Jabal Nur dan Gua Hira: Tempat Awal Turunnya Wahyu Pertama

To The Point, MAKKAH – Sekitar 3 kilometer di sebelah utara pusat Kota Makkah, menjulang sebuah gunung dengan ketinggian sekitar 642 meter yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah perkembangan Islam. Itulah Jabal Nur, gunung yang menyimpan Gua Hira, tempat di mana peristiwa paling bersejarah terjadi, yaitu awal diturunkannya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari titik awal pendakian, Anda harus mendaki bukit batu terjal dengan menapaki sekitar 1.420 anak tangga dengan waktu tempuh pendakian sekitar 45 menit hingga 1,5 jam, karena kondisinya yang sangat terjal. 

Dinamakan Jabal Nur yang berarti “Gunung Cahaya”, karena di sinilah cahaya petunjuk Islam pertama kali dianugerahkan kepada manusia. Meskipun posisinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, namun jalur pendakiannya cukup terjal dan membutuhkan tenaga ekstra untuk mencapai puncaknya. Di bagian puncak sebelah barat yang agak landai itulah terletak Gua Hira, sebuah rongga batu berukuran tidak terlalu besar, hanya cukup memuat 3–4 orang dewasa.

Sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad SAW sering menyendiri di gua ini. Beliau terbiasa melakukan tahannuts, yaitu merenung, beribadah, dan menjauhi kesibukan dunia untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Selama berhari-hari, beliau tinggal di sana hanya dengan bekal makanan dan air, merenungi keadaan masyarakat Arab saat itu yang banyak menyembah berhala dan jauh dari nilai kebenaran.

Peristiwa terpenting terjadi pada malam 17 Ramadan atau menurut pendapat lain malam 21 Ramadan, tahun 610 Masehi. Saat itu, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama berupa Surah Al-Alaq ayat 1–5. 

Peristiwa ini menandakan dimulainya masa kenabian dan penyebaran ajaran Islam. Gua kecil yang sederhana ini pun berubah menjadi saksi lahirnya agama yang kini dianut jutaan orang di seluruh dunia.

Meskipun sederhana, Gua Hira memiliki nilai sejarah dan rohani yang mendalam. Dindingnya terbuat dari batu alami yang kokoh, dengan lubang kecil sebagai jalan masuk dan sumber cahaya alami. Hingga kini, tempat ini menjadi tujuan ziarah bagi umat Islam yang berkunjung ke Tanah Suci, meski tidak ada kewajiban agama untuk mendakinya. 

Bagi pengunjung, mendaki Jabal Nur dan mengunjungi Gua Hira menjadi cara merenungkan perjuangan dan kesederhanaan kehidupan Nabi di awal penyebaran Islam. 

Jabal Nur dan Gua Hira bukan sekadar objek geografis. Ia menjadi pengingat bahwa perubahan besar seringkali dimulai dari kesendirian, renungan, dan ketaatan. Tempat ini senantiasa dikenang sebagai titik awal perjalanan panjang yang mengubah peradaban dunia selamanya.(ttp) 

Komentar