Buroncong: Kuliner Legendaris Khas Makassar yang Penuh Cita Rasa

Penulis: Khairil Anas  
Buroncong dan Kopi Susu

To The Point,MAKASSAR - Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, tidak hanya dikenal dengan keindahan pantai Losarinya dan keramahan penduduknya, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner yang sangat beragam dan khas. Di antara sekian banyak makanan tradisional yang ada, salah satu yang paling populer dan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya masyarakat setempat adalah Buroncong. Makanan sederhana ini telah diwariskan secara turun-temurun selama berabad-abad, menjadi camilan favorit yang dapat ditemukan di berbagai sudut kota, mulai dari pinggir jalan hingga pasar tradisional.


Asal Usul dan Sejarah Buroncong

Nama "Buroncong" dipercaya berasal dari istilah dalam bahasa daerah setempat yang menggambarkan bentuk dan teksturnya yang khas dan juga cara penyajiannya, yang dicongkel dengan menggunakan kait kecil yang terbuat dari besi. 

"Penamaan Buroncong di kota Makassar bermula dari proses pembuatannya yang dicongkel bagian deka pantatnya. Awalnya kue ini bernama Bere'cong, Bere' dalam bahasa Makassar berarti bagian alat kelamin pria. Namun kemudian dilafalkan Buroncong." tulis Dul Abdul Rahman dalam akun facebooknya.

Sejarah mencatat bahwa Buroncong sudah ada sejak masa kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, bahkan sering dihidangkan dalam acara-acara adat, pertemuan penting, hingga perayaan hari besar keagamaan. Dahulu, makanan ini hanya disajikan di lingkungan keluarga bangsawan dan kaum terhormat, namun seiring berjalannya waktu, resep dan cara pembuatannya menyebar luas ke seluruh lapisan masyarakat.

Buroncong melambangkan kearifan lokal masyarakat Makassar dalam memanfaatkan bahan-bahan alami yang melimpah di daerahnya. Tanpa membutuhkan bahan impor yang mahal, masyarakat setempat mampu menciptakan hidangan yang lezat, mengenyangkan, dan bernilai gizi tinggi. 
Hingga saat ini, keberadaan Buroncong tetap terjaga dan terus dilestarikan sebagai salah satu warisan budaya tak benda yang sangat berharga bagi Sulawesi Selatan.


Bahan dan Cara Pembuatan yang Sederhana

Keistimewaan Buroncong terletak pada kesederhanaan bahannya, meskipun proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan dan keahlian khusus. Bahan utamanya terdiri dari tepung beras, santan kelapa segar, gula merah atau gula pasir, sedikit garam, dan terkadang ditambahkan potongan kelapa parut untuk menambah tekstur dan rasa. Semua bahan ini dicampur menjadi satu hingga membentuk adonan yang kental dan merata.
Yang membuat Buroncong memiliki ciri khas tersendiri adalah cetakan dan cara memasaknya. Adonan dituangkan ke dalam cetakan khusus yang terbuat dari tanah liat atau logam dengan bentuk cekung dan memiliki beberapa lekukan. Cetakan ini kemudian diletakkan di atas tungku api yang menggunakan arang atau kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Memasak dengan arang dan  kayu bakar dipilih karena dapat menghasilkan panas yang merata dan stabil, sehingga bagian luar Buroncong akan matang secara perlahan, berwarna kecokelatan, dan memiliki tekstur yang renyah, sedangkan bagian dalamnya tetap lembut, empuk, dan sedikit lengket.
Proses pembakaran memakan waktu sekitar 10 hingga 15 menit. Saat matang, Buroncong akan mengeluarkan aroma harum khas perpaduan santan, gula, dan tepung yang sangat menggugah selera. Hasil akhirnya adalah camilan berukuran kecil, berbentuk bulat cekung, dengan rasa manis gurih yang sangat pas di lidah.


Cita Rasa dan Keunikan Buroncong

Bagi siapa pun yang mencicipinya untuk pertama kali, Buroncong akan memberikan pengalaman rasa yang unik dan sulit dilupakan. Di gigitan pertama, Anda akan merasakan bagian luarnya yang agak renyah dan kering, namun segera diikuti oleh bagian dalam yang lembut, kenyal, dan meleleh di mulut. Rasa manisnya tidak berlebihan, dipadukan dengan rasa gurih alami dari santan kelapa segar, menciptakan keseimbangan rasa yang sempurna.
Teksturnya yang khas membuat Buroncong cocok disantap dalam keadaan hangat maupun dingin. Saat masih hangat, rasanya terasa lebih lembut dan aromanya lebih kuat. Jika sudah dingin, teksturnya sedikit mengeras namun tetap nikmat dan tidak keras hingga menyulitkan untuk dikunyah. Karena rasanya yang ringan dan tidak terlalu berat, Buroncong sering dijadikan teman terbaik saat minum teh atau kopi di pagi hari maupun sore hari.

Peran Buroncong dalam Kehidupan Masyarakat Makassar

Lebih dari sekadar camilan, Buroncong memiliki makna sosial yang mendalam bagi masyarakat Makassar. Makanan ini sering menjadi bagian dari jamuan tamu di rumah-rumah warga. Ketika ada kerabat atau tamu yang berkunjung, menyajikan Buroncong adalah bentuk penghormatan dan keramahan yang menjadi tradisi turun-temurun. Selain itu, Buroncong juga menjadi hidangan wajib dalam berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, syukuran, hingga perayaan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Dicongkel dengan gancu kecil

Di sisi ekonomi, Buroncong juga menjadi sumber mata pencaharian bagi banyak keluarga. Banyak pedagang kecil yang menjajakan Buroncong dengan gerobak atau lapak sederhana sejak pagi hingga sore hari. Harganya yang sangat terjangkau membuatnya mudah diakses oleh semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua. Bahkan saat ini, Buroncong sudah mulai dikemas lebih rapi sehingga bisa dibawa sebagai oleh-oleh khas Makassar bagi wisatawan yang berkunjung ke Makassar.


Melestarikan Warisan Kuliner untuk Generasi Mendatang

Meskipun zaman terus berkembang dan berbagai jenis makanan modern membanjiri pasar-pasar tradisional di Makassar, namun popularitas Buroncong tetap bertahan. Hal ini membuktikan bahwa cita rasa tradisional yang otentik memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama dalam mempertahankan cara pembuatan tradisional yang perlahan mulai tergeser oleh alat masak yang lebih praktis.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah, pelaku usaha kuliner, dan masyarakat untuk melestarikan Buroncong. Mulai dari mengajarkan cara membuatnya kepada generasi muda, mempromosikannya dalam pameran budaya dan festival kuliner, hingga memastikan standar rasa tetap terjaga. Dengan demikian, Buroncong tidak hanya akan terus ada sebagai makanan, tetapi juga tetap hidup sebagai simbol identitas budaya Makassar yang dapat dinikmati oleh anak cucu di masa depan.

          Ilustrasi : Penjual Buroncong di Pasar Tradisional

Buroncong adalah bukti nyata bahwa makanan tradisional tidak membutuhkan bahan mahal atau proses yang rumit untuk menjadi istimewa. Dengan kesederhanaannya, ia mampu menceritakan sejarah, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Makassar. Bagi siapa pun yang berkunjung ke Makassar, rasanya belum lengkap jika belum mencicipi kelezatan Buroncong. Sebuah camilan sederhana yang menyimpan rasa dan cerita yang tak ternilai harganya. 
Nantikan terus artikel dan konten
selanjutnya.
Selalu ada hal baru yang menarik
untukmu.(ttp)

Baca ki Juga,


Komentar