Penulis: Khairil Anas
Nama “Putu Soppa” berasal dari bahasa Bugis yang memiliki makna langsung. Kata Putu merujuk pada adonan berbahan dasar tepung beras dan ketan, sedangkan Soppa berarti “ditusuk” atau “disodok” — menggambarkan cara unik mengeluarkan kue dari cetakannya setelah matang. Dulu, masyarakat menyebutnya juga dengan nama lain seperti Putu Labbu atau Putu Tongka, namun seiring waktu nama Putu Soppa yang paling populer di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan daerah perantauan.
![]() |
| Putu Soppa dan Kopi : Cocok untuk Sarapan Pagi |
To The Point, SUL SEL – Di sela deretan jajanan yang berjejer di pasar-pasar tradisional di tanah Bugis, aroma khas uap panas berpadu wangi pandan dan kelapa sering menyapa dan sudah menjadi ciri khas sejak dahulu, sekaligus menjadi penanda kehadiran Putu Soppa, kue tradisional khas masyarakat Bugis yang telah dikenal sejak berabad lamanya, bertahan melewati pergantian zaman, dan tetap menjadi favorit sarapan maupun camilan hingga hari ini.
![]() |
| Penjual Putu Soppa di Pasar Tradisional Bugis |
Nama “Putu Soppa” berasal dari bahasa Bugis yang memiliki makna langsung. Kata Putu merujuk pada adonan berbahan dasar tepung beras dan ketan, sedangkan Soppa berarti “ditusuk” atau “disodok” — menggambarkan cara unik mengeluarkan kue dari cetakannya setelah matang. Dulu, masyarakat menyebutnya juga dengan nama lain seperti Putu Labbu atau Putu Tongka, namun seiring waktu nama Putu Soppa yang paling populer di seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan daerah perantauan.
Sejarah dan Awal Mula Dikenal
Putu Soppa sudah ada sejak masa kerajaan‑kerajaan di tanah Bugis, menjadi bagian dari kehidupan sehari‑hari maupun hidangan dalam pertemuan adat. Awalnya dibuat dari bahan yang mudah didapat di lingkungan sekitar, menjadi bekal petani yang bekerja di ladang maupun perjalanan jauh. Seiring berjalannya waktu, kue ini mulai dikenal luas di pasar tradisional, pesisir, hingga ke daerah rantau seperti Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan bagian timur berkat perantau Bugis.
Banyak catatan menyebutkan bahwa sejak masa lalu, Putu Soppa sudah menjadi ciri khas pagi hari: warga berhenti di lapak pinggir jalan untuk menikmatinya hangat sebelum beraktivitas. Hingga kini, tradisi itu belum berubah — pembeli mulai berdatangan sejak subuh, dan dagangan sering kali habis sebelum matahari terlalu tinggi .
Bahan‑bahan Alami dan Khas
Keistimewaan Putu Soppa terletak pada kesederhanaan namun keaslian bahan yang dipakai, tanpa pengawet buatan:
- Campuran tepung beras dan tepung ketan: memberikan tekstur kenyal namun lembut, tidak keras dan tidak lembek berlebihan
- Kelapa parut setengah tua: dibalurkan merata setelah kue matang, memberi rasa gurih alami
- Air daun suji atau pandan: menyuguhkan warna hijau alami dan aroma wangi yang khas
- Garam secukupnya: menyeimbangkan rasa gurih
- Sambal khas: perpaduan cabai, garam, dan kadang ampas minyak kelapa (galendo) — menjadi pelengkap yang membuat rasanya unik, berbeda dari putu manis pada umumnya.
Berbeda dengan putu gula merah yang berisi cairan manis, Putu Soppa asli tidak memiliki isian manis di dalamnya. Ia lebih mengandalkan rasa gurih dan aroma alami, lalu dimakan dengan cara dicocol sambal — perpaduan yang awalnya terdengar tak biasa, namun ternyata sangat pas di lidah orang Bugis dan masyarakat sekitar.
Cara Pembuatan dan Ciri Khas
Proses pembuatannya pun unik dan membutuhkan keterampilan khusus. Dulu cetakan dibuat dari potongan bambu kecil yang dilubangi, kini sebagian pengrajin menggunakan pipa yang disesuaikan ukurannya. Adonan yang sudah disaring halus dimasukkan ke dalam cetakan, lalu dikukus dengan uap panas cepat — biasanya hanya butuh waktu singkat hingga matang sempurna.
Setelah matang, kue dikeluarkan dengan cara disodok atau ditusuk menggunakan batang kecil — itulah sebabnya disebut Soppa. Langsung dibaluri kelapa parut, dibungkus daun pisang, dan siap disajikan hangat. Kini mulai muncul variasi dengan tambahan gula merah, keju, atau pandan lebih pekat demi menyesuaikan selera, namun versi asli tetap menjadi yang paling dicari.
Di Mana Sekarang Putu Soppa Dijual?
Kini Putu Soppa masih mudah ditemui di berbagai wilayah, terutama:
- Kabupaten Wajo: di pasar tradisional seperti Pasar Ongkoe, Kecamatan Belawa dan sekitarnya, masih banyak penjual yang melayani antrean sejak pagi buta
- Wilayah Sidrap, Pinrang, Parepare, dan Enrekang: berjejer di pinggir jalan poros, pasar tradisional, dan terminal angkutan antar kota
- Kabupaten Pangkep dan Maros: sering ditemui di sepanjang jalan poros menuju Makassar, berdekatan dengan penjual Dange dan kuliner tradisional lain
- Kota Makassar: tersedia di pasar pagi, kawasan pinggir jalan utama, serta pusat oleh‑oleh daerah
- Daerah perantauan: seperti Mamuju Tengah, Tolitoli, dan kota lain tempat banyak warga Bugis bermukim, kue ini tetap hadir sebagai penyalur rindu kampung halaman.
Biasanya dijual mulai harga sekitar dua ribu hingga lima ribu rupiah per buah, atau dibungkus per porsi kecil. Kebanyakan lapak buka sejak pukul enam pagi hingga sepuluh pagi, meski ada juga yang bertahan hingga sore hari di lokasi ramai.
Putu Soppa bukan sekadar camilan lezat, melainkan bukti nyata bahwa warisan kuliner leluhur mampu berjalan beriringan dengan zaman. Ia tetap berdiri kokoh di tengah gempuran makanan modern, menjaga rasa asli, cara pembuatan tradisional, serta nilai kebersamaan yang selalu menyertai setiap suapan hangatnya.(ttp)
Ikuti terus To The Point untuk menelusuri berita unik dan menarik, jejak budaya, sejarah, serta kuliner khas Sulawesi Selatan lainnya.
Baca ki Juga,


Komentar