Listrik Padam, Bahan Bakar Menghilang, Gas Elpiji Langka, Cerita Derita dari Makassar

Penulis: Khairil Anas 

Sudah seminggu lebih warga Makassar dan sejumlah daerah di Sulawesi Selatan bergelut dengan pemadaman listrik bergilir yang tampaknya tak kunjung reda. Sebuah kondisi yang perlahan menumbuhkan kecemasan dan meluas menjadi kepanikan nyata.
 
Pemadaman listrik yang terjadi tidak menentu, mengakibatkan warga berbondong-bondong menuju pom bensin. Tidak hanya didorong rasa takut kehabisan (panic buying), antrean solar dan bensin melonjak tajam karena banyak pelaku usaha, perkantoran, hingga rumah tangga terpaksa membeli bahan bakar demi menghidupkan mesin genset darurat. 

Ketika listrik PLN mati total, genset menjadi satu-satunya napas agar aktivitas tidak lumpuh, yang pada akhirnya menyerap pasokan BBM di SPBU dalam waktu singkat.

Di sisi lain, kemarau panjang yang melanda turut menambah derita para petani di ladang dan sawah. Mereka harus bekerja ekstra keras mengandalkan sumur bor bertenaga solar untuk menyelamatkan tanaman padi dari puso (gagal panen). 

Kebutuhan mendesak ini membuat mereka terjepit, di satu sisi sawah mereka sekarat membutuhkan air, di sisi lain mereka harus berebut solar subsidi di SPBU yang pasokannya kian menipis karena diduga banyak diselewengkan oleh oknum industri.  
 
Di SPBU, kendaraan mengular dalam antrian panjang. Di rumah, di kantor dan di sekolah, orang-orang gelisah kepanasan karena pendingin ruangan tidak menyala, komputer mati, listrik padam. Di jalanan, emak-emak berkeliling dari satu toko ke toko lain, menenteng tabung gas elpiji yang sudah kosong, berharap masih ada toko yang menjual gas elpiji. Namun di mana pun ia datang, jawabannya sama saja pelan namun pasti, 
"Habis, gas belum datang."
Dari warung kecil hingga toko kelontong yang lebih besar, semuanya sama. Tabung yang kosong itu terasa makin berat di bahu, bukan karena tabungnya yang terbuat dari besi, tapi karena di dalamnya tertampung harapan untuk menyalakan kompor, memasak nasi bagi anak-anak yang menunggu di rumah, dan harapan itu pun ikut kosong.
 
Di balik cerita itu ada derita, berupa mata rantai kesulitan yang semakin terasa, listrik tak ada, bahan bakar sulit didapat, dan untuk memasak pun harus berjuang mencari gas elpiji yang langka.

Mata Rantai Derita Warga Makassar

Pemadaman listrik tanpa jadwal jelas ➔ Sektor usaha & warga borong BBM untuk genset darurat (+ panic buying) ➔ Permintaan solar/bensin melonjak tajam di SPBU ➔ Pasokan langka & disalahgunakan oknum ➔ Petani sawah kesulitan mendapat solar untuk pompa air ➔ Krisis melanda dari dapur, jalanan, hingga sektor pangan.

Negara Harus Hadir, Jangan Diam Saja 

Kepanikan warga sesungguhnya lahir dari ketidakpastian. Itulah sebabnya pemerintah, PLN, maupun Pertamina wajib membuka informasi secara jelas dan pasti:
 
- ✅PLN harus mengumumkan Jadwal pemadaman listrik secara tepat dan tetap , karena warga berhak tahu kapan listrik padam dan kapan menyala, agar mereka bisa mengatur kebutuhan dan tidak cemas berlebihan.

Sambil terus berharap jadwal pemadaman menjadi jelas dan pasokan listrik kembali stabil, kita juga bisa menyiapkan solusi mandiri untuk rumah tangga. Memasang panel surya adalah langkah bijak — agar saat lampu padam, rumah tetap memiliki cahaya dan tenaga dari sinar matahari yang Allah sediakan setiap hari. Mari mulai beralih ke energi mandiri yang tenang dan tidak terputus.
 
Klik di sini untuk melihat koleksi panel surya lengkap di Blibli — solusi tenang menghadapi pemadaman tanpa perlu cemas lagi.
Anda juga boleh mengklik gambar di atas, untuk melihat koleksi panel surya di Lazada, atau silakan klik di sini 👉[Panel Surya di Lazada]
​
- ✅ Pemerintah harus hadir menenangkan rakyat — pastikan dan sampaikan dengan tegas bahwa stok bahan bakar dan gas cukup untuk semua. Kalau rakyat yakin persediaan aman, kepanikan akan mereda sendiri.
​
- ✅ Buru penimbun dan mafia bahan bakar serta gas! 
Jangan beri ruang bagi oknum yang sengaja menimbun, menggelapkan pasokan, atau mengalirkannya ke daerah lain semata-mata demi keuntungan pribadi di saat rakyat sedang susah. Lihatlah berapa menderitanya emak-emak yang berkeliling menentang tabung kosong itu. 

Tindaklah dengan tegas dan beri hukum seberat-beratnya, kepada yang mencoba melakukan penyimpangan hanya untuk mencari keuntungan sendiri, agar tidak ada lagi yang berani "mengail di air keruh".
 
Warga yang lelah mengantri di SPBU memandang tumpukan kendaraan dengan gelisah. Emak-emak yang pulang membawa tabung masih kosong berjalan perlahan dengan langkah berat. Di sisi lain, para petani juga tak bisa berhenti, karena sawah mereka tak boleh kekeringan. Di sinilah kita menyadari betapa eratnya hubungan antara kelistrikan, pertanian, dan kebutuhan paling dasar di dapur setiap rumah.
 
Kepanikan memang manusiawi. Tapi andai informasi mengalir jelas, andai negara hadir menenangkan, andai mafia tidak dibiarkan bermain, barangkali antrean panjang itu tak perlu terjadi, dan tabung kosong di tangan emak-emak itu tak perlu menunggu terlalu lama. Rakyat tidak minta kemudahan khusus, mereka hanya minta kepastian, keadilan, dan ketenangan di saat-saat sulit seperti ini.
 
Sambil menunggu kepastian itu datang, ada hal kecil yang bisa kita siapkan sendiri — agar saat lampu padam, rumah tetap terang dan keluarga tetap tenang.
 
[Klik di sini untuk melihat koleksi perlengkapan lampu darurat di Shopee]— agar di tengah gelapnya keadaan, kita tetap memiliki cahaya yang siap menyala kapan saja.
Lampu Emergency yang cantik ini, bisa Anda dapatkan di Tokopedia, dengan mengklik gambar di atas, atau di sini 👉 [Lampu Emergency Tokopedia]

Baca Juga, 


Komentar