NENE PAKANDE: Sosok Nenek di Bulan Purnama dan Pesan Leluhur Tanah Bugis Soppeng

Penulis: Khairil Anas 
Sosok Fiktif Nene Pakande

To The Point, SOPPENG - Dahulu waktu saya masih kecil di Kabupaten Soppeng, saat bulan purnama bersinar terang benderang di langit, nenek akan menunjuk bulan itu dan meminta aku menatapnya lekat-lekat. 
Di sana tampak guratan-guratan gelap yang menyusun siluet seseorang. 

"Itulah Nene Pakande," ujar Nenek.

Bagi nenek moyang kita di tanah Bugis Soppeng, bayangan gelap yang terlihat di bulan itu bukan sekadar kawah atau pegunungan, melainkan sosok Nene Pakande.
Guratan hitam di bulan dipercaya sebagai bayangan sosok Nene Pakande

Secara harfiah dalam bahasa Bugis, Nene Pakande berarti "Nenek Pemakan"—khususnya bagi anak-anak yang nakal, tidak mau mendengar nasihat, atau melanggar aturan waktu.
 
Dalam cerita rakyat yang turun-temurun, Nene Pakande digambarkan sebagai sosok wanita tua yang tubuhnya bungkuk, berambut putih kusam, dan berjalan perlahan namun tak pernah tertinggal. Dikisahkan pula ia memiliki ilmu sihir yang kuat, dan sering menculik anak kecil yang berkeliaran di luar rumah saat senja demi mempertahankan kekuatan gaibnya itu.
 
Dahulu kala, sebelum ada jam dinding atau lampu jalan, nama Nene Pakande adalah pengingat paling tegas setiap kali senja mulai menjelang. Orang tua dan nenek kita akan berpesan: "Sudah masuk ke dalam rumah, nak. Jangan berlama-lama di luar saat matahari terbenam. Jangan nakal, nanti Nene Pakande datang menculikmu."
 
Sosok ini diciptakan sebagai cara mendidik agar anak-anak tidak berani bermain terlalu jauh, tidak berkeliaran saat malam mulai gelap, dan segera pulang saat waktu Magrib tiba—saat peralihan dari siang ke malam yang dianggap waktu peralihan alam.
Begitulah Cara Orang tua dahulu mendidik anak-anak nya
Dikisahkan, Nene Pakande tinggal di bulan. Ia selalu mengawasi setiap sudut bumi dari sana. Guratan-guratan gelap yang terlihat di wajah bulan purnama itulah yang diyakini sebagai bayangan sosok nenek tua ini yang sedang mengintai anak-anak yang tidak mau masuk rumah.
 
Namun di balik ketakutan dan arti harfiahnya yang terdengar menakutkan, tersimpan pesan yang sangat mulia dan penuh kasih sayang. Nenek moyang kita tidak benar-benar ingin menakuti tanpa alasan, melainkan ingin melindungi anak cucu dari bahaya: 
agar tidak tersesat, tidak bertemu hewan buas, tidak terkena hawa dingin malam, dan menghormati waktu istirahat serta ketenangan alam.
Kini kita tahu bahwa guratan di bulan adalah bentang alam yang alami. Namun kisah tentang Nene Pakande tetaplah berharga. Ia adalah bukti cerdasnya cara leluhur kita menanamkan kedisiplinan dan rasa aman, menggunakan imajinasi agar kebaikan dan keselamatan selalu terjaga.(ttp) 

Baca ki Juga, 



Komentar