Masjid Jami' Tua Palopo: Saksi Sejarah Peradaban Luwu

Mesjid Jami Tua,Palopo

To The Point, PALOPO
– Berdiri megah di jantung Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Masjid Jami' Tua Palopo bukan sekadar tempat ibadah, melainkan saksi bisu perjalanan panjang sejarah Kesultanan Luwu, salah satu kerajaan tertua di Nusantara. Bangunan Mesjid yang telah berusia lebih dari 3 abad ini menjadi simbol penyebaran Islam dan akulturasi budaya yang kental di tanah Luwu.

Dibangun sekitar abad ke-17, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Luwu ke-XXI, Andi Patiwareq Daeng Parabbung, masjid ini menjadi pusat penyebaran agama Islam yang menggantikan kepercayaan sebelumnya. 

Fahri Berdiri di Pagar Mesjid Jami Tua

Konstruksi bangunan Mesjid Jami' Tua tidak menggunakan paku besi sama sekali, melainkan disusun dengan sistem pasak dan ikatan kayu yang sangat rapi, ini menjadi bukti kecerdasan arsitektur masyarakat Bugis-Makassar pada masa lampau. 

Keunikan masjid terlihat jelas dari arsitekturnya yang memadukan gaya tradisional Bugis dengan sentuhan budaya Islam. Atapnya bertingkat tiga melambangkan tingkatan keimanan, yakni Islam, Iman, dan Ihsan. Dindingnya terbuat dari kayu ulin yang kokoh dan tahan lama, sementara tiang penyangganya berjumlah 40 batang yang melambangkan jumlah hari kenabian. 

Hingga kini, ornamen ukiran khas Bugis yang menghiasi dinding dan tiang masih terawat dengan indah. 

Selain fungsinya sebagai tempat shalat, masjid ini dulunya juga berperan sebagai pusat pemerintahan, tempat musyawarah pemuka adat, hingga pusat pendidikan agama. Di sini, para ulama dan cendekiawan mengajarkan Al-Qur'an, hukum Islam, dan nilai-nilai luhur budaya Luwu kepada generasi muda. Bahkan, perjanjian penting dan pengangkatan raja pun kerap dilangsungkan di halaman masjid tua ini. 

Bersama Ust.Latief
(marbot Mesjid Jami Tua Palopo)

Meski telah berusia ratusan tahun, bangunannya tetap kokoh berdiri. Beberapa kali dilakukan pemugaran, namun bentuk asli dan nilai sejarahnya tetap dipertahankan. 

Kini, selain menjadi tempat ibadah, Masjid Jami' Tua juga menjadi tujuan wisata religi dan budaya. Pengunjung tak hanya datang untuk beribadah, tetapi juga ingin menyaksikan langsung warisan arsitektur yang langka dan meresapi jejak sejarah yang tersimpan di setiap sudutnya.

Bagi masyarakat Palopo dan sekitarnya, masjid ini bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah warisan leluhur yang mengajarkan harmoni antara agama dan budaya, serta menjadi pengingat akan peradaban gemilang yang pernah ada. Keberadaannya terus dijaga agar nilai sejarah dan keagamaannya dapat terus dinikmati dan diwariskan kepada generasi mendatang.(ttp) 

Baca ki Juga,

PSM Makassar: Jejak Sejarah Klub Tertua dan Warisan Abadi Sang Legenda Ramang

Jejak Suci di Samping Ka'bah: Bekas Rumah Rasulullah SAW yang Kini Menjadi Perpustakaan

Komentar