"MBG: Di Antara Pertaruhan Nyawa Anak dan Ambisi Proyek Pemerintah

Penulis: Gempita Prahara
Sebanyak lebih dari 33.000 anak yang keracunan MBG (Makanan Bergizi Gratis), berdasarkan data pemantauan lembaga independen hingga pertengahan tahun 2026.
Sebuah fakta yang membuktikan, bahwa program nasional yang digadang-gadang sebagai penyelamat masa depan bangsa, kini perlahan berubah menjadi medan kecemasan yang mengerikan bagi para orang tua di negeri ini. 
Di sela-sela gegap gempita seremoni dan ambisi proyek pemerintah yang kejar tayang itu, terselip rangkaian tragedi sunyi yang sungguh tidak dapat lagi diabaikan, yakni pertaruhan nyawa anak-anak sekolah kita, namun tak seorangpun yang dijadikan sebagai tersangka. 

Musibah yang Dianggap Sepele

Dalam berbagai laporan menyebutkan, kasus anak keracunan MBG, terjadi di berbagai daerah seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatra Utara, Sumatra Barat, hingga Sulawesi Selatan dan Papua. 
Kita tercenung, menyaksikan ribuan anak-anak sekolah kita bertumbangan. Keracunan massal dalam program uji coba Makan Bergizi Gratis (MBG) seharusnya telah menjadi perhatian serius. Namun, nurani kita sebagai anak bangsa terkoyak, tatkala dipertontonkan pada respon birokrasi yang gagap dan defensif. 

Alih-alih meluncurkan investigasi hukum yang radikal, otoritas di negeri ini, justru terjebak dalam aksi saling tuding. Bahkan sempat melempar narasi menyedihkan, bahwa musibah tersebut terjadi, hanya karena perkara anak-anak kurang menjaga kebersihan diri atau lupa mencuci tangan sebelum makan.

Ironi ini menjadi sangat telanjang ketika kita memalingkan wajah ke arah utara, tepatnya di Kota Taipei, Taiwan. Belum lama ini, terjadi insiden serupa di Cheng Yuan High School. Ketika puluhan siswa mengalami gejala diare massal setelah mengonsumsi makanan gratis dari sekolah. Respons pemerintah Taiwan tidak main-main. Wali Kota Taipei, memimpin langsung inspeksi mendadak, menghentikan kontrak operasional pihak penyedia jasa secara total, dan langsung menjatuhkan ancaman denda finansial yang mengerikan, yakni NT$200 juta atau setara dengan Rp111 Miliar jika hasil medis membuktikan adanya kelalaian higienitas pangan.

Bukan Bermaksud Memuji Negeri Orang, Jangan pula Kemudian Menyuruh Kami Pindah Kesana. 

Ini murni berbicara tentang harga sebuah nyawa manusia. Anak-anak sekolah kita bukan kelinci percobaan, bukan pula sasaran objek pelaksanaan proyek yang penuh ambisi. 

MBG bukan masalah. Program pemenuhan pangan itu bagus, dan patut untuk didukung, karena di negeri seberang, dan di berbagai negara, juga ada program yang sama. 

Hanya saja kita merasa ngeri, ketika kasus keracunan massal akibat mengkonsumsi MBG ini dianggap sesuatu yang biasa. Bahkan kasus terbaru, yang menimpa 
Febiona Purba (16 tahun), seorang siswa SMA berprestasi di Karo, Sumatera Utara, mengalami kejang hebat hingga kehilangan memori ingatan menyeluruh akibat dampak makanan tersebut. Namun kita menyaksikan, kejadian itu menguap begitu saja tanpa ada satu pun pihak korporasi maupun otoritas yang berani berdiri di depan publik dan mengambil tanggung jawab moral secara penuh.

Kita ingin, Otoritas di negeri tercinta ini bertindak seperti halnya Walikota Taipe di Taiwan itu. Yang mengutamakan keselamatan satu nyawa anak sekolah daripada keberlanjutan sebuah program. 
Nyawa anak harus ditebus dengan nilai setinggi ratusan miliar rupiah. Karena mereka sadar sedang merawat masa depan negaranya.

Tidak Perlu Dihentikan, Benahi saja pengelolaannya dengan Penuh Tanggungjawab

Kita berharap, omprengan berisi makanan yang disodorkan kepada anak-anak sekolah kita, adalah hidangan yang berisi harapan. Bukan sekedar formalitas dari sebuah proyek ambisius. 
Kita ingin, setiap suapan yang masuk ke mulut mereka adalah bukti kehadiran negara dan merupakan wujud kepedulian negara, yang sedang memastikan generasi penerusnya sedang tumbuh kuat dan sehat. 

Kita ingin berhenti menyaksikan kejadian memilukan yang terus terjadi, tanpa penanganan yang berarti, seakan kejadian-kejadian memilukan itu hanyalah kejadian biasa yang tidak perlu diributkan. Tak ada kecemasan yang tulus dari korporasi maupun Otoritas penggerak program, tak ada permohonan maaf yang tulus, tak ada langkah tegas yang terlihat. 

Rakyat menunggu, orang tua didera cemas, namun yang muncul hanyalah keheningan atau pernyataan yang mengalihkan pembicaraan.

Kita tidak ingin, program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digulirkan dengan gembar-gembor sebagai anugerah bagi rakyat, justru menjadi sumber ketakutan yang nyata.

Berhentilah Menyalahkan Anak, Demi Melindungi Sistem yang Buruk 

Ketika para pihak berwenang justru melemparkan kesalahan kepada korban, maka di saat itulah rasa sakit muncul secara bertubi-tubi. Alih-alih mendapat perhatian serius, yang terjadi justru ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga pula, sudah keracunan MBG, bukannya mendapat perawatan, justru disalah-salahkan, demi untuk menyelamatkan sistem yang terbukti buruk. 

Kita melihat di beberapa kejadian, muncul narasi yang menyebutkan bahwa anak-anak itu sakit bukan karena makanan yang disajikan buruk kualitasnya, melainkan karena mereka tidak menjaga kebersihan diri, lupa mencuci tangan sebelum makan, atau membawa bekal dari rumah yang tidak higienis.
 
Sungguh pembenaran yang kejam dan memalukan. Anak-anak yang duduk di bangku sekolah itu adalah anak-anak yang taat, yang datang tepat waktu, yang mendengarkan guru, yang memakan apa yang disajikan di hadapannya. Lantas mengapa ketika mereka jatuh sakit, justru merekalah yang dituduh lalai?
Apakah negara sudah begitu luntur tanggung jawabnya, sehingga harus menudingkan telunjuk lurus tertuju kepada anak-anak yang belum dewasa itu?

Ambisi Tidak Boleh Menginjak Nyawa

Sekali lagi kita tegaskan, tulisan ini tidak bermaksud menolak niat baik untuk memberi makan anak-anak. Kita justru mendukungnya sepenuhnya. Namun niat baik tidak boleh dijadikan tameng untuk menutupi kelalaian, ketidakjujuran, dan ketidakpedulian. 

Program apa pun, seindah apa pun namanya, menjadi bencana jika pelaksanaannya mengorbankan mereka yang paling lemah.
 
Ambisi untuk mencetak angka keberhasilan, ambisi untuk menyelesaikan proyek tepat waktu, ambisi untuk tampil sempurna di depan publik melalui kamera, semua itu tidak boleh diletakkan di atas keselamatan satu pun anak bangsa. 

Nyawa anak-anak itu tidak boleh dipertaruhkan demi nama besar siapa pun atau pencapaian program apa pun.
 
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan korban. Sudah saatnya kita berhenti menganggap biasa penderitaan anak-anak. Sudah saatnya kita menuntut transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab yang nyata. 

Jika Walikota Taipei mampu bersikap tegas, mengapa kita tidak mampu? Apa yang membuat kita takut? 
Jika di sana kesalahan pengelola ditindak tegas, mengapa di sini pengelola yang salah justru dibiarkan? 
Jika di sana anak-anak yang menjadi korban dibela, mengapa di sini, justru korban yang diancam dan disalahkan? 
 
Anak-anak di Karo, dan di mana pun mereka berada, berhak mendapatkan jawaban. Mereka berhak tahu apa yang masuk ke perut mereka. Mereka berhak tumbuh sehat tanpa takut diracuni oleh makanan yang seharusnya menyehatkan. Dan jika ada yang lalai dan menyebabkan anak-anak kita celaka, kita dan mereka berhak melihat pertanggungjawaban yang nyata, bukan pengalihan kesalahan kepada tangan-tangan kecil yang tidak mampu membela diri.
 
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan dari program mulia ini, bukan dilihat dari seberapa banyak piring yang terbagi, 
melainkan seberapa jujur dan berani negara melindungi mereka yang paling tak berdaya. 

Wassalam... 


Komentar