Penulis: Khairil Anas
Sebagai orang yang dilahirkan di tanah Bugis, sejak kecil saya sudah diajarkan mengenai Falsafah Sulapa Eppa Bugis. Konsep ini bertujuan membentuk manusia sejati dengan menyelaraskan empat pilar karakter utama, yakni kejujuran (lempu), kecerdasan (acca), keberanian (warani), dan ketegasan (getteng), yang dalam pelaksanaannya sangat berkaitan erat dengan syariat Islam.
Wujud visual dari konsep SULAPA EPPA ini, tergambar dalam corak sarung tenun Bugis, yang umumnya berbentuk kotak-kotak segi empat.
Bagi kami, masyarakat Sulawesi Selatan, falsafah ini bukan sekadar nyanyian pengantar tidur, melainkan kompas hidup untuk menjadi pedoman dalam mengukur kualitas kemanusiaan kita, dan akan tetap dipegang teguh sampai kapanpun.
Untuk Silessurengku, yang ingin menyelami bagaimana tatanan nilai adat ini mampu bertahan di era modern saat ini, saya sangat menyarankan untuk membaca Buku Refleksi Budaya dan Kearifan Lokal Suku Bugis "Konsep Budaya Pangngadereng di Era Globalisasi". Buku ini, membedah bagaimana keempat konsep sakral tersebut menuntun kita naik kelas, dari sekadar jasad fisik menjadi manusia paripurna yang direstui oleh syariat.
Apa Saja yang Termasuk Keempat Konsep Pembentuk Watak Manusia Sejati itu?
Sejak dahulu, leluhur Bugis mengartikan Sulapa Eppa (Segi Empat) sebagai representasi dari empat unsur alam, yakni api, air, angin, dan tanah. Itu pembagian secara makrokosmosnya, yang kemudian ditarik masuk ke dalam diri kita, menjadi konsep mikrokosmos.
Konsep dengan simbol belah ketupat, yang berisi Lempu, Acca, Warani dan Getteng. Empat sifat utama dalam diri setiap individu Bugis.
- Lempu (Kejujuran): Ini adalah fondasi paling dasar. Lempu adalah Sifat lurus dan ikhlas, yang menjadikan kata-kata kita dipercaya orang lain.
- Acca (Kecerdasan): Kepintaran yang dimaksud adalah yang dilandasi kearifan. Karena orang Bugis tahu betul bahwa, kepintaran tanpa kejujuran hanya menghasilkan penipu ulung.
- Warani (Keberanian): Berani tidak sekedar berani tanpa rasa takut yang membabi buta, bukan nekat tanpa arah, tetapi berani karena benar. Ini adalah keberanian menegakkan kebenaran dan keadilan di tengah masyarakat.
- Getteng (Ketegasan): Watak yang konsistensi dan berintegritas. Teguh pada prinsip kebenaran. Sekali kaki melangkah di jalan yang benar, pantang untuk berhenti atau berbalik arah.
Bagi Silessurengku, rekan-rekan akademisi atau pembaca yang butuh pisau analisis ilmiah untuk mengkaji filsafat lokal ini, Anda bisa melengkapi referensi teoritis melalui [Buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer di Lazada].
Inti dari konsep ini sebenarnya sederhana, bahwa keempat sudut atau sulapa itu harus lengkap. Jika satu saja sudutnya hilang, maka runtuhlah martabat kemanusiaan kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, penerapan Sulapa Eppa inilah yang akan membedakan posisi dan ukuran kita di tengah masyarakat.
Mengukur Kualitas Diri Melalui Tingkatan Kemanusiaan Bugis
Filsafat Bugis membagi kualitas manusia ke dalam beberapa tingkatan eksistensial, dan sangat mencocoki dalil-dalil dalam syariat Islam..
1. Tahap Tau-tau dan Watangkale (Jasad Tanpa Jiwa)
Ini adalah tingkatan paling bawah. Watangkale artinya kita baru sekadar punya fisik biologis yang bernapas, bergerak, dan makan. Namun secara moral, jiwanya kosong seperti patung atau orang-orangan (tau-tau). Manusia di tahap ini sama sekali tidak menghidupkan sudut Sulapa Eppa dalam dirinya.
Kondisi ini persis seperti peringatan keras Allah SWT dalam Al-Qur'an Surah Al-A'raf ayat 179
"Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah)... Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi"
2. Tahap Rupa Tau (Baru Sebatas Wujud)
Secara tampang dan rupa, mereka memang manusia. Namun, seluruh perilakunya masih disetir oleh hawa nafsu keduniawian. Sering kali, sudut kecerdasan (acca) yang mereka miliki justru dipakai untuk mengakali orang lain demi keuntungan pribadi.
Dalam kacamata syariat, orang yang kehilangan kendali moral seperti ini sedang terlepas dari esensi keimanannya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
"Tidaklah seorang pezina itu berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman..." (HR. Bukhari dan Muslim).
3. Tahap Tau (Manusia yang Memiliki Siri)
Di sinilah kita baru bisa disebut sebagai manusia seutuhnya. Seseorang masuk kategori ini ketika dia mulai mempraktikkan pilar Sulapa Eppa secara seimbang. Ciri utamanya adalah memegang teguh rasa malu dan harga diri (siri’), serta tahu cara menghargai sesama manusia (sipakatau).
Jika Anda tertarik membedah lebih dalam tentang bagaimana konsep harga diri ini bekerja dalam hukum adat kita, Anda bisa membaca kajian mendalamnya. Dapatkan bukunya di Lazada, dengan mengklik di sini 👉, SB - Pola Komunikasi Orang Bugis.
Karakter ini sangat klop dengan definisi muslim ideal menurut sabda Nabi SAW:
"Seorang muslim adalah seseorang yang orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya." (HR. Bukhari).
4. Tahap Tau Tongeng (Manusia Sebenarnya)
Seseorang naik kelas menjadi Tau Tongeng jika pilar kejujuran (lempu) dan ketegasan (getteng) sudah mendarah daging. Ciri paling menonjol dari tingkatan ini adalah satunya perkataan dengan perbuatan (ada tongeng). Apa yang diucapkan, itulah yang dilakukan.
Lempu (Kejujuran) dan Getteng (Ketegasan): Watak berintegritas dan teguh pada prinsip kebenaran. Untuk ulasan mendalam mengenai kaitan watak ini, silakan kunjungi artikel 👉LEMPU NA GETTENG: Dua Pilar yang Menopang Kehidupan
Perintah untuk memiliki integritas ada tongeng ini tertulis jelas dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 70:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar (perkataan yang jujur)."
5. Tahap Tau Tongeng-tongeng (Manusia Sesungguhnya / Paripurna)
Inilah puncak tertinggi dari spiritualitas dan moralitas manusia Bugis. Semua pilar Sulapa Eppa sudah melebur sempurna di dalam dadanya. Orang di tahap ini tidak hanya sibuk dengan kesalehan dirinya sendiri, tetapi keberadaannya menjadi pelindung, penyejuk, dan membawa manfaat besar bagi orang-orang di sekitarnya.
Dalam khazanah Islam, profil agung ini merupakan perwujudan nyata dari konsep Insan Kamil. Hal ini sejalan dengan hadis Rasulullah SAW:
"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya." (HR. Thabrani).
Kesimpulan: Pulang ke Akar Budaya dan Tauhid
Pada akhirnya, falsafah Sulapa Eppa mengajarkan kita bahwa menjadi orang Bugis yang sejati berarti menjadi seorang muslim yang bertakwa. Adat dan syariat di tanah kelahiran kita tidak pernah saling bertentangan, melainkan saling mengokohkan untuk membentuk manusia yang jujur, cerdas, berani, dan tegas.
Bagi Anda yang ingin terus memperluas khazanah pemikiran tentang sosiologi dan kebudayaan Nusantara lainnya, jangan ragu untuk menelusuri koleksi lengkapnya lewat 👉 Katalog Buku Kebudayaan dan Sosial di Blibli, guna memperkaya literatur berkualitas di perpustakaan pribadi Anda.
Intinya, Adat dan syariat saling mengokohkan untuk membentuk manusia yang berintegritas, ditambah semangat untuk saling menyelamatkan baik di dunia maupun akhirat, sebagaimana prinsip hidup yang mengajarkan kita untuk saling tolong menolong, dalam konsep Mali Siparappe,Rebbah Sipatokkong, silakan baca selengkapnya 👉 Prinsip Hidup Masyarakat Bugis: Lima Ajaran Utama Warisan Leluhur
Salama' ki Topada Salama'

Komentar