Di Balik Maraknya Kebakaran Sampah di Makassar, dan Jalan Keluar yang Kita Tawarkan Bersama
Oleh: H. Khairil Anas
Setiap hari, di sudut-sudut kota Makassar, asap mengepul bukan dari dapur yang menyiapkan sarapan — melainkan dari halaman rumah warga. Sampah dibakar. Bukan karena warga tidak cinta lingkungan, bukan karena mereka bandel atau tidak mau disiplin. Api itu menyala karena ada sesuatu yang lebih dalam yang sedang terbakar: rasa keberatan, kelelahan, dan hilangnya kepercayaan bahwa memilah sampah itu ada gunanya.
Kebijakan pemilahan sampah menjadi tiga jenis — organik, anorganik, dan residu — sesungguhnya lahir dari niat yang baik. Tujuannya mulia: agar sampah lebih mudah dikelola, agar lingkungan lebih bersih, agar kota kita lebih sehat. Namun di lapangan, kebijakan yang seharusnya meringankan beban kota justru terasa semakin membebani warga.
Warga dipaksa memilah, namun tidak dibantu. Mereka harus menyiapkan tempat sampah sendiri, memilah di sela-sela waktu istirahat setelah seharian bekerja mencari nafkah, lalu tetap membayar retribusi penuh sebagaimana dulu — seolah-olah tenaga yang mereka keluarkan itu tidak ada harganya sama sekali. Dulu petugas sampah yang memilah di atas truk — berat, panas, berbau — dan mereka mendapat keuntungan dari barang bekas yang terpisah. Sekarang warga yang sudah memilah di rumah, petugas tinggal mengambil, dan keuntungannya tetap diambil pihak yang sama. Warga pun berpikir: "Kalau kami yang capek, mereka yang untung — untuk apa kami susah payah? Lebih baik dibakar saja, selesai."
Letak Masalahnya: Rantai Program itu Terputus di Tengah
Kita tahu dan meyakini bahwa program ini sebenarnya sudah dirancang lebih lengkap — ada Bank Sampah di setiap kelurahan yang seharusnya menjadi jembatan. Warga memilah, menyetor ke Bank Sampah, lalu dari sana disalurkan ke pengolahan. Namun kenyataannya, sebagian besar Bank Sampah itu kini sudah mati, berhenti berfungsi. Warga menyetor sampah ke Bank Sampah — tetapi Bank Sampah tidak tahu ke mana sampah itu dibawa, petugas Bank Sampah tidak tahu apa yang diperbuat pada sampah yang menumpuk itu, akhirnya tidak ada nilai yang kembali. Rantai putus. Maka warga pun berhenti. Dan akhirnya memutuskan untuk membakar.
Saran Solusi dari Owner SOMPA Miniatur, Seorang Pengrajin Berbahan Sampah di Biringkanaya
Mari kita berhenti mengeluh, dan mencoba melihat sebuah solusi. Sebagai seorang pengrajin yang selama ini telah menjadikan sampah menjadi karya, saya ingin mencoba menunjukkan sesuatu yang mungkin luput dari pandangan kita semua, bahwa sesungguhnya sampah bukan musuh yang harus dimusnahkan dengan api — ia adalah bahan baku, ia adalah rezeki, adalah sumber kehidupan yang hanya salah tempat.
![]() |
| Mereka adalah sumber rejeki yang salah tempat |
Musibah kebakaran yang menimpa kota Makassar sejak warganya ramai-ramai membakar sampah, selain karena cuaca panas dan kekeringan yang melanda, mungkin juga karena perasaan amarah yang membakar jiwa jiwa kita, saat memandang sampah itu sebagai sumber masalah, sebagai musuh bebuyutan yang harus dimusnahkan dengan dibakar. Karena kita melihatnya sebagai musuh, maka dia berbalik memusnahkan kehidupan warga, melalui peristiwa kebakaran yang terjadi setiap hari, di berbagai titik secara bersamaan. Akhirnya pemerintah sibuk memberikan santunan dan bantuan, Dinas Pemadam kewalahan, warga menderita dalam kerugian materi maupun jiwa.
Maka inilah rancangan yang kami tawarkan — bukan untuk mengganti kebijakan, tapi untuk melengkapinya agar benar-benar hidup dan adil bagi semua pihak:
📌 LANGKAH 1 — Hidupkan Kembali Bank Sampah, Bukan Sekadar Gudang Barang Rongsokan
Bank Sampah bukan tempat sampah yang ditumpuk lalu dilupakan. Ia harus menjadi pasokan bahan baku yang teratur dan bernilai. Setiap warga yang menyetor sampah terpilah — organik maupun anorganik — harus langsung menerima nilai pengganti, baik berupa tabungan, pengurangan retribusi, maupun kebutuhan harian. Sejak tangan mereka menyerahkan sampah, mereka sudah merasakan: "Sampahku bernilai."
📌 LANGKAH 2 — Kumpulkan Tangan-Tangan Terampil yang Banyak Tersebar di Tengah Kita
Pemerintah kota perlu memetakan siapa saja warganya yang memiliki keahlian mengolah sampah:
- 🎨 Pengrajin yang menjadikan plastik, potongan triplek,serpihan kayu, balok, percah kain, kertas dan bahan bekas menjadi karya bernilai — seperti yang kami lakukan di SOMPA Miniatur, membuat aneka kerajinan miniatur dari bahan limbah dan sampah anorganik.
- 🪑 Industri kecil dan perajin yang membuat perabotan dan perlengkapan rumah tangga dari bahan daur ulang.
- 📚 Guru-guru keterampilan dari semua sekolah, dan guru-guru yang mengajarkan anak-anak muridnya mengubah sampah menjadi benda berguna, dan untuk memudahkan tugas dan niat baik kita semua, yakni para guru, pengrajin, maupun masyarakat umum yang ingin mempraktikkan berbagai ide kreatif mengubah limbah rumah tangga menjadi produk kriya bernilai ekonomi tinggi, buku panduan sirkular resmi ini sangat wajib dibaca:
Kumpulkan mereka semua, lalu bentuk mereka menjadi produsen, yang berfokus membuat karya, tanpa harus repot-repot mencari sendiri bahan baku yang mereka butuhkan, karena akan dipasok oleh Bank Sampah. Sampaikan kepada mereka bahwa karya mereka akan diambil oleh Koperasi yang dibina langsung oleh pemerintah melalui Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah), untuk dipasarkan.
Sampaikan kepada Pengelola Bank Sampah yang ada di Kelurahan, bahwa tugas mereka menerima dan membeli sampah hasil pilahan warga, untuk disiapkan sebagai bahan baku para pengrajin, sehingga sampah bukan lagi dibakar atau ditampung namun tidak tau akan dibawa kemana, tapi disiapkan sebagai bahan baku yang siap diolah oleh para pengrajin dan dijual oleh pemerintah.
📌 LANGKAH 3 — Pembentukan Mata Rantai yang Tersambung dengan Baik, dari Sampah Menjadi Karya, Dari Karya Menjadi Rezeki
Terbetuklah sistem dan mata rantai, mulai dari sampah rumah tangga yang dipilah, lalu dikonversi menjadi uang di Bank Sampah di tiap kelurahan, selanjutnya diolah menjadi barang yang bermanfaat — mainan, perabotan, alat peraga sekolah di masing-masing pengrajin — dan muaranya kepada pemerintah kota melalui dinas koperasi dan UKM di tingkat Kabuaten / Kota, atau melibatkan dewan kerajinan yang ada di Provinsi, yang dikelola secara transparan dalam memasarkan hasil kerajinan tersebut.
Pengrajin fokus berkarya, urusan pasar dijamin bersama.
📌 LANGKAH 4 — Hasilnya Kembali Mengalir ke Semua Pihak
Uang hasil penjualan dibagikan secara adil dan terbuka:
- 💵 Kepada pengrajin dan pengolah sebagai upah atas keahlian mereka
- 💵 Kepada Bank Sampah untuk tetap beroperasi dan membeli sampah dari warga
- 💵 Kepada warga yang menyetor sampah — nilainya masuk ke tabungan mereka
Rantai ini menutup sempurna. Tidak ada yang bekerja tanpa dihargai, tidak ada yang memberi tanpa menerima.
Sampah bukan masalah yang harus disingkirkan. Ia adalah sumber faedah. Ia adalah potensi rezeki yang menunggu tangan yang terampil untuk mengubah wujudnya. Jangan lagi kita memusuhi sampah — saatnya kita menghormati nilainya. Ajarkan kepada anak-anak kita, agar mereka tumbuh menjadi orang yang tidak lagi membakar sampah karena merasa terbebani — mereka akan tumbuh menjadi generasi yang melihat sampah dan bertanya: "Apa yang bisa aku buat dari ini?"
🏛️ UNTUK PEMERINTAH KOTA
Kebijakan yang baik ini perlu disertai sarana, sosialisasi yang turun ke rumah-rumah, dan keadilan retribusi. Jangan tuntut warga bekerja lalu tetap bayar penuh — itu yang memadamkan semangat.
Pemerintah perlu merancang regulasi lingkungan yang adil serta mempelajari sistem tata kelola tata kota modern dalam menanggulangi krisis limbah, dan itu dapat ditelaah secara ilmiah melalui buku kebijakan publik ini:
🏘️ UNTUK WARGA
Kita Jangan biarkan kekecewaan membuat kita membakar harapan juga. Suara kita didengar — mari kita tunggu perbaikan, dan tetap berharap sistem ini akan adil suatu hari nanti, sambil mencoba mengubah sudut pandang kita terhadap sampah, yang selama ini kita anggap sebagai sumber masalah. Bahwa sesungguhnya ada rejeki yang tersembunyi di balik tumpukan barang-barang bekas itu. Mulai sekarang, mari kita memanfaatkannya, dengan mengubah fungsinya (reuse), atau mengubah bentuknya (recycle), atau mengurangi pemakaian barang-barang yang berpotensi menimbulkan sampah (reduce).
🚛 UNTUK PETUGAS KEBERSIHAN
Kalian juga bagian dari solusi ini — mari kita bekerja sama, bukan saling membebani. Keuntungan yang adil untuk semua, bukan hanya di satu pihak saja.
🏫 UNTUK SEKOLAH DAN PARA GURU
Mulai dari sejak dini, melalui sekolah, anak-anak kita diajak untuk mengubah cara pandang — dari melihat sampah sebagai musuh, menjadi melihatnya sebagai bahan penciptaan. Itulah warisan paling berharga yang bisa kita tinggalkan untuk kota ini.
✨ PENUTUP
Api pembakaran sampah yang menyala di Makassar bukanlah pemberontakan warga — itu adalah tanda bahwa sistemnya belum selesai dengan baik. Untuk menghentikan pembakaran sampah itu bukan dengan teguran dan denda — padamkan dengan keadilan. Padamkan dengan memberi nilai kembali kepada sampah yang mereka pilah. Padamkan dengan memastikan rantai kebaikan itu tersambung sampai ke tangan mereka.
Sampah tidak akan pernah menjadi masalah — selama kita mampu melihatnya bukan sebagai sesuatu yang harus dimusnahkan, melainkan sesuatu yang berubah wujud menunggu untuk diberi manfaat.
Dari tangan warga, oleh warga, untuk kesejahteraan warga — itulah pengelolaan sampah yang sesungguhnya. Dan insya Allah, dari sampah yang tadinya ingin dibakar, akan lahir karya, rezeki, dan keindahan kota Makassar yang kita cintai bersama. 🤲🤍
Catatan Terbuka kepada Pembaca:
Dalam artikel ini terdapat dua tautan yang mengarah ke Tokopedia: buku Daur Ulang Sampah karya Agus Iskandar, serta buku Pengelolaan dan Pemanfaatan Sampah di Perkotaan. Sebagai penulis, saya menyampaikan dengan jujur dan terbuka — apabila Anda mengklik tautan-tautan tersebut lalu melakukan pembelian, saya berhak memperoleh komisi kecil dari program afiliasi Tokopedia.
Hal ini tidak menambah biaya sepeser pun atas harga buku yang Anda bayarkan — komisi ini berasal dari dukungan sistem yang disediakan bagi penulis yang merekomendasikan karya-karya bermanfaat. Seluruh rezeki yang saya peroleh dari sini akan saya pergunakan untuk terus menulis, berkarya, dan menyuarakan kepedulian bersama demi lingkungan dan kesejahteraan warga.
Saya tidak merekomendasikan kedua buku ini semata-mata karena ada manfaat afiliasi — justru sebaliknya: saya ikut serta dalam program ini karena saya meyakini isi dan manfaat kedua buku ini bagi upaya kita bersama mengubah pandangan terhadap sampah. Apabila Anda merasa bermanfaat dengan rekomendasi ini, dukungan Anda melalui tautan tersebut adalah doa dan dorongan nyata agar pena ini terus bergerak demi kebaikan bersama. Terima kasih dengan tulus. 🤲🤍
Makassar, 20 Agustus 2026
Untuk Sampah yang Bernilai, untuk Warga yang Dihargai, untuk Kota yang Lebih Sehat dan Damai.
Baca ki Juga,





Komentar