PSM Makassar: Jejak Sejarah Klub Tertua dan Warisan Abadi Sang Legenda Ramang

Penulis: Gempita Prahara 
 
Andi Ramang
              
Di tengah riuhnya sepak bola modern Indonesia, satu nama tetap berdiri tegak sebagai bukti kelestarian sejarah: PSM Makassar. Dikenal dengan julukan Juku Eja (Ikan Merah) atau Ayam Jantan dari Timur, klub ini bukan sekadar tim olahraga, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Sulawesi Selatan. Lebih dari satu abad perjalanannya, PSM telah melahirkan nama-nama besar, salah satunya adalah Andi Ramang—legenda yang namanya kini diabadikan dalam ingatan warga bahkan hingga pada nama jalan di sudut kota Makassar.
 
Awal Mula Berdirinya Klub Tertua di Indonesia
Cikal bakal PSM Makassar lahir pada 2 November 1915 dengan nama Makassaarsche Voetbal Bond (MVB), dibentuk di masa pemerintahan Hindia Belanda sebagai wadah persatuan tim sepak bola yang ada di Makassar saat itu . Pada masa itu, Makassar merupakan pusat pelabuhan dan administrasi wilayah Indonesia Timur, sehingga sepak bola berkembang pesat berkat pengaruh pelaut dan pedagang asing . MVB menghimpun berbagai kelompok, mulai dari komunitas Eropa, Tionghoa, Arab, hingga pribumi, dalam satu wadah kompetisi lokal.
 
Perubahan nama menjadi Persatuan Sepakbola Makassar (PSM) terjadi pada masa pendudukan Jepang, saat segala istilah berbau Belanda dihapuskan. Sejak saat itu, PSM terus melaju menjadi kekuatan utama sepak bola wilayah timur, dan kini tercatat sebagai klub sepak bola tertua yang masih eksis dan berkompetisi di level tertinggi Indonesia. Berdirinya klub ini merupakan inisiatif bersama tokoh olahraga dan masyarakat saat itu, yang bertekad menjadikan sepak bola sebagai sarana persatuan lintas suku dan budaya di Tanah Makassar.
 
Andi Ramang: Si Kancil dari Barru yang Menggetarkan Dunia
Tak bisa dibayangkan wajah PSM tanpa menyebut nama Andi Ramang. Lahir di Barru, Sulawesi Selatan, pada tanggal 24 April 1924, Ramang tumbuh di lingkungan sederhana—ayahnya, Djonjo Daeng Nyo’lo, adalah ajudan Raja Gowa yang juga memiliki bakat besar dalam sepak takraw . Sejak kecil, Ramang kerap bermain menggunakan bola buatan dari anyaman rotan, gulungan kain, bahkan buah jeruk, yang melatih kelincahan dan kakinya yang ajaib.
 
Pada tahun 1947, bakat Ramang terlihat saat ia membela tim Persis Sulawesi dalam pertandingan persahabatan melawan PSM. Dalam laga itu, timnya menang telak 9–0, di mana Ramang menyumbang 7 gol—momen yang langsung membawanya bergabung ke skuad PSM . Meski bertubuh tak tinggi, hanya sekitar 160 sentimeter, ia dijuluki “Si Kancil” karena kecepatan lari dan kelincahannya yang sulit dibaca lawan. Ia juga terkenal dengan tendangan saltonya yang memukau serta kemampuan langka mencetak gol langsung dari tendangan sudut. 

Ramang bukan hanya kebanggaan PSM, melainkan andalan Tim Nasional Indonesia. Ia turut membawa Indonesia berlaga di Olimpiade Melbourne 1956, serta mencetak gol penting dalam kualifikasi Piala Dunia menghadapi tim kuat seperti Uni Soviet dan Tiongkok. Bahkan dalam dokumen resmi FIFA, namanya tercatat sebagai Rusli Ramang, namun masyarakat Makassar tetap memanggilnya dengan nama sederhana: Ramang .
 
Meski menjadi bintang, hidupnya tetap sederhana. Ia pernah bekerja sebagai tukang becak dan kernet truk demi membantu ekonomi keluarga, sebelum akhirnya meninggal dunia di Makassar pada 26 September 1987 di usia 63 tahun.

Pusat Kediaman Keluarga Besar Ramang
Dari keempat anak kandung Andi Ramang—Rauf Ramang, Ratna Ramang, Anwar Ramang, dan Arsyad Ramang—keturunan keluarga besar sang legenda umumnya berpusat di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Andi Djemma, yang dulunya bernama Jalan Landak Baru, wilayah Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Tamalate, Makassar. Sebelumnya juga tercatat kediaman almarhum Anwar Ramang berada di Jalan Landak VIII Nomor 2, yang masih satu lingkungan kawasan ini.
 
Meskipun berpusat di sana, sebagian cucu dan kerabat dekat juga tersebar di sekitarnya serta ke wilayah Sudiang. Nomor rumah persis anggota keluarga yang masih hidup tidak dipublikasikan secara luas demi menjaga privasi dan ketenangan hidup mereka, sesuai dengan prinsip kesederhanaan yang selalu dipegang Andi Ramang sepanjang hayatnya.
 
Informasi ini melengkapi jejak keberadaan keluarga Ramang di tengah kota Makassar, menjadi bukti bahwa warisan sang legenda tidak hanya tertulis di sejarah sepak bola, melainkan juga hidup berdampingan dengan warga di kawasan yang kini makin berkembang.

Hubungan dengan Jalan Daeng Ramang di Sudiang
Banyak yang bertanya, apakah Jalan Daeng Ramang di kawasan Sudiang, Makassar, ada hubungannya dengan pemain sepak bola legendaris ini? Nama “Daeng” sendiri adalah gelar kehormatan masyarakat Bugis–Makassar, yang juga melekat pada Andi Ramang.

Secara umum, pemberian nama jalan tersebut merupakan bentuk penghormatan pemerintah daerah dan warga atas jasa-jasa Andi Ramang bagi olahraga dan nama baik Sulawesi Selatan. Meski tak ada catatan resmi yang menyatakan ia pernah tinggal persis di jalur tersebut, penamaan jalan itu adalah bagian dari upaya menjaga warisan nama besarnya agar tak pudar dimakan waktu—seiring dengan patungnya yang kini berdiri gagah di kawasan Pantai Losari, serta julukan PSM sebagai “Pasukan Ramang” yang tetap dipakai hingga hari ini.
 
PSM, Club Bola Tertua di Indonesia

Ramang adalah bukti nyata bahwa kebesaran seseorang tak diukur dari harta, melainkan jejak yang ditinggalkan. Dan nama PSM Makassar, serta jalan yang menyandang namanya di Sudiang, adalah cara abadi masyarakat Sulawesi Selatan berkata: 
Kami tak pernah melupakanmu, Ramang.

Komentar