Penulis: Khairil Anas
Adonan dicampur pelan‑pelan tanpa diremas terlalu kuat agar tetap berpori dan empuk. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan khusus dari tanah liat, yang disebut A’dangeng.
Setiap kedai biasanya dikelola oleh keluarga yang sudah melakukannya selama dua hingga tiga generasi. Di depan warung selalu menyala tungku tanah liat, sehingga aroma harum menjadi penanda jalan bagi siapa saja yang melintas. Bagi pelancong, pengemudi kendaraan maupun para pelintas wilayah, berhenti membeli atau sekadar menikmati Dange hangat dengan secangkir kopi atau teh cukup mampu menghilangkan kelelahan sekaligus memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
To The Point, PANGKAJENE DAN KEPULAUAN – Di sepanjang jalan poros utama Makassar–Parepare, tepat memasuki wilayah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan atau yang akrab disebut Pangkep, kita akan disambut pemandangan khas, deretan warung kecil berjejer rapi di sepanjang tepian jalan. Di bagian depan depan dari setiap kedai itu terpasang papan nama dengan tulisan Dange, nama kue yang mereka jajakan. Asap mengepul dari setiap kedai yang berasa dari tungku tanah liat yang menyala pelan, disertai aroma harum yang menyebar sejauh berpuluh meter. Asap dan api yang menyala itu menjadi tanda pasti bahwa di sana sedang dipanggang Dange, kue tradisional masyarakat Bugis yang telah hidup berabad‑abad lamanya dan tetap dicintai hingga kini.
Dalam bahasa Bugis, kata Dange berarti pipih atau gepeng, menggambarkan bentuk kue yang tipis dan lebar. Kadang disebut pula Pulubollong karena biasanya menggunakan tepung ketan hitam, kudapan ini menjadi salah satu warisan kuliner paling tahan uji zaman di Sulawesi Selatan. Mengapa ia tetap bertahan meski berjejer dengan berbagai camilan modern?
Jawabannya terletak pada kesederhanaan bahan, keaslian cara pembuatan, serta rasa yang lembut dan seimbang: manis namun tidak memuakkan, gurih namun tetap ringan.
Bahan‑bahan alami tanpa campuran buatan
Kekuatan utama Dange terletak pada bahan yang dipilih langsung dari alam sekitar, tanpa bahan pengawet atau penambah rasa buatan. Ada tiga unsur pokok yang tak tergantikan :
- Tepung ketan, biasanya jenis hitam yang memberikan warna gelap alami dan aroma khas, meski ada pula yang menggunakan ketan putih
- Kelapa muda, diparut halus agar mengeluarkan sari minyak alami dan memberi rasa gurih lembut
- Gula merah atau gula kelapa, yang dimasak perlahan hingga cair dan merata, memberikan kemanisan yang mendalam dan beraroma tanah
Kadang ditambahkan sedikit garam laut untuk menyeimbangkan rasa, tetapi itulah saja. Semua bahan mudah didapat di ladang dan kebun warga, sehingga sejak dahulu Dange menjadi makanan sehari‑hari maupun hidangan tamu dalam berbagai pertemuan adat.
Tungku dan Cetakan Tanah Liat
Hal yang membuat Dange berbeda dari kue lain adalah alat dan cara pemanggangan yang tetap dipertahankan aslinya.
![]() |
| Dange Pulu Bolong dan Segelas Kopi Susu |
Adonan dicampur pelan‑pelan tanpa diremas terlalu kuat agar tetap berpori dan empuk. Kemudian dimasukkan ke dalam cetakan khusus dari tanah liat, yang disebut A’dangeng.
Bentuknya melengkung menyerupai mangkuk dangkal, berukuran sekitar 15–20 sentimeter. Cetakan ini ditempatkan di atas tungku tanah liat atau disebut Dapo’, yang dipanaskan perlahan dengan kayu bakar atau arang hingga suhunya merata dan stabil .
Saat adonan masuk, langkah paling penting adalah menutup cetakan rapat‑rapat. Penutupnya pun dibuat dari tanah liat serupa, dilapisi bagian dalamnya dengan lembaran daun pisang bersih. Daun ini berfungsi menjaga kelembapan agar permukaan tidak cepat gosong sekaligus menambah wangi alami yang menyatu dengan adonan.
Selama sekitar 10 hingga 15 menit, panas menyebar merata dari segala arah. Bagian luar menjadi renyah halus, sementara bagian dalam tetap lembut dan berisi sari kelapa serta gula yang lembap.
Panas dari tanah liat yang menghantarkan perlahan dan merata menjadikan tekstur Dange khas, tidak keras, tidak lembek berlebihan, melainkan padat namun lunak di gigitan pertama. Pengrajin yang terampil tahu persis kapan harus membalik cetakan dan kapan mengangkatnya. Pengetahuan yang diturunkan secara turun-temurun dari nenek ke orang tua, dan terus ke anak.
Jalur Poros Pangkep: deretan warung Dange
Meskipun Dange merupakan kue khas masyarakat Bugis pada umumnya, namun nampaknya Kabupaten Pangkep menjadi salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang mengangkat kuliner leluhur ini sebagai salah satu objek daya tarik, sehingga dikenal sebagai pusat penyebaran dan pelestarian terbaik Dange di Sulawesi Selatan. Di sepanjang jalan poros Makassar–Pangkep hingga ke arah Parepare, khususnya di Kecamatan Segeri, Mandalle dan sekitarnya, berjejer puluhan kedai yang menjualnya.
![]() |
| Tungku Tanah Liat dan Kayu Bakar |
Setiap kedai biasanya dikelola oleh keluarga yang sudah melakukannya selama dua hingga tiga generasi. Di depan warung selalu menyala tungku tanah liat, sehingga aroma harum menjadi penanda jalan bagi siapa saja yang melintas. Bagi pelancong, pengemudi kendaraan maupun para pelintas wilayah, berhenti membeli atau sekadar menikmati Dange hangat dengan secangkir kopi atau teh cukup mampu menghilangkan kelelahan sekaligus memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan.
Kelebihan lain yang membuatnya disukai adalah daya simpan yang cukup baik. Meskipun dibuat tanpa bahan kimia tambahan, Dange tetap nikmat hingga empat hari jika disimpan di wadah tertutup rapat. Itulah sebabnya ia kerap dijadikan bekal perjalanan maupun buah tangan wajib setiap orang yang melewati wilayah ini.
Kuat Bertahan karena selaras dengan jiwa budaya
Kunci keberlanjutan Dange bukan hanya karena rasanya yang lezat, melainkan karena ia selaras dengan prinsip masyarakat Bugis, yakni sederhana namun berharga, alami namun bernilai.
Dange mewariskan keterampilan membuat cetakan dan tungku tanah liat, pengetahuan tentang musim panen kelapa dan ketan, serta cara menjaga keseimbangan panas yang tepat.
Meskipun kini mulai muncul variasi rasa tambahan seperti cokelat atau keju demi mengikuti selera masa kini, versi asli tetap menjadi yang paling dicari. Warung‑warung di jalur poros tetap setia menjaga tungku tanah liat menyala, memastikan bahwa aroma Dange terus menyapa setiap orang yang melintas di gerbang Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat Bugis, Dange bukan sekadar camilan, melainkan jembatan yang menghubungkan selera masa kini dengan akar budaya masa lalu, bukti bahwa makanan yang dibuat dengan bahan alami dan cara tulus, akan tetap ramah di lidah dan abadi dalam ingatan sepanjang masa.(ttp)
Baca Ki Juga,



Komentar