Penulis : Khairil Anas
To The Point, SANGALLA - Sering kali nama La Daremmeng tertukar atau disamakan dengan La Maddaremmeng, padahal keduanya adalah tokoh yang sangat berbeda, hidup di masa berlainan, serta berkuasa di wilayah yang tidak sama.
La Daremmeng adalah pemimpin adat, tokoh peletak dasar serta pendiri peradaban di Sangalla, Tana Toraja. Hidup pada masa awal pembentukan pemukiman dan aturan masyarakat setempat, diperkirakan awal abad ke-14.
Sedangkan La Maddaremmeng, adalah Raja Kerajaan Bone dari rumpun budaya Bugis. Memerintah berabad‑abad kemudian, tercatat dalam sejarah kerajaan besar Sulawesi Selatan sekitar abad ke‑17.
Antara kedua tokoh itu hidup secara terpisah dalam rentang waktu berabad-abad. Persamaan bunyi nama sering menimbulkan kekeliruan dalam tulisan maupun penuturan turun‑temurun. Oleh sebab itu, kisah berikut ini dikhususkan murni mengenai La Daremmeng, tokoh peletak dasar damai dan tertib di tanah Sangalla, Tana Toraja.
Asal‑Usul dan Awal Kehidupan
Menurut riwayat lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, La Daremmeng lahir pada masa ketika wilayah‑wilayah pegunungan Sulawesi Selatan masih terbagi‑bagi menjadi kelompok‑kelompok kecil yang hidup terpisah dan sering berselisih batas wilayah maupun sumber daya alam. Ia berasal dari keturunan yang memiliki akar kuat dalam pengetahuan adat, tata cara hidup, serta kearifan lokal yang berhubungan dengan alam semesta dan leluhur.
Sejak muda, La Daremmeng sudah dikenal sebagai sosok yang cerdas, tenang, namun tegas. Ia tidak hanya menguasai segala aturan adat, melainkan juga sangat memahami perilaku dan kebutuhan masyarakat. Berbeda dengan banyak pemimpin masa itu yang mengandalkan kekuatan fisik semata, La Daremmeng lebih mengutamakan nasihat, kesepakatan bersama, dan kebenaran sesuai prinsip hidup orang Toraja misa kada dipotuo pantan kada dipomate, serta menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan leluhur.
Awal Menjadi Pemimpin Adat Sangalla
Kisah bagaimana La Daremmeng diangkat menjadi pemimpin adat bermula dari keadaan yang cukup sulit. Pada masa itu, berbagai kelompok adat di lembah dan bukit Sangalla sering terlibat perselisihan sengit, memperebutkan batas ladang, pembagian air, rebutan hasil buruan maupun panen. Akibatnya kehidupan menjadi tidak tenang, kerja sama melemah, dan kemakmuran menurun.
Melihat keadaan itu, para tetua adat berkumpul untuk mencari jalan keluar. Mereka membutuhkan orang yang dapat dipercaya, tidak memihak kelompok tertentu, mampu mendamaikan pihak yang berselisih sekaligus menyusun aturan yang jelas dan berlaku sama bagi semua orang.
Saat itulah nama La Daremmeng dikemukakan. Seorang pemuda yang dinilai memiliki kebijaksanaan, dan terbukti mampu mendamaikan perselisihan‑perselisihan kecil yang terjadi sebelumnya.
Ketika terpanggil dan akhirnya ditunjuk untuk menjadi pemimpin adat, ia tidak mengejar kekuasaan, ia berjanji memimpin sesuai kehendak adat dan demi kebaikan seluruh rakyat Sangalla.
Dalam sebuah upacara pengangkatan yang sakral, diiringi doa kepada leluhur dan penghormatan kepada alam, La Daremmeng secara resmi diakui sebagai pemimpin adat utama Sangalla. Ia memegang wewenang menjaga aturan, menyelesaikan sengketa, menetapkan tata cara upacara, serta mengatur hubungan antar pemukiman.
Peran dan Warisan La Daremmeng
Setelah diangkat, ia segera menyusun tatanan yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Sangalla, antara lain dengan;
- Menetapkan batas wilayah yang jelas dan disepakati bersama
- Mengatur pembagian air dan tanah agar perselisihan berkurang
- Menyusun kembali tata cara upacara adat sebagai pengikat persaudaraan
- Mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan rakyat, bukan penguasa semena‑mena
- Menanamkan kewajiban menjaga hutan, sumber air, dan lingkungan sebagai warisan leluhur
Di bawah kepemimpinannya, Sangalla menjadi wilayah yang damai, aman, dan makmur. Banyak masyarakat dari daerah sekitar datang untuk belajar tata kehidupan yang tertib dan seimbang.Hingga kini, nama La Daremmeng tetap hidup sebagai simbol pemimpin yang bijaksana dan adil. La Daremmeng tercatat sebagai seorang tokoh yang meletakkan pondasi tatanan masyarakat adat Sangalla yang terus dijaga dan diteruskan oleh para pemimpin selanjutnya.
Tinggal generasi sekarang, harus mampu membedakan antara La Daremmeng dan La Maddaremmeng. Membedakan keduanya berarti menjaga kebenaran sejarah budaya Sulawesi Selatan agar tidak kabur oleh persamaan bunyi nama semata.(ttp)
Baca ki juga,
Tudang Sipulung Tradisi Musyawarah Masyarakat Bugis sejak Dahulu


Komentar