Mappakasirawa: Sentuhan Pertama yang Menyempurnakan Ikatan Pernikahan Adat Bugis

Penulis: Gempita Prahara
Mappakasirawa
 
To The Point, SULSEL - Pernikahan adat Bugis bukan sekadar perayaan bahagia, melainkan serangkaian prosesi sakral yang sarat makna, doa, dan harapan. Salah satu momen yang paling diharapkan dan menyimpan kelembutan hati adalah Mappakasirawa—sebuah tradisi berharga yang dilakukan tepat setelah ikrar akad nikah sah terucap.

 
📖 Arti dan Waktu Pelaksanaan

Mappakasirawa adalah tradisi sakral yang menjadi penutup sekaligus penyempurna tahap awal pernikahan. Prosesi ini dilaksanakan tepat setelah selesai akad nikah, saat status kedua mempelai telah resmi menjadi suami istri di mata agama dan adat.
 
Nama ini diambil dari makna saling menyentuh atau saling berpegangan. Ini adalah momen istimewa: sentuhan pertama mempelai pria kepada wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.

 
🤲 Cara Pelaksanaan dan Tokoh Pembimbing

Prosesi ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan dibimbing dan dipimpin langsung oleh seorang tokoh yang dituakan atau panutan, yang disebut sebagai Pappakasirawa.
 
Di bawah arahan Pappakasirawa, sang suami mengulurkan tangannya, lalu menyentuh atau menggenggam tangan istrinya dengan lembut. Sebelumnya, selama prosesi akad, kedua mempelai biasanya duduk terpisah dan belum saling bersentuhan. Momen inilah yang menjadi pertanda dinding pemisah telah runtuh, dan dua jiwa kini berjalan dalam satu jalan.

 
✋ Bagian Tubuh yang Disentuh dan Urutannya

Dalam prosesi Mappakasirawa, sentuhan dilakukan pada bagian-bagian tubuh tertentu yang masing-masing menyimpan doa khusus. Berdasarkan catatan Ridiliadi (2021), bagian-bagian yang disentuh secara berurutan adalah:
 
1. Ibu Jari / Jempol (ini adalah sentuhan pertama yang dilakukan kedua mempelai)
2. Telapak Tangan
3. Pangkal Lengan
4. Dada
5. Dahi
6. Perut

7. Ubun-ubun
 
❤️ Makna Sakral Merapatnya Ibu Jari

Di antara semua sentuhan itu, merapatkan ibu jari suami dan istri memiliki makna yang sangat istimewa. Masyarakat Bugis meyakini bahwa jika ibu jari keduanya saling menyatu dengan tulus, maka kedua mempelai akan selalu bersama dan abadi dalam rumah tangganya, meski terpisah oleh jarak maupun waktu.
 
Oleh karena itu, tepat saat ibu jari keduanya dirapatkan, Pappakasirawa akan melantunkan doa khusus. Doa itu berisi harapan yang sungguh dalam: agar tidak pernah terjadi perpisahan di antara mereka, dan agar suami istri senantiasa hidup rukun, damai, tenteram, serta saling menyayangi hingga akhir hayat.
 

✨ Filosofi Mendalam di Balik Sentuhan Sederhana

Di balik gerakan tangan yang sederhana ini, tersimpan pesan kehidupan yang sangat dalam:
 
1. Satu Jiwa, Satu Tubuh: Mappakasirawa mengandung makna bahwa kedua pasangan kini telah menjadi satu jiwa dan satu jazad. Mereka bukan lagi dua orang asing yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan telah menyatu seutuhnya.
2. Tanda Pengakuan Resmi: Sebelumnya wanita itu adalah orang lain, kini lewat sentuhan ini, ia diakui secara penuh sebagai pendamping hidupnya yang tak terpisahkan.
3. Ikatan yang Tak Terputus: Genggaman tangan melambangkan janji untuk saling memegang teguh, saling mendukung, dan tidak akan saling melepaskan, baik saat senang maupun susah.
4. Perlindungan dan Kasih Sayang: Sentuhan pertama ini adalah simbol tanggung jawab suami untuk melindungi, membimbing, dan menyayangi istrinya seumur hidup.
5. Berkah Orang Tua: Kehadiran Pappakasirawa mengingatkan bahwa pernikahan ini tidak hanya urusan dua orang, melainkan dibimbing, didoakan, dan diberkahi oleh para tetua serta leluhur.
 
Mappakasirawa mengajarkan kita bahwa pernikahan adalah tentang menyatukan hati lewat kasih sayang, bukan sekadar ikatan di atas kertas. Sentuhan pertama itu menjadi awal perjalanan panjang membangun rumah tangga yang damai, bahagia, diridhoi Allah SWT, dan senantiasa menyatu dalam suka maupun duka.(ttp) 


Baca ki Juga,



 
 
 

 .

Komentar