Bendi: Kendaraan Favorit dan Ikon Transportasi Masyarakat Sulawesi Selatan Masa Lampau


Penulis : Khairil Anas
Bendi dan Kudanya

To The Point, SULAWESI SELATAN – 
Sebelum hadirnya sepeda motor, mobil, dan angkutan umum modern, jalanan dari kota  hingga pelosok desa di Sulawesi Selatan didominasi oleh satu jenis kendaraan yang tak tergantikan, Bendi. 
Kendaraan beroda dua yang ditarik kuda ini bukan sekadar alat pengangkut barang atau orang, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan, sejarah, budaya, dan keseharian masyarakat Sulawesi Selatan pada masa lampau.
 
Ciri Khas dan Keunikan Bendi
Bendi mulai populer secara luas sejak pertengahan abad ke-19, seiring dengan pengaruh budaya kolonial yang masuk dan kebutuhan mobilitas masyarakat yang semakin meningkat. Meskipun sekilas mirip dengan delman atau andong dari Pulau Jawa, bendi khas Sulawesi Selatan memiliki ciri khas yang sangat berbeda dan istimewa.
 
Bentuk bodinya lebih ramping dan ringan, serta ruang penumpang yang dirancang rendah namun tetap nyaman. Desain ini sengaja dibuat demikian agar mudah melintasi jalanan berbatu, menanjak, dan berkelok yang banyak ditemui di wilayah pegunungan maupun pesisir Sulawesi Selatan.
 
Badan kendaraan ini umumnya terbuat dari kayu pilihan yang sangat awet, seperti kayu ulin, kayu cempaka, atau kayu bitti yang tahan terhadap cuaca panas maupun hujan. Bagian yang paling menonjol adalah sistem roda yang canggih pada zamannya. Bendi dilengkapi dengan roda pneumatik, yaitu roda yang terdiri dari ban dalam yang diisi udara, dilindungi oleh ban luar karet yang tebal dan kuat. Inilah yang membuat bendi mampu melaju lebih halus, tidak menggetarkan badan, dan lebih awet dibandingkan kendaraan sejenis yang masih menggunakan roda besi atau kayu polos.
 
Peran Bendi dalam Kehidupan Sosial Masyarakat
Pada zamannya, bendi pantas disebut sebagai "Raja Jalanan". Ia digunakan untuk segala keperluan tanpa terkecuali, mengantar anak sekolah, membawa hasil panen padi, kopi, atau palawija ke pasar, mengantar keluarga menghadiri undangan pesta pernikahan dan upacara adat, bahkan menjadi kendaraan resmi untuk menyambut tamu kehormatan atau pejabat daerah.
 
Menemukan Bendi di pinggir jalan Kabupaten Maros, Sulsel

Dahulu kala, di kota Makassar, Parepare, Palopo, Watansoppeng, hingga Bone dan Sinjai, barisan bendi sering terlihat berjejer rapi di pinggir jalan utama atau di depan alun-alun menunggu penumpang. Bagi banyak keluarga, memiliki satu atau beberapa unit bendi lengkap dengan kudanya adalah simbol status sosial dan kemapanan ekonomi yang tinggi.
 
Lebih dari sekadar alat angkut, bendi juga menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. Pengemudinya yang akrab disapa Daeng Bendi memiliki keahlian khusus merawat kuda sekaligus mengendalikan kendaraan dengan hati-hati dan sopan.
 
Salah seorang warga Mannuruki, Daya, Makassar, Sampe Daeng Jarre mengaku pernah memiliki beberapa dua unit bendi beserta tujuh ekor kuda andalan.
 
"Saya sudah mampu mengemudikan bendi sejak usia 17 tahun. Dulu, dari pagi buta hingga sore menjelang maghrib, jalanan kota penuh dengan deretan bendi. Suara derak rodanya yang halus dan bunyi lonceng kecil di leher kuda menjadi irama khas yang tak pernah saya lupakan," kenangnya dengan mata berbinar.
 
Menurut ayah dua anak yang kini beralih profesi menjadi pengemudi ojek itu, perjalanan di atas bendi menjadi ajang berbagi kabar, cerita, dan nasihat antar penumpang maupun dengan pengemudi. "Bendi adalah media sosial masa itu. Orang bertemu, bercerita, saling mengenal, dan menjalin persaudaraan tanpa batas. Tarifnya pun disepakati secara kekeluargaan, tidak ada patokan harga kaku, semua tergantung kerelaan hati," tambahnya.
 
Masa Keemasan dan Kemunduran Bendi
Masa keemasan bendi berlangsung hingga pertengahan abad ke-20. Namun seiring dengan kemajuan teknologi dan masuknya kendaraan bermotor seperti sepeda motor, mobil, dan bus perlahan menggeser posisinya. Jalan raya yang semakin diperlebar, lalu lintas yang makin padat, serta kebutuhan mobilitas yang lebih cepat membuat bendi mulai kalah bersaing. Biaya perawatan kuda yang tidak murah dan ketersediaan lahan untuk kandang juga menjadi faktor penyebab berkurangnya jumlah bendi.
 
Kini, bendi jarang terlihat melintas di jalan raya umum sebagai sarana transportasi harian. Sebagian besar yang tersisa kini beroperasi di kawasan objek wisata, seperti di Watan Soppeng, kabupaten Soppeng, Bendi dioperasikan di sekitar Benteng pusat pertokoan, dan sekitar lapangan Gasis,atau di daerah wisata budaya untuk menghadirkan suasana tempo dulu. 
Di kabupaten Maros, Bendi digunakan untuk mengangkut batang-batang bambu. Sementara sebagian lainnya Bendi dirawat dengan penuh kasih sayang sebagai peninggalan berharga yang disimpan di museum atau milik pribadi pecinta sejarah.
 
                                                                           Bendi yang tersisa dioperasikan di sekitar objek wisata
Meskipun sudah jarang melintas, kenangan dan nilai sejarah Bendi tetap hidup kuat di hati masyarakat Sulawesi Selatan. Ia menjadi saksi bisu bagaimana tanah ini tumbuh, berkembang, dan beradaptasi dengan zaman. Bagi generasi tua, Bendi mengingatkan pada masa yang lebih sederhana, damai, dan penuh keakraban. Bagi generasi muda, ia adalah jendela masa lalu yang mengajarkan bahwa setiap alat transportasi, sekecil dan sesederhana apa pun bentuknya, menyimpan cerita, kearifan lokal, dan nilai budaya yang patut dilestarikan selamanya.(ttp

Baca ki Juga, 


Komentar