Penulis: Gempita Prahara
![]() |
| Mappacci |
To The Point, TANAH BUGIS - Di tengah rangkaian panjang upacara pernikahan masyarakat Bugis, ada satu momen yang penuh kekhusyukan dan makna mendalam, yaitu Mappacci. Acara ini bukan sekadar persiapan fisik menjelang hari bahagia, melainkan prosesi spiritual untuk menyucikan diri, membersihkan hati, serta memohon perlindungan dan berkah bagi kedua calon pengantin sebelum resmi duduk bersama di pelaminan. Mappacci menjadi jembatan antara kehidupan masa lajang menuju tanggung jawab baru berumah tangga, yang dijalani dengan penuh penghormatan kepada leluhur dan nilai-nilai kebaikan.
Kapan dan Di Mana Mappacci Dilaksanakan?
Secara tradisional, Mappacci dilaksanakan pada satu atau dua malam sebelum hari resepsi atau upacara inti pernikahan, biasanya berlangsung di malam hari menjelang pertengahan malam. Waktu ini dipilih karena dianggap sebagai saat yang tenang, damai, dan jauh dari hiruk-pikuk kesibukan, sehingga doa dan niat suci lebih mudah sampai kepada Yang Maha Kuasa.
Pelaksanaannya umumnya dilakukan di kediaman keluarga calon pengantin pria, atau kadang-kadang bergantian di rumah kedua belah pihak dengan aturan yang telah disepakati. Tempat pelaksanaannya haruslah ruangan yang bersih, suci, dan telah disiapkan khusus untuk kegiatan ini, di mana nanti akan dihamparkan tikar atau alas kain yang bersih. Hanya keluarga dekat, tetua adat, dan orang-orang yang dianggap suci dan berkelakuan baik yang diperbolehkan hadir dan ikut serta dalam prosesi ini.
Filosofi Utama Mappacci
Kata "Mappacci" berasal dari kata dasar pacci yang berarti bersih, suci, atau bebas dari kotoran. Secara harfiah, Mappacci berarti membersihkan diri, menyucikan jiwa dan raga.
Filosofi terbesarnya adalah: sebelum membangun rumah tangga yang kokoh, haruslah dibersihkan terlebih dahulu hati dan pikiran dari segala sifat buruk, dendam, kesombongan, dan kebiasaan yang kurang baik. Calon pengantin diharapkan memulai lembaran baru dengan hati yang bersih, niat yang tulus, dan kerendahan hati. Selain itu, Mappacci juga menjadi wadah memohon doa restu dari orang tua dan leluhur, agar ikatan yang akan dibina senantiasa dilindungi dan diberkahi, serta mampu menghadapi segala cobaan hidup dengan sabar dan saling mengasihi.
Perlengkapan Mappacci dan Makna Filosofisnya
Setiap benda yang disiapkan dalam acara ini tidaklah sembarangan, melainkan memiliki pesan mendalam yang menjadi bekal kehidupan berumah tangga:
![]() |
| Perlengkapan Upacara Mappacci |
1. Air Bersih dan Bunga Tujuh Rupa
Air melambangkan kesucian, kelembutan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan segala keadaan. Bunga tujuh rupa melambangkan keberagaman sifat dan keindahan yang harus dipadukan dalam rumah tangga. Air yang dicampur bunga ini nantinya akan dipercikkan ke tubuh calon pengantin sebagai tanda pembersihan lahir batin.
2. Daun Pisang dan Daun Kelapa
Daun pisang melambangkan kesuburan dan kemakmuran, serta harapan agar kelak pasangan ini dikaruniai keturunan yang sholeh dan sholehah. Daun kelapa yang hijau dan tak mudah layu bermakna harapan agar cinta kasih dan keharmonisan rumah tangga tetap abadi, tak mudah pudar dimakan waktu.
3. Buah-buahan dan Beras Kuning
Beras kuning melambangkan kemewahan, kehormatan, dan rezeki yang halal serta berkah. Buah-buahan seperti pisang, jeruk, dan kelapa melambangkan kelengkapan, kesegaran, dan harapan agar segala kebaikan senantiasa menyertai keluarga mereka.
4. Lilin atau Lampu Minyak
Cahaya lampu melambangkan penerang hati dan jalan hidup. Harapannya, pasangan ini kelak senantiasa mendapatkan petunjuk, tidak tersesat dalam mengambil keputusan, dan menjadi cahaya serta teladan bagi keluarga besarnya maupun lingkungan sekitar.
5. Kain Sarung dan Selendang
Pakaian yang baru dan bersih ini melambangkan kesiapan memakai jati diri baru sebagai suami dan istri, serta siap menutupi aib satu sama lain dan saling melindungi dalam suka maupun duka.
Jalannya Prosesi
Acara dipimpin oleh tetua adat atau orang tua yang dituakan. Kedua calon pengantin duduk bersila dengan tenang, sementara para orang tua dan kerabat dekat secara bergantian memercikkan air suci, membacakan doa-doa kebaikan, serta menepuk-nepuk perlahan bahu mereka sebagai tanda penguatan dan kasih sayang. Dalam suasana yang haru dan penuh doa, disampaikan pula pesan-pesan nasihat: tentang pentingnya menjaga siri' (harga diri), saling menghargai, serta memegang teguh kesetiaan dan kejujuran.
Malam Mappacci, Penyucian Diri dan Jiwa sebelum Akad Nikah
Mappacci mengajarkan bahwa pernikahan bukan sekadar penyatuan dua orang, melainkan penyatuan dua keluarga besar yang didasari oleh kesucian hati dan niat yang lurus. Inilah mengapa tradisi ini tetap dilestarikan, karena ia menjadi fondasi kokoh bagi bahtera rumah tangga masyarakat Bugis.(ttp) Baca ki Juga,


Komentar