Penulis: Khairil Anas
Makassar – Angin globalisasi berhembus kencang, membawa perubahan yang tak bisa ditahan. Di satu sisi ia membuka wawasan, mempercepat kemajuan, dan menyatukan dunia. Namun di sisi lain, ia turut mengikis tepian budaya kita, menggeser tatanan nilai yang diwariskan leluhur, mengubah cara pandang hidup, hingga membuat etos kearifan lokal perlahan memudar. Banyak dari kita kini mengalami guncangan budaya—bingung membedakan mana yang asli milik kita, mana yang sekadar tiruan, dan mana yang sebenarnya merusak jati diri.
Melihat kenyataan itulah, To The Point hadir. Bukan dengan kemegahan, bukan dengan sorotan yang menyilaukan mata.
Tim To The Point menyadari betul bahwa apa dilakukan ini mungkin terlihat kecil, bahkan tak berarti di mata banyak orang.
Namun itulah jalan yang kami pilih: berpijak pada kebenaran, berpihak pada akar budaya, dan berusaha meminimalisir dampak buruk yang datang.
Perubahan yang Berlari Lebih Cepat dari Kesiapan Kita
Hal paling menyakitkan bukanlah perubahan itu sendiri, melainkan kecepatan perubahan yang jauh melampaui kemampuan masyarakat untuk beradaptasi. Unsur-unsur baru masuk dengan begitu gencar dan bertubi-tubi, sementara sistem nilai, norma, dan kebiasaan yang sudah berakar berabad-abad belum sempat berbenah menyesuaikan diri. Akibatnya, masyarakat mengalami kebingungan atau anomi: belum selesai memahami satu kondisi baru, tiba-tiba harus menghadapi perubahan yang lain lagi.
Berikut beberapa fakta nyata yang sudah kita rasakan bersama :
- Dari Sawah ke Pabrik dalam Sekejap: Masyarakat kita yang sejak turun-temurun hidup sebagai masyarakat agraris, yang menghargai kesabaran menunggu panen dan kebersamaan di ladang, tiba-tiba dipaksa berubah menjadi masyarakat industri yang mengejar waktu, bersaing ketat, dan terasing satu sama lain. Nilai gotong royong perlahan tergantikan oleh hitungan untung-rugi.
- Hilangnya Budaya Menulis: Dulu, menulis adalah kebanggaan dan kemampuan yang dimiliki banyak orang—mulai dari menulis surat, catatan harian, hingga mengabadikan pesan leluhur. Kemudian budaya itu berganti dengan pesan singkat atau SMS yang memotong kata-kata, menyederhanakan bahasa, dan menghilangkan kehalusan tutur kata. Belum sempat kita beradaptasi dengan gaya singkat itu, kini berganti lagi dengan suara ke teks atau pesan suara langsung. Akibatnya, banyak anak sekolah zaman sekarang yang kesulitan menulis dengan rapi, kurang mampu menyusun kalimat yang lengkap, dan bahkan mulai lupa cara menulis huruf dengan benar.
Peran Sepele yang Mulia
Sering saya mengibaratkan peran kami ini seperti kisah yang masyhur: ketika api besar menyala mengelilingi Nabi Ibrahim a.s., datanglah makhluk-makhluk kecil berusaha memadamkannya. Ada semut yang membawa setetes air di mulutnya, ada burung pipit yang berusaha menyiram dengan paruhnya yang kecil. Mereka tahu betul setetes air itu tak akan serta-merta mematikan kobaran api yang dahsyat itu. Namun mereka tetap melakukannya.
Begitulah kami. Kami sadar betul bahwa tulisan-tulisan ini tak bisa serta-merta menahan arus besar zaman. Namun kami bertekad melakukan apa yang sanggup kami kerjakan: mencatat kembali asal-usul nama tempat, menuliskan makna di balik tradisi, mengingatkan kembali filosofi tutur kata, serta menyuarakan keadilan yang sejalan dengan siri' na pacce.
Tujuannya sederhana: agar kelak di hadapan Tuhan Yang Maha Mengetahui, kami memiliki hujjah. Kami bisa berkata: "Ya Allah, kami melihat warisan baik leluhur perlahan terlupakan, kami melihat kebenaran mulai tergeser kepentingan sesaat. Kami bukan orang yang berkuasa, tapi kami berusaha sekuat tenaga dengan apa yang kami miliki—kata-kata—untuk menjaga kebaikan itu tetap hidup."
Menjaga Agar Tak Hilang Tanpa Jejak
Globalisasi tak perlu ditolak mentah-mentah, tapi tak boleh diterima begitu saja tanpa saringan. Ia harus disambut dengan kearifan lokal yang kuat, agar kita tak sekadar menjadi peniru yang kehilangan identitas.
Melalui tulisan di To The Point, kami berusaha menjadi jembatan: menghubungkan masa lalu yang penuh hikmah dengan masa kini yang penuh tantangan. Kami ingin generasi muda tahu bahwa menjadi modern tak harus berarti melupakan siapa diri mereka. Bahwa menjaga Katimbang, Sipala, Biringkanaya, maupun nilai-nilai luhur masyarakat Sulawesi Selatan adalah menjaga rumah sendiri agar tak runtuh diterjang angin.
Setiap artikel yang kami tulis adalah setetes air yang kami bawa. Mungkin tak terlihat besar dampaknya hari ini. Namun percayalah, setetes demi setetes, jika terus mengalir, ia akan menjadi sungai yang tak mudah dikeringkan. Dan yang paling penting: niat baik dan usaha kecil yang tulus di jalan kebenaran nilainya jauh lebih besar daripada kemegahan yang berlandaskan kesombongan.
Kami tetap di sini, setia menulis, setia mengingatkan, setia seperti semut dan burung pipit—melakukan apa yang bisa kami lakukan, demi Sulawesi Selatan, demi Nusantara, demi kebaikan yang abadi. (ttp)
Baca ki Juga,

Komentar