Sangalla, Asal Usul dan Jejak Peradaban di Pegunungan Sulawesi Selatan

Warisan budaya di Sangalla, cerminan sejarah peradaban di daerah pegunungan SulSel

Penulis : Khairil Anas

To The Point, Tator - Awal 2026, perhatian kita tertuju ke sebuah wilayah pemukiman masyarakat adat pegunungan di kabupaten Tator, yakni Sangalla. Karena tempat itu dipilih untuk menyelesaian sengketa budaya berskala nasional, yang menimpa Komika Pandji Pragiwaksono.

Ia harus menjalani sidang adat di Tana Toraja sebagai rangkaian dari restorative justice, untuk menyelesaikan polemik akibat materi stand-up comedy tahun 2013 yang dinilai menghina tradisi pemakaman sakral, Rambu Solo.  

Sangalla, merupakan pemukiman adat yang berada di antara rangkaian pegunungan yang menjulang di bagian tengah Sulawesi Selatan. Tanah tua ini, kini masuk dalam lingkup Kabupaten Tana Toraja. 

Sejak ratusan tahun silam, Sangalla telah menjadi salah satu akar peradaban yang tumbuh dan berkembang sejajar bersama dengan kerajaan‑kerajaan besar di dataran rendah seperti Sawitto maupun Sidenreng. 

Cerita tentang lahirnya kampung adat Sangalla tidak dapat dipisahkan dari tatanan adat, naskah kuno, serta peristiwa besar yang mengubah peta persebaran masyarakat di Sulawesi Selatan.

Asal‑Usul dan Pembentukan Wilayah

Menurut catatan tradisi dan warisan tulisan leluhur, akar kehidupan di Sangalla berawal dari kerajaan induk bernama Kalindobulanan Lepongan Bulan. 

Kerajaan Induk ini bermula dari kisah Puang Tamboro Langi yang turun ke bumi di kawasan Gunung Kandora sekitar abad ke‑4.  Seiring dengan pertambahan penduduk dan semakin meluasnya pengaruh kekuasaannya, maka wilayah besar itu kemudian dibagi menjadi persekutuan tiga bagian utama yang dikenal sebagai Tallu Lembangna, yakni Makale disebut Basse Kakanna, Sangalla disebut Basse Tanggana, berkedudukan di tengah, Mengkendek disebut Basse Adinna

Dari pembagian itulah Sangalla tumbuh menjadi wilayah yang memiliki kedudukan istimewa, berfungsi sebagai penjaga lambang persatuan serta pusat tatanan hukum dan adat istiadat. Sistem ini menjadikan Sangalla berdaulat namun tetap terjalin erat dalam satu ikatan besar masyarakat pegunungan.

Masa Kepemimpinan La Maddaremmeng 

Salah satu tokoh paling terkenal yang tercatat dalam naskah Lontara Mula Ri Timpa'Na Tana'E ri Sidenreng, adalah La Maddaremmeng. Ia berkuasa di Sangalla sekitar masa sebelum pertengahan abad ke‑14, merupakan anak sulung dari sembilan bersaudara yang memegang kendali wilayah di Sangalla.

Di bawah pemerintahannya, kekuasaan berpusat sepenuhnya padanya. Sikapnya cenderung tegas namun otoriter, sering kali mengabaikan hak dan keadilan bagi kerabat serta rakyat di sekitarnya. Hal inilah yang menjadi pemicu utama peristiwa besar, tatkala kedelapan orang adiknya sepakat meninggalkan tanah kelahiran demi mencari tempat yang lebih aman dan adil.

Perjalanan mereka menembus semak belukar, bukit dan lembah berlangsung sulit. Karena jalan yang sukar dilalui, mereka berjalan saling bergandengan tangan dan saling menguatkan. Dari ucapan berulang‑ulang Sirénréng‑renréng yang berarti saling beriringan atau berpegangan, lama‑kelama terbentuklah nama tempat tujuan mereka, yakni Sidenreng. Peristiwa ini terjadi sebelum tahun 1344. Karena tahun itu merupakan awal mula terbentuknya Sidenreng

Sementara kedelapan saudara membuka wilayah baru di tepi danau dan lembah subur, La Maddaremmeng tetap tinggal dan memimpin di tanah asalnya. Sangalla terus berkembang dengan corak khas masyarakat pegunungan yang berbeda dengan kerajaan‑kerajaan di dataran rendah seperti Sawitto maupun Sidenreng. 

Tatanan Kehidupan dan Warisan Adat

Pemimpin wilayah Sangalla menyandang gelar lengkap Puang Basse Tanggana Sangalla. Pusat kehidupan dan pengambilan keputusan berpusat di bangunan adat bernama Tongkonan, yang berfungsi sekaligus sebagai tempat sidang, penyimpanan tradisi, dan lambang asal‑usul keturunan.

Berbeda dengan Sawitto atau Sidenreng yang masuk langsung ke lingkaran persekutuan Ajatappareng, Sangalla tetap berjalan sesuai jalur budaya pegunungan, namun tetap menjalin hubungan erat melalui jalur perdagangan dan pertukaran budaya. Hukum yang berlaku berlandaskan kearifan lokal yang menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan roh leluhur.

Dari Kerajaan Adat Menjadi Wilayah Administrasi 

Seiring berlalunya waktu, tatanan kekuasaan berubah secara bertahap. Setelah melewati masa kolonial dan perubahan sistem pemerintahan, pada tahun 1961 Sangalla ditetapkan secara resmi menjadi Kecamatan, yang secara bertahap disempurnakan dengan adanya pembagian desa dan pemukiman hingga menjadi bentuk seperti yang kita lihat sekarang, menjadi bagian dari Kabupaten Tana Toraja.

Meski sudah berubah nama dan bentuk administrasi, jejak peradaban lama tidak hilang. Di sana‑sini masih terlihat susunan kampung adat, bentuk bangunan tongkonan, serta tuturan yang masih disampaikan turun‑temurun. Sangalla tetap diingat bukan sebagai tanah tua saja, melainkan sebagai salah satu sumber awal sejarah yang juga melahirkan kisah perjalanan menuju pembentukan Kerajaan Bugis, yakni Sidenreng.

Sangalla menjadi bukti nyata bahwa peradaban di Sulawesi Selatan tumbuh dari berbagai akar yang saling melengkapi. Dari pusat induk Kalindobulanan Lepongan Bulan, masuk ke persekutuan Tallu Lembangna, masa kepemimpinan La Maddaremmeng, hingga menjadi titik awal perjalanan kedelapan saudara menuju lembah danau.

Tanah di pegunungan ini menjelaskan bahwa sejarah tidak berdiri sendiri. Sangalla dan Sidenreng, serta Sawitto, adalah dua sisi kisah yang saling melengkapi gambaran masa lalu masyarakat Sulawesi Selatan.(ttp) 

Baca ki juga

Villa Yuliana, Saksi Sejarah Kekuasaan Kolonial di Soppeng

Toraja, Tanah Tinggi Budaya Luhur tak Lekang oleh Waktu.


Komentar