![]() |
| Sirenreg-renreng (Saling Menuntun) |
Nama Sidenreng berasal dari kata bahasa Bugis Sirenreng, yang bermakna saling menuntun, saling mengarahkan, dan saling membimbing ke jalan yang benar. Makna ini bukan sekadar penamaan, melainkan cerminan jiwa masyarakat yang hidup rukun dan saling menguatkan sejak zaman dahulu.
Menurut legenda, sekelompok pendatang dari Tana Toraja yang dipimpin delapan bersaudara menembus hutan lebat menuju danau. Di tengah perjalanan yang sulit, mereka berjalan sambil saling berpegangan tangan dan saling menuntun agar tidak terpisah.
Kedatangan 8 bersaudara dari Tana Toraja inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya wilayah yang dinamakan Sidenreng saat ini. Perilaku “sirenreng-renreng” atau saling menuntun bergandengan tangan kedelapan saudara itu dalam meniti perjalanan yang berat, itulah yang kemudian menjadi asal nama Sidenreng, melambangkan semangat kebersamaan dan gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakatnya.
Berdasarkan catatan yang termuat dalam naskah kuno Lontara, delapan orang bersaudara itu berangkat dari wilayah pegunungan Sangalla, Tana Toraja. Mereka berjalan menuju ke arah tepian danau luas yang tenang dan subur. Di tempat itulah mereka menetap, membangun pemukiman, dan mengembangkan kehidupan bersama.
Dari pemukiman sederhana itu, tumbuh berkembang menjadi sebuah kekuatan yang teratur dan kemudian terbentuklah Kerajaan Sidenreng. Di masa awal pembentukannya, tokoh yang sangat besar jasanya adalah Nene Mallomo. Beliau dikenal bukan saja sebagai pemimpin, melainkan sebagai guru besar, penegak hukum, dan peletak dasar tata kehidupan masyarakat. Ajaran‑ajaran beliau yang menjadi pedoman adat yang dijunjung tinggi, terkait masalah keadilan, kejujuran, serta menghormati hak dan kewajiban masing‑masing golongan.
Sejarah mencatat, Kerajaan Sidenreng dipimpin oleh sebanyak tiga belas orang Addatuang. Yang tercatat sebagai raja terakhir adalah La Patiroi. Setelah masa pemerintahan beliau berakhir, bentuk kekuasaan kerajaan perlahan berubah seiring perjalanan zaman dan pengaruh dari luar, hingga akhirnya berubah menjadi tatanan pemerintahan wilayah seperti yang kita kenal sekarang.
Seringkali orang menyamakan antara Kerajaan Sidenreng dengan Kerajaan Sawitto, padahal keduanya berbeda asal mula dan berdiri sendiri‑sendiri. Kerajaan Sawitto didirikan oleh Bongga Minanga dan Sambo Langi, dan berdiri lebih dahulu dibandingkan Kerajaan Sidenreng.
Sedangkan Rappang berasal dari kata “mappang” yang berarti dataran luas, terbuka, dan lapang. Wilayah ini memang berupa hamparan tanah subur yang luas, cocok untuk pertanian dan tempat berkumpul.
![]() |
| Penulis diTugu Kota Sidrap |
“Mate aruwengngi Sidenreng, mate ele’i Rappang”
artinya "Jika Sidenreng mati di sore hari, maka Rappang mati di pagi keesokan harinya. "
Maknanya, "jika satu menghadapi kesulitan, yang lain turut merasakan dan membantu."
Sumpah itulah yang menjadikan dua wilayah kerajaan bertetangga ini sangat rukun dan menyatu sehingga digambarkan dalam naskah lontara, rakyat kedua kerajaan ini hanya bisa dibedakan saat musim panen.
Rakyat yang membawa padinya ke utara adalah rakyat dari kerajaan Rappang. Sedangkan rakyat yang membawa padinya ke selatan adalah rakyat kerajaan Sidenreng.
Seiring berjalannya waktu, keduanya bersatu secara administratif dan ditetapkan menjadi Kabupaten Sidenreng Rappang, yang sering disingkat Sidrap. Tepatnya pada masuknya priode pembentukan landasan hukum RI, 4 Juli 1959, era pra kemerdekaan, status swapraja atau kerajaan di Sulawesi Selatan mulai ditata ulang. Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang-undang Nomor 29 tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah-daerah Tingkat II di Sulawesi.
Undang-undang itu mengamanatkan penggabungan wilayah swapraja Sidenreng dan Rappang menjadi satu daerah kabupaten.
Hingga kini, warisan budaya dan nilai‑nilai luhur itu masih terasa nyata dalam kehidupan masyarakat Sidenreng Rappang. Prinsip saling menuntun, kebijaksanaan Nene Mallomo, serta jejak kebesaran kerajaan‑kerajaan lama tetap dijaga, terus diceritakan, dan dituliskan kembali agar tidak hilang ditelan zaman, dengan tujuan terus menumbuhkan semangat saling menuntun dalam kebersamaan menuju terwujudnya persatuan, sebagai dasar kehidupan bermasyarakat.(ttp)


Komentar