Kembali Memakan Korban: Mobil Santri Enrekang Terbalik di Moncong Loe–Bulu Saat Menghindari Truk Galian C yang Ngebut
Penulis: Khairil Anas
To The Point, Maros - Truk pengangkut galian C dari kawasan Moncong Loe, Maros, yang selama ini sering melintas ugal-ugalan di jalanan kota Makassar maupun jalur antar kabupaten, sekali lagi memakan korban. Sebuah mobil yang ditumpangi sejumlah santri asal Kabupaten Enrekang terbalik parah di jalur lintasan Moncong Loe–Bulu, Sabtu (18/7/2026) siang ini, saat pengemudi berusaha menghindari secara mendadak laju truk berat yang melaju dengan kecepatan tinggi dan tidak memberi ruang lewat.
Detik-Detik Mencekam Kecelakaan
Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, kejadian berlangsung sekitar pukul 11.30 siang. Mobil berwarna merah yang mengangkut santri tersebut melaju dari arah Maros melintasi jalan Moncong loe Bulu, berniat melanjutkan perjalanan pulang ke Enrekang. Saat tiba di tikungan dan jalur yang agak sempit di kawasan Moncong Loe, tiba-tiba sebuah truk besar pengangkut material galian C datang dari arah berlawanan dengan kecepatan sangat tinggi.
Truk itu tidak berusaha memperlambat laju maupun meminggirkan kendaraan ke jalur yang benar. Karena jarak yang sudah terlalu dekat dan bahaya tabrakan depan tak terelakkan, pengemudi mobil santri terpaksa membanting setir secara mendadak ke arah bahu jalan. Akibat manuver mendadak dan kecepatan yang cukup tinggi, mobil kehilangan keseimbangan, tergelincir, lalu terbalik ke sisi semak belukar di pinggir jalan.
Baca ki Juga,
Beberapa warga yang berada di lokasi segera berlarian menolong.
"Kami kaget sekali, truk itu lewat sangat kencang seolah mengejar waktu, saya tidak punya pilihan selain membanting setir, tapi sayangnya tak kuat menahan keseimbangan," ujar sopir kepada warga yang datang ke lokasi kejadian. Truk yang diduga menjadi penyebab terjadinya insiden itu justru melaju terus meninggalkan lokasi tanpa berhenti menolong.
Kesedihan dan Kemarahan Warga
Kejadian kecelakaan yang terus berulang ini memicu gelombang kesedihan sekaligus kemarahan, terutama bagi pengguna jalan maupun warga yang sudah lama menagih keamanan di jalur ini.
"Sudah berkali-kali ada yang celaka di sini, semuanya berhubungan dengan truk-truk galian ini. Mengapa mereka tidak pernah kapok? Mengapa pengawasan belum juga diperketat?" keluh seorang warga Maros.
Banyak yang menyesalkan bahwa jalur yang menghubungkan wilayah tiga kabupaten/kota (Makassar,Maros dan Gowa) ini kini seolah menjadi jalan milik pribadi para pengangkut material tambang. Mereka melintas kapan saja, dengan kecepatan sesuka hati, tanpa mempedulikan siapa yang lewat—baik itu pelajar, pekerja, maupun jamaah dan santri yang sedang menuntut ilmu.
Kembali Menguat Usulan Pembatasan Jam Operasi
Peristiwa kecelakaan yang terus terjadi ini semakin menegaskan betapa mendesaknya kebijakan yang selama ini disuarakan warga: pembatasan tegas jam operasi truk pengangkut galian C dan kendaraan berat. Warga menuntut agar kendaraan seperti ini dilarang keras melintas pada jam sibuk maupun siang hari, dan hanya diizinkan beroperasi mulai pukul 22.00 malam hingga pukul 05.00 pagi saat jalanan relatif sepi.
Pembatasan ini dianggap sebagai langkah paling manusiawi dan efektif untuk mencegah korban berjatuhan lagi. Jalur Moncong Loe–Bulu bukan jalan tol khusus tambang, melainkan jalur penghubung kehidupan masyarakat dari berbagai daerah. Nyawa manusia adalah amanah yang tak ternilai harganya, tidak boleh dikorbankan demi kecepatan pengiriman material bangunan.
Tuntutan Penindakan Tegas
Kini warga berharap pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan segera menindak tegas pelaku, pengemudi sampai pengelola tambang galian. Baik pemilik perusahaan pengangkut, hingga pengelola tambang harus bertanggung jawab. Selain itu, pengawasan ketat, pemasangan rambu batas kecepatan, dan patroli rutin di jalur rawan ini harus segera dijalankan. Jangan sampai musibah ini berulang lagi di kemudian hari.
Semoga korban yang terluka segera pulih, dan bagi yang mengalami kerugian material segera mendapatkan ganti yang lebih baik. Aamiin.(ttp)
Baca ki Juga

Komentar