Penulis: Gempita Prahara
![]() |
| Taman Nasional Bantimurung |
To The Point, MAROS – Kawasan wisata dan permandian Taman Nasional Bantimurung secara administratif membentang meliputi dua kecamatan dalam Kabupaten Maros. Bagian utama air terjun dan sumber air alami berada di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang. Sedangkan gerbang masuk utama, museum kupu‑kupu, serta kawasan penangkaran terletak di Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Maros.
Lokasi ini berjarak sekitar 40 kilometer ke arah timur‑laut dari Kota Makassar, dan kini menjadi salah satu tujuan wisata paling ramai serta favorit di Sulawesi Selatan. Sesungguhnya pesona permandian alam Bantimurung ini telah dikenal ratusan tahun silam, baik oleh masyarakat setempat maupun kalangan ilmuwan dunia .
Asal‑Usul dan Penemuan Pertama
Keberadaan permandian ini secara resmi ditemukan dan diberi nama oleh penguasa pertama Kerajaan Simbang, yaitu Patahudding Daeng Parukka . Ketika beliau sedang membangun istana dan menata wilayah di sekitar tempat itu, terdengar suara gemuruh air yang sangat keras dari dalam rimbun hutan kapur. Penasaran, beliau menelusuri hingga menemukan air terjun yang indah dan megah tersembunyi di antara celah bukit.
Raja Patahuddin kemudian menyebut tempat itu dengan sebutan dalam bahasa Bugis “Benti Merrung”, yang berarti “air yang bergemuruh”.
Belakangan, pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Bantimurung dengan pegunungan kapurnya itu ditetapkan sebagai monumen alam sejak tahun 1919. Seiring berjalannya waktu dan perubahan dialek, sebutan Benti Merrung itu perlahan berubah menjadi Bantimurung seperti yang kita kenal sekarang.
Peneliti Asal Inggris Menemukan Kerajaan Kupu‑kupu
Tercatat pada tahun 1857, seorang peneliti dan penjelajah alam asal Inggris, bernama Alfred Russel Wallace, menjelajahi lembah karst ini dari Agustus hingga bulan November tahun itu. Ia mendata di kawasan itu hidup sekitar 232 jenis kupu‑kupu, dengan corak dan warna sangat beragam dan jarang ditemukan di tempat lain . Dalam catatan perjalanannya yang dibukukan berjudul Kepulauan Nusantara, ia menggambarkan keindahan luar biasa ini dan menjulukinya The Kingdom of Butterfly, atau “Kerajaan Kupu‑kupu”, sebutan yang melekat hingga kini .
Status Sebagai Taman Nasional
Kawasan permandian alam Bantimurung resmi ditetapkan menjadi taman nasional pada 18 Oktober 2004. Penetapan disahkan oleh Kementerian Kehutanan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan SK.398/Menhut‑II/2004.
Melalui keputusan ini, permandian dan air terjun digabungkan bersama sejumlah cagar alam, taman wisata alam, dan hutan lindung di sekitarnya menjadi satu kesatuan utuh bernama Taman Nasional Bantimurung‑Bulusaraung.
Kawasan ini merupakan salah satu bentang karst terbesar dan tertua di dunia. Di samping air terjun dan kolam alami di Kecamatan Simbang, terdapat jalur wisata lengkap di Kecamatan Bantimurung, mulai gerbang utama, museum kupu‑kupu, tempat penangkaran, hingga gua‑gua purba yang menyimpan jejak kehidupan purba serta kekayaan flora‑fauna khas Sulawesi.
Bagi masyarakat Bugis‑Makassar, tempat ini tetap bernilai adat dan sakral. Jalur penghubung zaman dulu melintasi Kerajaan Marusu, Kerajaan Simbang menuju Kerajaan Bone, sehingga sejarah alam dan sejarah kerajaan saling melengkapi.
Ketika Islam mulai tersebar luas sekitar tahun 1605, posisi kawasan ini juga menjadi bagian penting dalam dinamika hubungan antara Kerajaan Gowa‑Tallo dengan Kerajaan Bugis dalam persekutuan Tellumpoccoe.
Menjadi Wisata Unggulan Masa Kini
Fasilitas yang ada di kawasan Taman Nasional Bantimurung, kini tertata sesuai pembagian wilayah, di Kecamatan Bantimurung berpusat pelayanan, informasi dan edukasi; sedangkan di Kecamatan Simbang menjadi pusat keindahan sumber air dan pemandangan alami. Di sana pengunjung dapat menikmati kolam alami yang jernih, menyusuri celah batu kapur, serta mengamati ratusan jenis serangga bersayap indah yang terbang bebas di antara pepohonan rimbun .
Setiap hari, terutama akhir pekan dan musim liburan sekolah maupun hari raya, ribuan pengunjung datang dari berbagai penjuru Sulawesi maupun luar daerah. Keberadaan museum dan penangkaran kupu‑kupu juga membantu masyarakat mengenal lebih dekat kekayaan hayati yang membuat nama Bantimurung terkenal hingga ke dunia ilmu pengetahuan sejak zaman Wallace .
Bantimurung mengajarkantempat wisata yang sejati adalah yang tetap menjaga batas wilayah, akar sejarah, kekayaan alam, serta nilai budaya masyarakat sekitarnya. Ia menyambungkan kenangan masa kerajaan‑kerajaan lama, jejak penemuan Patahudding Daeng Parukka, catatan ilmuwan dunia, hingga zaman milenial saat ini. (ttp)

Komentar