tempat bertemunya beragam orang dengan latar belakang yang berbeda beda, maka Biringkanaya menjadi pengingat, bahwa meskipun kita berbeda pendapat atau berasal dari tempat yang berbeda, kita tetap harus menyampaikan segala sesuatu dengan tutur kata yang menyatukan, bukan memecah belah.
Biringkanaya bukan sekadar batas fisik antara kota dan kabupaten, Biringkanaya adalah batas budi pekerti yang menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia.
Letak dan Peran Strategis Masa Kini
Secara administratif, Kecamatan Biringkanaya menjadi salah satu pintu masuk utama ke Kota Makassar dari arah timur dan selatan. Wilayah ini mencakup banyak kelurahan yang kini berkembang pesat, mulai dari kawasan pemukiman warga asli hingga perumahan modern, pusat pendidikan, serta jalur transportasi utama yang menghubungkan ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
Keberadaannya di titik temu tiga wilayah menjadikan Biringkanaya sebagai tempat pertemuan beragam budaya, yang diharapkan melebur menjadi nilai-nilai luhur, menggambarkan jejak sejarah yang tersimpan dalam namanya, untuk tetap menjadi cerminan identitas warganya.
Filosofi untuk Masa Kini
Di zaman yang serba cepat dan kadang penuh pertikaian seperti sekarang, makna nama Biringkanaya terasa semakin relevan. Ia mengingatkan kita bahwa di setiap perbatasan—baik batas wilayah, batas pendapat, maupun batas perbedaan pandangan—kita sebaiknya berbicara dengan bahasa yang lembut, penuh pertimbangan, dan menyentuh hati. Seperti tepian sungai yang menjaga air agar tidak meluap dan merusak, begitu pula tutur kata yang baik akan menjaga hubungan sesama tetap utuh dan damai.
Biringkanaya kini telah tumbuh menjadi kawasan yang dinamis, namun akar budaya dan sejarahnya tidak pernah hilang. Ia tetap berdiri tegak sebagai "Tepian Kata-Kata Lembut", bukti bahwa kemajuan zaman tidak harus melupakan kehalusan budi pekerti yang menjadi ciri khas kita.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar