Penulis: Khairil Anas
Di jajaran pegunungan yang membentang di wilayah Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, tersimpan satu warisan leluhur yang masih dijaga kesakralannya hingga hari ini. Namanya Umpungeng, sebuah tempat yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai Posi’na Tana e—secara harfiah berarti Pusat Bumi atau titik mula munculnya kehidupan manusia di muka bumi. Di tengah modernisasi zaman, kepercayaan ini tak sekadar cerita masa lalu, melainkan akar identitas dan penghormatan masyarakat terhadap alam serta asal-usul keberadaan mereka.
Umpungeng terletak di kawasan pegunungan yang masih alami, masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng. Secara fisik, daya tarik utama situs ini adalah sebuah tugu batu alam yang berdiri tidak beraturan bentuknya namun dipagari karena itulah yang diyakini sebagai pusat bumi,
Keunikan dan sejarah dari desa Umpungeng meliputi :
Dipercaya sebagai titik tengah Indonesia : apabila ditarik garis lurus dari Sabang sampai Merauke, maka desa ini berada di tengah
Secara topografi desa ini berada di deretan perbukitan yang memiliki bentangan alam unik, konturnya sering diibaratkan masyarakat setempat menyerupai bentuk tubuh manusia yang sedang terbujur ke arah barat.
Wilayah administratif desa ini menaungi beberapa dusun, meliputi Dusun Jolle, Waesuru, Umpungeng, Liangeng, Bulu Batu, dan Awo.
Wisatawan yang ingin mengunjungi titik tengah Indonesia di desa Umpungeng ini akan mendapatkan pengalaman menarik, pasalnya keberadaan Desa Umpungeng terletak di ketinggian 1.000-1.500 mdpl dan diapit oleh pegunugan Neneconang dan Gunung Laposo. Hal tersebut menimbulkan sensasi sejuk dan indahnya pegunungan. Untuk jarak tempuh dari kota Makassar sejauh 100 km. sementara dari ibu kota Kabupaten Soppeng hanya 10 km.
Karena nilai kesakralannya yang tinggi, kini batu tersebut telah dipagari rapi untuk menjaganya dari kerusakan maupun gangguan yang tidak diinginkan. Sekelilingnya masih tertutup hutan belantara dan pepohonan rindang, menjadikannya tempat yang tenang, sepi, dan penuh keheningan—sesuai dengan kedudukan yang dianggap sebagai titik paling suci.
Umpungeng sebagai Posi’na Tana e: Awal Mula Kehidupan
Bagi masyarakat pegunungan Soppeng, Umpungeng bukan sekadar tumpukan batu biasa. Dalam tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, tempat ini adalah titik pertama di mana kehidupan manusia mulai muncul ke permukaan bumi.
Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala, sebelum manusia menyebar ke berbagai penjuru dunia, benih kehidupan pertama kali tumbuh dan berkembang di tanah tempat batu Umpungeng berdiri. Konon, tanah di sekitarnya adalah tanah yang paling murni, tidak tercampur kotoran dunia, dan menjadi tempat di mana roh leluhur turun menyatu dengan alam. Oleh karena itu, posisi batu ini dianggap sebagai pusat keseimbangan seluruh jagad: jika di sini terganggu, maka keseluruhan tatanan alam pun bisa ikut goyah.
Kepercayaan ini selaras dengan pandangan hidup masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya suku Bugis, yang mengajarkan bahwa manusia dan bumi adalah satu kesatuan tak terpisahkan—manusia lahir dari bumi, hidup dari bumi, dan kelak kembali ke dalam bumi. Menjadikan Umpungeng sebagai pusat bumi adalah bentuk penghormatan tertinggi terhadap tanah yang melahirkan mereka.
Kepercayaan dan Penghormatan Masyarakat
Karena diyakini sebagai pusat bumi dan tempat keramat, Umpungeng selalu dihormati dengan aturan-aturan adat yang ketat. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat ini dijaga oleh kekuatan alam dan roh leluhur, sehingga siapa pun yang berkunjung harus membawa niat baik, menjaga tutur kata, dan tidak berbuat sewenang-wenang.
Biasanya, warga datang ke situs ini bukan untuk berwisata sembarangan, melainkan untuk memohon keselamatan, memohon kelancaran rezeki, atau berdoa agar terhindar dari bencana alam. Kadang pula dilakukan upacara adat sederhana, seperti meletakkan sesajen berupa hasil bumi, sebagai wujud terima kasih kepada alam yang telah memberi kehidupan.
Peran Umpungeng di Masa Kini
Seiring berjalannya waktu, Umpungeng tidak berubah menjadi tempat yang tertutup rapat. Sebaliknya, kini ia menjadi salah satu bukti kekayaan budaya kearifan lokal di Sulawesi Selatan. Pemerintah daerah dan tokoh adat bekerja sama menjaga kelestariannya, menjadikan situs ini sebagai cagar budaya yang mengajarkan kita untuk tetap rendah hati dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Banyak yang mungkin bertanya: apakah secara ilmiah batu ini benar-benar pusat bumi? Tentu saja konsep ini adalah pandangan budaya dan spiritual masyarakat setempat. Namun makna yang lebih dalam dari Umpungeng adalah ingatan bahwa kita semua berasal dari alam, dan wajib menjaganya. Menjadikan satu titik sebagai pusat bukan berarti membeda-bedakan wilayah, melainkan mengajak kita merawat satu-satunya rumah yang kita tinggali: bumi ini.
Umpungeng tetap berdiri tenang di pegunungan Soppeng, menyimpan rahasia masa lalu dan menjadi jangkar bagi identitas masyarakatnya. Selama ada penghormatan dan rasa tanggung jawab, tugu batu ini akan terus menjadi saksi bisu bahwa kehidupan berawal dari kesederhanaan, dan kembali kepada kesucian alam.(ttp)
Baca ki Juga,

Komentar