CATATAN REDAKSI "Ketika Nilai Luhur Menjadi Perisai Kejahatan : Belajar dari Masalah Begal dan Geng Motor di Makassar"
Penulis: Tim Redaksi To The Point
To The Point, MAKASSAR - Di jalan-jalan protokol Makassar, dari pinggiran Pantai Losari hingga jalur penghubung ke daerah pinggiran, berita tentang gangguan geng motor dan kasus begal seolah tak pernah benar-benar hilang dari perbincangan warga. Setiap kali terjadi kejadian, reaksi masyarakat selalu sama: kemarahan pada pelaku, harapan agar pihak berwenang bertindak tegas, dan keinginan agar ketertiban segera pulih. Namun di balik setiap kasus yang terungkap, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita semua, betapa sulitnya memberantas masalah ini bukan semata karena kurangnya penegakan hukum, melainkan karena adanya ikatan kuat yang didasari oleh nilai luhur budaya kita sendiri yang kini tersasar jauh dari tujuan aslinya.
![]() |
| Ilustrasi : Begal dan Geng Motor |
To The Point, MAKASSAR - Di jalan-jalan protokol Makassar, dari pinggiran Pantai Losari hingga jalur penghubung ke daerah pinggiran, berita tentang gangguan geng motor dan kasus begal seolah tak pernah benar-benar hilang dari perbincangan warga. Setiap kali terjadi kejadian, reaksi masyarakat selalu sama: kemarahan pada pelaku, harapan agar pihak berwenang bertindak tegas, dan keinginan agar ketertiban segera pulih. Namun di balik setiap kasus yang terungkap, ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita semua, betapa sulitnya memberantas masalah ini bukan semata karena kurangnya penegakan hukum, melainkan karena adanya ikatan kuat yang didasari oleh nilai luhur budaya kita sendiri yang kini tersasar jauh dari tujuan aslinya.
Bagi masyarakat Bugis dan Makassar, siri’ na pacce serta abbulo sibatang bukan sekadar istilah biasa. Ini adalah jiwa dari kehidupan bermasyarakat, prinsip yang menjaga kehormatan, melindungi sesama, dan mengajarkan untuk saling berdiri tegak dalam suka maupun duka. Siri’ na pacce mengajarkan kita untuk menjaga harga diri sendiri dan kehormatan orang lain, serta merasakan kesusahan orang lain sebagai kesusahan diri sendiri. Sedangkan abbulo sibatang bermakna bahwa kita semua adalah satu tubuh: jika satu bagian sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya juga. Dua prinsip ini adalah warisan leluhur yang menjadikan masyarakat kita dikenal sebagai masyarakat yang bersatu, saling melindungi, dan tak pernah membiarkan sesamanya jatuh sendirian.
Banyak sekali catatan dan literatur yang mencatat keagungan prinsip masyarakat Bugis-Makassar ini.
Bagi Anda yang ingin mendalami lebih dalam akar sejarah, dinamika sosial, serta aplikasi luhur kebudayaan kita dalam tatanan kemasyarakatan, maka ini salah satu buku pilihan yang patut anda miliki:
Nilai luhur budaya yang tersasar jauh dari tujuan aslinya"
Inilah yang kita sayangkan, sesuatu yang terjadi di kalangan kelompok geng motor dan pelaku kejahatan jalanan, nilai-nilai mulia masyarakat Bugis-Makassar yang mengalami penempatan yang sangat salah. Ikatan persaudaraan yang seharusnya dipakai untuk saling mengangkat derajat, kini berubah menjadi solidaritas buta yang melindungi kesalahan. Jika satu anggota kelompok ditangkap atau dimarahi warga, yang lain berdatangan bukan untuk menasihati, melainkan untuk membalas dan menutupi jejak kejahatan. Mereka menganggap melindungi teman yang berbuat salah adalah bukti menjaga kehormatan dan persaudaraan, padahal hal itu justru merusak nama baik kelompok, keluarga, dan seluruh masyarakat. Solidaritas yang seharusnya menjadi kekuatan untuk kebaikan, kini menjadi tembok yang menghalangi proses hukum dan penyadaran diri.
Polisi dan Begal, Geng Motor
Kita juga melihat bahwa sebagian besar pelaku gangguan ini adalah remaja, usia yang seharusnya penuh dengan mimpi, semangat belajar, dan persiapan untuk masa depan.
Kita juga melihat bahwa sebagian besar pelaku gangguan ini adalah remaja, usia yang seharusnya penuh dengan mimpi, semangat belajar, dan persiapan untuk masa depan.
Kenapa mereka dengan mudah terjebak di jalan yang salah?
Bukan karena mereka lahir dengan sifat jahat, melainkan karena mereka mencari tempat untuk diterima, mencari rasa memiliki, dan mencari sosok yang bisa menjadi teladan. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi di lingkungan yang benar, maka kelompok yang memberikan rasa "satu tubuh" dan perlindungan tanpa syaratlah yang akan mereka pilih. Di situlah letak kesalahpahaman. Mereka mengira kesetiaan pada teman sekelompok adalah bentuk abbulo sibatang, padahal prinsip aslinya adalah saling bantu agar bisa menjadi manusia yang lebih baik, bukan saling seret ke dalam lembah kesalahan.
Sangat penting kita sadari bersama, masalah begal dan geng motor di Makassar bukanlah masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan tindakan kepolisian semata. Ini adalah masalah lintas sektoral, yang akarnya menjalar ke berbagai sisi kehidupan, sehingga penanganannya pun harus melibatkan kerja sama erat dari lima unsur yang paling bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak bangsa.
Lima Unsur harus bekerja sama menangani masalah ini
Pertama adalah orang tua. Keluarga adalah sekolah pertama dan utama. Orang tua harus hadir bukan hanya sebagai pemberi kebutuhan makan dan pakaian, tapi juga sebagai pendengar setia, pengenal perkembangan pergaulan anak, dan teladan dalam mempraktikkan nilai budaya yang benar. Seringkali anak terjebak karena merasa tidak dipahami di rumah.
Kedua adalah guru dan lingkungan sekolah. Sekolah bukan sekadar tempat menghafal pelajaran. Guru harus menjadi orang tua kedua yang tidak hanya mengajar ilmu pengetahuan, tapi juga mengajarkan batasan benar-salah dan membimbing siswa menemukan potensi positif diri mereka.
Ketiga adalah ulama dan tokoh agama. Nilai agama adalah fondasi moral yang tak tergantikan. Melalui dakwah dan pendekatan akrab, ulama bisa meluruskan pemahaman tentang mana persaudaraan yang diridhai Tuhan dan mana yang justru mendatangkan murka.
Keempat adalah pemerintah. Baik pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum harus berperan adil: menindak tegas pelanggaran hukum tanpa pandang bulu, namun juga membuka ruang kegiatan positif—seperti wadah olahraga, seni, dan pelatihan keterampilan—agar energi remaja tersalurkan ke arah yang bermanfaat.
Kelima adalah pemerhati anak dan masyarakat sipil. Mereka yang memahami dunia remaja bisa membantu merancang program pendampingan, konseling, dan pembinaan yang sesuai dengan kebutuhan psikologis anak muda.
Kita tidak bisa membiarkan nilai budaya yang menjadi kebanggaan kita terus disalahartikan. Siri’ na pacce seharusnya membuat kita malu jika berbuat kerusakan di jalan umum, bukan malu jika tidak membela teman yang salah. Abbulo sibatang seharusnya membuat kita bergerak bersama mengangkat derajat sesama, bukan bersama-sama menakuti warga yang lewat.
Aksi Begal dan Geng Motor "Meresahkan"
Masalah ini tidak akan selesai dalam satu malam, atau dengan satu tindakan saja. Tapi jika kita semua bersatu—orang tua, guru, ulama, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat—untuk meluruskan pemahaman nilai budaya kita dan saling bahu-membahu membimbing generasi muda, maka suatu hari nanti nama Makassar akan kembali dikenal sebagai kota yang aman, ramah, dan menjunjung tinggi nilai luhur warisan leluhur.
Catatan Redaksi: Membimbing generasi muda keluar dari lembah perilaku menyimpang membutuhkan pemahaman sosiologis dan pendekatan kriminologi sosial yang tepat. Mari bersama merawat nalar kritis dan kepedulian kolektif kita melalui literatur ilmiah seputar pola pembinaan remaja berikut:
📌 Catatan Terbuka untuk Pembaca Setia To The Point
Dalam artikel ini, Redaksi To The Point merekomendasikan dua karya berbobot yang menjadi rujukan penting untuk memahami akar budaya sekaligus masalah sosial di tengah masyarakat kita: Buku Dinamika Bugis–Makassar untuk memahami nilai luhur leluhur beserta penerapannya, serta Buku Kriminologi Kajian Sosiologi dan Perilaku Menyimpang untuk memahami pendekatan ilmiah dalam menangani penyimpangan perilaku remaja. Kedua buku ini dipilih bukan sekadar referensi, melainkan cermin jernih agar kita tidak hanya menyalahkan keadaan, tetapi juga memahami akar masalah dan jalan keluarnya.
Tautan pembelian yang tersemat di dalam tulisan ini adalah tautan afiliasi dari Tokopedia maupun Shopee. Artinya, tanpa menambah biaya sedikit pun pada harga yang Anda bayar, setiap pembelian melalui tautan tersebut akan memberikan dukungan kecil bagi redaksi untuk terus menyusun dan membagikan tulisan-tulisan bernilai ini secara cuma-cuma kepada masyarakat. Semoga ilmu yang tertuang di dalamnya menjadi pelita bagi kita semua, dan semoga setiap niat baik yang terjalin di antara kita senantiasa diberkahi oleh Yang Maha Kuasa.
Makassar, 12 Juli 2026
Tim Redaksi To The Point



Komentar