Saat Kebakaran Terjadi — Jangan Sibuk Merekam, Bukalah Jalan

Penulis : H. Khairil Anas



Selesai sholat Shubuh, pagi ini, Jumat (21/8/2026) saya mengajak isteri berjalan-jalan ke Paccerakang, Kecamatan Biringkanaya, untuk memantau lokasi bekas kebakaran di Paccerakang yang terjadi pukul 10.00, Kamis (21/8/2026) malam. 

Di lokasi, asap masih tercium samar, puing sisa-sisa rumah panggung dan rumah kayu yang terbakar habis menyisakan onggokan arang. Empat rumah lenyap dalam sekejap. Dan yang paling memilukan: satu nyawa saudara kita — seorang penyandang disabilitas — tak sempat diselamatkan, terkurung di dalam kamar yang pintunya terkunci dari dalam.
 
Dari pukul sepuluh malam hingga lewat satu dini hari, api mengamuk tiga jam lamanya. Namun di balik cerita kobaran api itu, ada satu hal yang justru lebih menyayat hati — sesuatu yang terjadi bukan karena api, melainkan karena kita sendiri, yakni
Jalan yang Tertutup oleh Kerumunan
 Bukan bermaksud menyalahkan, bukan bermaksud menyesali, tetapi sedang menyoroti fenomena umum di masyarakat kita, ketika terjadi musibah kebakaran. Ramai orang berkerumun, bukan untuk menolong, tetapi untuk menonton. Bukan untuk membantu, tetapi mengganggu. Bukan untuk menyelamatkan, tetapi untuk memviralkan. 

Kadang unit pemadam kebakaran telah tiba dengan cepat setelah berjibaku menembus kemacetan lalu-lintas. Para petugas sudah siap menyemprot, saat tiba di lokasi mereka sedang konsentrasi mencari akses terbaik untuk menjangkau titik api. Namun yang mereka temukan di sana bukanlah jalan yang terbuka — melainkan jalan yang penuh sesak oleh kita sendiri, oleh kerumunan. 
 
Warga berkerumun memenuhi setiap ruang. Ada yang berteriak memberi aba-aba, mengatur petugas seolah-olah lebih paham daripada mereka yang telah dilatih khusus untuk pekerjaan ini. Ketika petugas berusaha mencari jalan alternatif yang lebih dekat ke titik api — jalan itu pun tertutup orang. Unit pemadam yang tiba di awal segera melakukan penyemprotan semampunya, unit kedua tiba mencoba mencari akses untuk menyemprot dari posisi yang lain, namun ruang gerak sempit, akses tersumbat, suara berisik di mana-mana, merusak konsetrasi, memecah fokus perhatian mereka. 
 
Maka terkadang korban material dan jiwa tidak terselamatkan, bukan karena petugas terlambat datang — tapi karena kita yang menghalangi mereka masuk.
Di balik kerumunan itu tersembunyi sesuatu yang lebih dalam: rasa tidak percaya. 
Warga merasa, "Kalau saya tidak ikut  mengawasi, siapa yang menjamin mereka bekerja dengan benar?" Maka saya harus ikut turun tangan, ikut memberi perintah, ikut berdiri di jalan — dan tanpa sadar, ketidakpercayaan itulah yang menjadi tembok penghalang bagi pertolongan itu sendiri.
 
DUA DUNIA, DUA NASIB, DUA KARAKTER DARI SEBUAH PERBANDINGAN
 
Saya pernah tinggal di Arab Saudi, dan di sana saya melihat sesuatu yang sangat berbeda. Saat perostiwa kebakaran terjadi, warga tidak berkerumun. Mereka justru menjauh dengan teratur. Mereka tidak ikut mengatur petugas — mereka mundur dan memberi ruang. Mereka percaya: tugas ini sudah dipercayakan kepada orang-orang yang dilatih khusus untuk itu. Maka jalan darurat tetap bersih sejak awal perjalanan hingga tiba di lokasi — terbuka lebar, bebas, dan milik petugas sepenuhnya saat dibutuhkan.
 
Di sana mereka paham satu hal yang sederhana namun sering kita lupakan:
 
Menjauh bukan berarti tidak peduli. Justru menjauh adalah bentuk kepedulian yang paling nyata — karena dengan mundur, kita membuka jalan bagi pertolongan untuk masuk.
Unit Damkar 998-Arab Saudi
Sedangkan di tengah kita — mulai dari pangkalan hingga lokasi kejadian — mobil pemadam sudah terhambat kemacetan, lalu di lokasi jalan tertutup kerumunan, ditambah lingkungan padat yang sulit dijangkau. Dan di antara menit-menit yang hilang itu — ada nyawa yang menunggu di dalam sana.

Bukan bermaksud memuji negara lain dan merendahkan negara kita, tetapi memberi contoh yang baik untuk diteladani. 
 
JANGAN BIARKAN REKAMAN MENJADI PEMBUNUH KESEMPATAN
 
Satu hal lagi yang perlu kita renungkan bersama: saat api sedang memakan rumah dan nyawa sedang dipertaruhkan — masih ada tangan yang sibuk mengangkat ponsel, memotret, merekam, berharap videonya akan viral. Seolah-olah menyebarkan rekaman itu lebih penting daripada membuka jalan agar korban selamat keluar.
 
Tidak ada satu pun rekaman yang pernah menyelamatkan nyawa. Tapi banyak jalan yang tertutup karena orang sibuk merekam — dan itulah yang menelan nyawa.
 
Saat musibah datang, pertanyaan yang harus muncul di hati kita bukanlah: "Bagaimana cara saya memotret ini dengan bagus?" Melainkan: "Di mana saya harus berdiri agar tidak menghalangi pertolongan?"
 
SAAT MUSIBAH DATANG — INILAH CARA KITA MENOLONG
Kita tidak perlu menjadi petugas pemadam untuk menolong. Kita bisa menolong bahkan tanpa menyentuh selang air sekalipun:
 
✅ Mundur dan beri ruang — Beri jalan lebar-lebar untuk mobil pemadam dan ambulans masuk. Jangan berdiri di pintu masuk, di tikungan, atau di jalan alternatif.
✅ Jangan ikut mengatur petugas — Mereka sudah dilatih. Berteriak saling tumpang tindih hanya memecah konsentrasi dan memperlambat kerja mereka.
✅ Jangan merekam di jalan — Ponselmu tidak lebih penting daripada nyawa yang sedang dipertaruhkan. Mundur ke tempat aman, berdoalah — itu jauh lebih berharga.
✅ Bantu membuka akses — Singkirkan halangan, bantu warga lain untuk mundur, jaga agar jalan tetap bersih.
✅ Berikan informasi yang jelas lalu mundur — Katakan: "Ada orang di kamar sebelah!" lalu berikan ruang. Informasi yang tepat sangat berharga — tapi kerumunan justru mematikan.
 
HARAPAN KITA UNTUK MASA DEPAN
Kita berharap, insya Allah, suatu hari nanti masyarakat kita semakin dewasa dan bijak dalam menyikapi setiap keadaan. Semoga tumbuh dalam hati kita rasa percaya kepada mereka yang memang sudah diserahi tugas dan dilatih untuk melaksanakannya. Bukan karena kita pasrah — tapi karena kita paham bahwa masing-masing punya peran. Peran kita saat musibah datang bukanlah menjadi pengatur di jalan — peran kita adalah membukanya.
 
Jangan sampai api yang merenggut nyawa bukanlah satu-satunya musuh kita. Jangan sampai sikap kita sendiri — kerumunan, ketidakpercayaan, dan keinginan memviralkan — menjadi musuh yang lebih mematikan daripada apinya sendiri.
 
Mundurlah, bukalah jalan, berdoalah — itulah cara kita menolong tanpa harus masuk ke dalam kobaran api. Dan insya Allah, dengan jalan yang terbuka lebar, pertolongan akan tiba lebih cepat — dan nyawa-nyawa yang sedang menunggu di dalam sana akan lebih banyak yang selamat. 
LANGKAH SIAGA SEBELUM API MEMBESAR
Musibah kebakaran yang terjadi hampir setiap hari ini, menjadi pengingat berharga bagi kita semua bahwa detik-detik awal saat api muncul adalah penentu keselamatan. Sembari memberikan ruang penuh bagi petugas pemadam, menyediakan alat pemadam mandiri berskala kecil di rumah merupakan langkah perlindungan pertama yang sangat krusial.
Bagi yang ingin meningkatkan sistem keamanan dapur dan rumah, berikut opsi alat pemadam praktis yang bisa langsung disiapkan:
Perlindungan Praktis: Siapkan APAR Mini Semprot Portable yang mudah digunakan oleh siapa saja di dapur atau area memasak.
Untuk Keamanan Standar: Sediakan Tabung APAR Powder 1 Kg Resmi di sudut rumah sebagai investasi keselamatan utama keluarga sebelum bantuan eksternal tiba. 

Makassar, 21 Agustus 2026
Untuk warga Paccerakang, untuk kita semua — semoga pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini menjadi pelajaran dan menjadi pengingat bahwa saat musibah datang, yang paling dibutuhkan bukan kerumunan, bukan rekaman — melainkan jalan yang terbuka dan hati yang saling mempercayai. 

Baca ki Juga




Komentar