![]() |
Bayangan Hitam yang tertangkap kamera HP tanpa sengaja |
Meskipun wilayah yang kami kunjungi ini dikenal sebagai Kajang Luar, tetapi sudah masuk dalam wilayah yang memegang adat leluhur, Ammatowa.
Hanya ada sedikit perbedaan dengan Kajang Dalam yang menerapkan aturan sangat ketat dan tertutup, Kajang Luar memberikan kompromi khusus bagi pengunjung, antara lain masih diperbolehkan menggunakan peralatan modern, seperti kendaraan bermotor, ponsel, memotret, dan mengenakan pakaian berwarna, hal-hal yang dilarang sepenuhnya di wilayah inti, yakni di Kajang Dalam.
Meski begitu, tempat ini tetap kental dengan nilai leluhur dan menyimpan rahasia gaib yang tak terduga.
Rumah yang kami tuju, adalah rumah salah seorang tetua kampung. Puang Razak, demikian nama dari Tetua Kampung itu menjelaskan mengenai kedudukannya sebagai perwakilan Ammatowa.
Perjalanan kami menuju lokasi pun terasa tidak biasa. Saat itu saya, yang menyetir mobil, berusaha tetap fokus di tengah suasana yang mulai mencekam di tengah hutan karet yang lebat di kawasan Tamalate.
![]() |
| Hutan Karet |
Belum lama berada di dalam kawasan, suasana berubah drastis. Isteri saya yang duduk di kursi tengah, tepat di belakang saya, tiba-tiba mengalami kerasukan. Tubuhnya menegang kaku, matanya melotot kosong, ia berbicara dengan nada yang tidak biasa.
Dalam keadaan setengah sadar, ia bercerita melihat di sela-sela kebun karet ada rumah panggung tua, dan di setiap pohon terlihat sosok wanita dengan kondisi yang mengenaskan. Dia terus meracau di sepanjang perjalanan. "Abi, itu ada perempuan tanpa kepala, kenapa itu perempuan tubuhnya berlumuran darah?"
Sambil menyetir dengan tangan kanan, tangan kiriku menggapai dan menggenggam tangannya, sambil terus mengulang doa perlindungan. Malam sudah mulai gelap, ketika mobil yang saya kemudikan menapak jalan mendaki dan berbatu, perlahan isteri mulai sadar kembali dan mengaku baru saja bangun tidur, bersamaan Andika, kawan yang duduk di samping saya menunjuk rumah yang kami tuju.
"Itu rumah saya, Pak Haji. Kita akan menginap di situ malam ini." ujarnya.
Kami tiba di lokasi setelah waktu Magrib. Saya,isteri dan kedua anak lelakiku, segera melaksanakan salat Magrib dilanjutkan Isya. Selesai shalat, tuan rumah mengajak kami makan malam di bagian rumah yang agak gelap. Saat itu saya kembali merasakan sebuah keganjilan, karena di ruangan lain memiliki penerangan yang cukup terang. Saya dan isteri hanya saling berpandangan dan mengikuti saja.
Rumah orang tua Andika, tempat kami menginap terbuat dari batu bata, tampak kokoh dan sederhana. Ketika masuk ke kamar mandi yang posisinya di bagian belakang, saya bingung mencari letak dapur dan perlengkapan masak memasak yang tidak kelihatan. Ini keganjilan kedua yang saya temukan di rumah itu.
Di sebuah ruangan yang gelap, ada seorang wanita tua yang duduk di tempat tidur kayu.
"Itu mamak." kata ibu Andika menjelaskan. "Dia sudah tidak mampu jalan, kakinya keseleo waktu terperosok masuk ke sumur." lanjutnya.
"Jatuh ke sumur?" tanyaku.
"Iyye jatuh masuk ke dalam sumur, di samping rumah."
Cerita itu terasa janggal, karena ketika saya mencoba meneliti sekeliling rumah, khususnya posisi yang ditunjuk sebagai letak sumur yang dimaksud oleh si Ibu, saya tidak menemukan sumur yang dimaksud. Itu keganjilan yang ketiga.
Sekitar pukul 21.00 WITA, saya teringat masih boleh memotret di sini. Saya mengarahkan ponsel ke pelepah daun nipa yang dijalin dan dipasang di balik pintu keluar rumah, lalu memotretnya. Saat itu tidak ada apa pun yang terlihat oleh mata telanjang saya kecuali daun dan pelepah nipa itu.
Maksud saya memotret benda itu, ingin menanyakan kepada tuan rumah, apa maksud dipasangnya di balik pintu. Namun ketika memeriksa hasil foto di layar, saya terkejut bukan main, tertangkap jelas ada sesosok bayangan hitam besar berdiri tegak, padat dan gelap persis di posisi yang tadi tampak kosong.
Saya memutuskan tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun, termasuk kepada isteri. Saya khawatir jika diketahui, hal itu bisa memicu kembali gangguan yang dialaminya. Saya menyimpannya sendiri dalam hati.
Keesokan paginya, saat kami duduk sarapan bersama, saya perlahan memberanikan diri bertanya kepada Puang Razak mengenai kejadian yang dialami isteri saya dalam perjalanan kemarin. Puang Razak mendengarkan dengan tenang, lalu menjelaskan.
"Di sini ada aturan tak tertulis. Kalau melihat sosok yang aneh atau tidak biasa, jangan pernah ditegur, jangan diajak bicara, dan sebaiknya diabaikan saja. Tidak jarang orang yang berani menegur justru mengalami celaka. Banyak kejadian mobil yang dikendarai di hutan karet itu tiba-tiba menabrak pohon, atau terperosok ke lubang, karena mata hatinya tertipu, mereka melihat jalan raya yang lurus dan ramai di depannya, padahal sesungguhnya itu adalah lubang besar atau rimbunan pohon lebat."katanya.
Ia kemudian bergidik pelan dan menambahkan, "Untung kalian selamat sampai di sini tanpa mengalami kecelakaan apa pun. Itu sudah pertanda baik."
Mendengar penjelasan itu, saya makin menyadari betapa dalamnya kearifan dan kekuatan gaib yang menyelimuti wilayah Kajang Luar ini, lalu bagaimana lagi dengan Kajang Dalam.
Meski lebih terbuka dan memberi kelonggaran, tempat ini tetap harus dihormati dengan sikap yang tepat. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga, bahwa memang ada hal-hal di dunia ini yang tak terlihat mata, namun nyata keberadaannya, dan butuh kebijaksanaan untuk menyikapinya.(ttp)
Baca ki Juga,
Perahu Pinisi: Warisan Maritim Bugis yang Diakui Dunia
Umpungeng : Posi’na Tana e, Pusat Kehidupan dan Situs Keramat di Pegunungan Soppeng


Komentar