Penulis: Khairil Anas
Perpustakaan ini tidak hanya berisi kitab agama, melainkan juga karya sejarah, budaya, bahasa, dan ilmu pengetahuan umum. Pengunjung yang datang ke Masjidil Haram bisa berhenti sejenak, membaca buku, atau sekadar merenung betapa besarnya jasa Rasulullah dalam menerangi kegelapan kebodohan zaman dahulu.
![]() |
| Rumah Rasulullah di Sisi Mesjidilharam-Mekkah |
Di jantung kota Mekkah, tepat di sisi timur Masjidil Haram, berdirilah sebuah bangunan sederhana namun menyimpan keagungan sejarah umat Islam. Bangunan ini dulunya adalah tempat tinggal tercinta Rasulullah SAW sebelum beliau hijrah, dan hari ini berfungsi sebagai Perpustakaan Umum Kota Mekkah. Lokasinya hanya berjarak beberapa langkah dari Ka'bah, menjadikannya saksi bisu perjalanan dakwah pertama, perpisahan yang menyayat hati, hingga perubahan fungsi demi kebaikan ilmu pengetahuan.
Sejarah Awal: Rumah Keluarga Rasulullah di Mekkah
Rumah ini menjadi tempat tinggal Rasulullah SAW sejak beliau menikah dengan Siti Khadijah binti Khuwailid pada usia 25 tahun. Sebelumnya, rumah ini adalah milik ayah Siti Khadijah, kemudian dijadikan tempat menetap bagi pasangan suami istri itu. Rasulullah SAW menempati rumah ini selama kurang lebih 28 tahun, mulai dari pernikahannya hingga hari ketika beliau harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk berhijrah ke Madinah.
Bangunan ini tidaklah mewah, terbuat dari batu bata, tanah liat, dan atap pelepah kurma, persis seperti rumah warga Mekkah pada umumnya. Terdapat beberapa ruangan: tempat istirahat, ruang tamu, serta tempat menyimpan kebutuhan sehari-hari. Di saat beliau tinggal di rumah inilah, beliau menerima tekanan dari penduduk Mekkah, sehingga beliau sering menyendiri di Gua Hira, dan di situlah wahyu pertama turun dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril.
Seusai menerima wahyu, beliau lalu pulang ke rumah ini dengan hati bergetar dan bercerita kepada Siti Khadijah. Di sini pula beliau mempersiapkan diri, berdiskusi dengan sahabat, dan menanamkan nilai-nilai Islam yang baru saja disampaikan Tuhan.
Selama periode Mekkah, rumah ini menjadi tempat perlindungan bagi kaum lemah, tempat berkumpul orang-orang yang mencari kebenaran, dan benteng kesederhanaan yang mengajarkan bahwa kemuliaan bukan diukur dari kemewahan bangunan, melainkan ketakwaan penghuninya.
Saat Rasulullah SAW Hijrah ke Madinah
Pada tahun 622 M, ketika tekanan dan ancaman kaum Quraisy semakin mengkhawatirkan, Allah SWT memerintahkan Rasulullah untuk berhijrah ke kota Yatsrib (yang kemudian bernama Madinah Al-Munawwarah). Perpisahan dengan rumah ini adalah salah satu momen yang paling menyentuh hati beliau.
Diriwayatkan, saat hendak berangkat, Rasulullah menoleh ke arah Mekkah dan berkata dengan penuh kasih sayang: "Sungguh engkau adalah tempat yang paling dicintai Allah dan paling dicintai olehku. Sekiranya kaummu tidak mengusirku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Sebelum berangkat, Rasulullah SAW menitipkan kunci rumah ini kepada sahabat terpercaya Ali bin Abi Thalib RA, yang juga ditugaskan untuk mengembalikan barang-barang titipan orang Mekkah kepada pemiliknya masing-masing. Setelah tugas itu selesai, Ali bin Abi Thalib pun menyusul berangkat ke Madinah.
Siapa yang Menempati Rumah Itu Setelah Rasulullah Pergi?
Setelah keberangkatan Rasulullah dan Ali RA, rumah ini tidak dibiarkan kosong begitu saja. Awalnya bangunan ini tetap dihormati oleh warga Mekkah, namun kemudian diambil alih dan dirawat oleh keluarga dari Bani Hasyim serta kerabat Rasulullah.
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan RA, bangunan ini dirawat dan diperbaiki kondisinya. Kemudian, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, rumah ini dijadikan tempat penyimpanan naskah-naskah suci dan catatan sejarah, sebagai bentuk penghormatan atas tempat yang pernah didiami Rasulullah.
Selama berabad-abad, rumah ini mengalami berbagai perubahan bentuk seiring waktu dan perluasan kawasan Masjidil Haram, namun lokasi aslinya tetap terjaga dengan baik. Pada masa pemerintahan Kerajaan Arab Saudi, bangunan ini direnovasi dengan tetap mempertahankan ciri khas arsitektur aslinya, lalu secara resmi diresmikan sebagai Perpustakaan Umum Kota Mekkah.
Kini Menjadi Perpustakaan: Melanjutkan Warisan Ilmu
Menjadikan bekas rumah Rasulullah sebagai perpustakaan adalah simbol yang sangat indah dan tepat. Selama hidupnya, Rasulullah SAW adalah orang yang paling mendorong umatnya untuk mencari ilmu, dari buaian hingga liang lahat. Dulu di rumah ini beliau menyebarkan wahyu dan kebenaran, kini di tempat yang sama tersimpan ribuan buku, naskah kuno, dan referensi ilmu pengetahuan yang bisa diakses siapa saja.
![]() |
| Buka Bersama di Samping Rumah Rasulullah |
Perpustakaan ini tidak hanya berisi kitab agama, melainkan juga karya sejarah, budaya, bahasa, dan ilmu pengetahuan umum. Pengunjung yang datang ke Masjidil Haram bisa berhenti sejenak, membaca buku, atau sekadar merenung betapa besarnya jasa Rasulullah dalam menerangi kegelapan kebodohan zaman dahulu.
Warisan yang Tak Terlupakan
Bekas rumah Rasulullah SAW di Mekkah mengajarkan kita bahwa tempat suci bukanlah sekadar bangunan megah, melainkan tempat yang di dalamnya pernah ada orang suci yang menyebarkan kebaikan. Dari rumah sederhana ini cahaya Islam mulai menyebar, hingga kini berubah menjadi tempat yang menyalurkan cahaya ilmu bagi generasi selanjutnya. Lokasinya yang berdampingan dengan Masjidil Haram menjadi pengingat bahwa ibadah dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang tak terpisahkan dalam ajaran Islam.(ttp)
Baca ki Juga,


Komentar